
"Terimakasih Bu Ameera bisa berkunjung ke tempatku, kehormatan sekali buat kami semua jajaran The Rich Hotel."
Richard mengakui keanggunan seorang Ameera yang memang cantik diatas rata-rata. Sebagian kecil tubuh yang tidak tertutup pakaian syar'i nya begitu mulus seperti layaknya kulit bayi, muka unik begitu glow dan kinclong seperti melihat gelas Kristal dalam pajangan lemari hias.
Tak berhenti Richard mengakui mengagumi Ameera dari keseluruhan penampilannya. Dikira Ameera akan datang seperti pakaian ibu-ibu dengan pakaian longgar menutup semua anggota badan dan menyapu lantai, tetapi Ameera ini lain, datang dengan pakaian modis tanpa mengabaikan menutup aurat yang sebenarnya.
Kulot panjang slim fit senada dengan rompi panjang warna coklat menutupi pinggul, dengan dalaman tangan panjang coklat susu begitu serasi dengan kerudung yang di bikin simpel dan sepatu hak sedang memperlihatkan ujung kaki dan kukunya yang putih bersih terawat.
Richard menelan Saliva nya, tak berani menatap terlalu dalam ke arah Ameera.
Seperti melihat noni noni pada zaman Belanda yang hanya ada di dalam sejarah dan cerita, juga di gambar-gambar yang mengisahkan cantiknya putri raja-raja zaman itu.
"Sama-sama Pak Richard, saya juga senang berkunjung ke sini dan mendapat penyambutan yang begitu baik, sekali lagi terima kasih semoga kedatangan saya ke sini bisa menjalin silaturahmi yang lebih baik lagi, karena kita bertetangga sudah satu kewajiban menjalin hubungan baik khususnya dengan tetangga."
"Maaf Bu Ameera, apa itu satu kewajiban kah?"
"Ya, satu kewajiban menjaga silaturahmi baik sesama saudara Muslim atau atau non muslim sekalipun kita wajib saling menjaga hubungan baik. Maaf Pak Richard muslim?"
"Saya Muslim, tapi bukan muslim yang taat, heee ...."
"Alhamdulillah, jangan bilang bukan tapi belum, semoga kedepannya ada hidayah buat kita lebih baik lagi."
Deg! seperti di tonjok tangan begitu kuat tepat mengenai ulu hati Richard, sadar akan dirinya begitu dangkal pemahaman akan agama, selama ini hanya KTP saja yang mencantumkan kalau dirinya seorang muslim, tapi pemahamannya nol besar. Jangankan pemahaman agama begitu tidak memahami, aturan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari juga masih perlu pembenahan seperti silaturrahim pada tetangga, saudara dan sahabat.
"Kembali ke pembicaraan awal apa yang di sampaikan Benny saat datang ke tempat Bu Ameera?"
__ADS_1
"Baik, kenapa Pak Richard ingin sekali membeli dan memiliki lahan keluarga saya?"
"Karena saya ingin mengembangkan hotel ini, dan itu juga seandainya keluarga Bu Ameera berkenan."
"Terimalah kasih Pak Richard, atas penawaran dan penghargaan terhadap villa keluarga saya. Tetapi sepertinya keluarga saya tidak akan menjual vila dan lahan itu dikarenakan itu adalah warisan dari keluarga Bapak saya, yang seharusnya kami bisa menjaganya sebagai hadiah dan kenangan dari orang tua."
Ameera berhenti bicara. Richard memandang wajah cantik itu.
"Vila itu akan kami jaga sampai kapanpun sebisa mungkin, dan kalau mungkin kami akan mengembangkan mungkin suatu hari nanti akan saya bangun dan merubah status vila menjadi hotel."
Richard mengangguk, menundukkan kepala seperti menerima ini adalah kata final yang harus diterimanya.
"Apa Pak Richard masih ingin mengembangkan hotel ini?"
"Ya, ya ya ..., maaf Pak Richard, ini hanya ide saya, apa Pak Richard tidak tertarik pengembangan di tempat lain dan di bidang lain?"
"Maksud Bu Ameera?"
Benny yang sejak tadi duduk terkejut juga mendengar penuturan Amira yang menawarkan program pengembangan usaha terhadap Richard, walaupun dikatakan mereka baru kenal tetapi Benny menganggap Ameera memang berani juga dalam urusan bisnis.
"Saya lagi menggarap satu proyek Agrowisata keluarga saya dengan lahan kurang lebih ada lima hektar, tapi sudah ada kebun Melinjo dan Pala yang sudah di berdayakan, saya memang baru tahu proyek Bapak saya itu, karena saya jujur baru pulang lagi ke sini setelah saya merantau kurang lebih 3 tahun."
"Wow ... spektakuler banget Bu Ameera? lahan lima hektar?"
"Ya, saya menawarkan kerjasama luar biasa pada Pak Richard, seandainya Pak Richard bisa memikirkan dulu penawaran saya, kemungkinan pengembangan dari lahan itu bisa untuk apapun yang Pak Richard inginkan."
__ADS_1
"Benny, saya sangat tertarik proyek Bu Ameera. Saya pengen tahu di mana tempatnya dan sudah sejauh mana pembangunan objek agrowisata itu?" Richard begitu antusias.
"Iya, Bos!"
"Bu Ameera, sepertinya pertemuan kita tidak akan sampai disini saja mungkin nanti saya yang akan datang ke tempat Bu Ameera dan kita akan bicara lebih jauh lagi, dan mungkin saya bisa diajak untuk bisa melihat lokasi tempat agrowisata itu. saya ingin mengembangkan usaha saya yang lain selain di bidang perhotelan dan klub malam yang selama ini saya geluti."
"Boleh Pak Richard, saya tunggu, juga maaf bukannya nggak sopan saya harus pamit karena sudah Dzuhur saya biasa berjamaah dengan keluarga, jadi sekali lagi saya minta maaf dan saya pamit untuk kelanjutannya dan lebih santai nanti bisa ngobrol di tempat saya atau di mana saja kita bisa bertemu."
"Baik, baik Bu Ameera silahkan, semoga pertemuan kita berlanjut."
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Blurb :
“Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama
"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix
"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway
(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir)
__ADS_1