Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Partner lama


__ADS_3

"Gimana rasanya sekarang?"


"Tak bisa di ucapkan!"


"Apa ada tujuanmu di hari pertama menghirup udara bebas?"


"Tidak ada, hanya ingin rebahan tanpa pakaian dan menikmati setiap nafas yang Aku hirup! lalu tidur pulas!"


"Kamu tak akan bisa pulas tidur Zen kecuali Kita sudah sama-sama capek!"


"Hahahaha ... Tante bisa aja!"


"Jadi langsung aja ke tempat tinggal ku ya biar Kamu bisa melepaskan tembakan awal yang lama tak di pakai-pakai sepertinya menantang juga Zen!" Tante Diana tersenyum yang di mengerti Zen.


Entah seperti apa pengaruhnya Tante Diana bisa saja di manapun di instansi apapun dengan segala taktiknya selalu saja ada orang yang berpengaruh yang di kenalnya.


Zen dengan mudah bisa keluar dari jeruji besi walaupun tetap melalui prosedur yang berlaku seperti harus menjalani 2/3 hukuman dulu dan selebihnya entahlah, dua minggu waktu yang di janjikan akhirnya benar Tante Diana datang lagi dengan surat kebebasan Zen.


Peluk cium layaknya saudara atau suami istri menggambarkan kebahagiaan mereka.


Tante Diana bukan orang bodoh semua pasti ada tujuannya tidak sekonyong konyong membebaskan Zen tanpa tuntutan apapun.

__ADS_1


Zen tak perduli apapun keinginan Tante Diana yang terpenting Dirinya bebas dulu masalah lain nanti menyusul belakangan yang paling terbaca pasti butuh teman ngobrol dan selanjutnya teman tidur dan partner dalam bisnis.


Berdua jalan ke parkiran setelah semua administrasi di selesaikan, dengan luwes Tante Diana menggandeng tangan Zen yang tak satupun pakaian di bawanya seperti ingin membuang sial hanya bagian yang melekat di tubuhnya dan sedikit identitas yang bisa Zen bawa.


"Kamu masih ingat cara menyetir mobil Zen?" ucap Tante Diana sesampainya di parkiran.


"Cara dan gaya apapun masih ingat Tante!" jawab Zen sambil tersenyum menggoda membuat Tante Diana tersenyum sambil melempar kunci mobil pada Zen.


"Mau makan apa? Aku selalu menghargai seseorang di sampingku!"


"Baik, Aku yang menghentikan mobilnya saat sampai di tempat makan favorit ku!"


"Hahaha ..." tawa lepas Zen di balik kemudi begitu bergema di sela musik mendayu dari pusat pemutar musik dalam mobil itu.


Tante Diana juga tertawa dan Zen berhenti saat pangkal pahanya ada yang meremas perlahan.


"Tante merindukan Aku apa juniorku hem?" suara tercekat Zen merasa terbangkitkan dan membiarkan tangan itu piknik kini masuk dengan bebas.


Zen merasa sinyal itu yang di berikan Tante Diana kalau dirinya sangat di butuhkan sebagai partner.


Zen menjadi tidak fokus dengan sedikit gangguan tangan yang dengan bebasnya membangunkan juniornya yang lama tak bersarang.

__ADS_1


Karena tidak konsentrasi Zen meminggirkan mobilnya ke tempat teduh dan membiarkan sentuhan itu jadi kenikmatan bagi pengganggunya.


"Kok malah minggir?"


"Ah, Aku jadi tidak konsentrasi kalau sudah di ganggu!" jawab Zen meringis.


"Aku hanya nge-test saja, ternyata setrumnya masih kuat," kilah Tante Diana sambil tersenyum.


"Jalan lagi Zen cari tempat makan dulu baru makan yang lain!" Tante Diana seperti mulai menantang Zen.


Zen memicingkan matanya membayangkan akan membuat Tante Diana terkulai tepar karena itu yang di harapkan darinya.


Pengalamannya dulu benar benar terkuras tenaganya mengikuti keinginan Tante Diana sampai merasa puas, apapun akan di berikannya kalau merasa senang dengan seseorang.


Entah bagaimana ceritanya dan dari kapan Tante Diana pulang dan sendiri lagi setelah kabar terakhir menikah dengan bule Australia dan ikut ke sana. Hanya cerita di awal pertemuannya saat besuk di sel 'Aku sendiri Zen!' mendengar kabar Kamu ada di sini Aku merasa empati dan kangen merasakan berdua lagi.


Segitunya kalau sudah menginginkan seseorang?


*******


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2