
"Rich apa Kamu senang Kita nginep di sini?" tanya Ameera sambil mengusap pipi Richard yang memejamkan matanya menikmati belaian istrinya.
Richard diam dan membiarkan Ameera memainkan hidung juga bibirnya.
"Rich! Kamu tidur nggak?" tanya Ameera lagi.
Richard membuka matanya dan memandang wajah cantik tanpa kerudung di hadapannya sama dalam posisi tiduran berhadapan.
"Kenapa Kamu bicara begitu Sayang? tentu senang asal ada Kamu di sini. Kamu tahu kan kalau Aku tak bisa hidup tanpa Kamu," ucap Richard mengusap sebelah pipi Ameera.
"Apa yang membuat Kamu bahagia Rich?" tanya Ameera lagi senyum memperlihatkan giginya yang rapi berjejer pada tempatnya.
Richard tersenyum lalu mengecup bibir Ameera sambil kedua tangannya merangkum muka Ameera.
"Yang membuat Aku bahagia adalah Kamu Ameera!" jawab Richard mengusap rambut Ameera yang ombak di bawah pundaknya.
"Lalu kenapa Kamu tak pernah bertanya apa yang membuat Aku bahagia Rich?" jawab Ameera.
"Karena Aku tahu selama bersamaku selamanya Kamu Akan bahagia jadi Aku tak akan bertanya lagi Ameera Sayang, Aku menjamin hidup kamu dan buah cinta Kita akan bahagia selamanya," jawab Richard dengan keyakinannya.
Ameera tersenyum sambil mengusap-usap pipi suaminya.
"Sombong sama pede banget Papamu Sayang. Aku akan bahagia kalau Kita bisa mempertahankan kebahagiaan ini." Ameera seakan membenarkan jawaban suaminya. Ameera mengelus perutnya diikuti Richard sama mengelusnya.
"Apapun yang membuat Kamu bahagia akan Aku lakukan Ameera, hidupku hanyalah untukmu dan buah cinta Kita ini. Sehat selalu ya biar Kita bisa saling bahagiakan seperti sekarang ini."
Ameera mengangguk dan Richard kembali mengecup bibir menggemaskan itu dan tak bosan menyesapnya.
"Sudah mau tidur?" tanya Richard sambil membelai rambut Istrinya.
"Aku masih mau ngobrol."
"Bisa dong kalau Kita mengisi malam ini di kamar villa kesayanganmu dengan satu kegiatan malam?" tanya Richard sambil nyengir sendiri.
"Boleh nggak kalau pagi saja? Aku lelah Sayang tapi kalau mau sekarang prasmanan sendiri tapi hati-hati aja," jawab Ameera merasa telah banyak hari ini dirinya melayani keinginan suaminya. Tapi kalau sudah memulai enak-enak aja.
"Ya sudah pagi aja ya kalau Kamu lelah sini biar Aku usap-usap perutnya."
"Kamu marah nggak Sayang?"
__ADS_1
"Enggak kok, harusnya Aku yang tahu diri Kamu sudah memberi lebih hari ini tapi kenapa jagoanku seakan menagih aja." Richard memeluk Ameera menenggelamkan mukanya di dadanya yang berbulu sekan ingin memberi kenyamanan dan rasa tenang saat Ameera mau tidur.
"Rich, Aku melihat Aliyah Adikku kelihatan begitu muram tadi siang Aku tak sempat bertanya apapun karena terburu-buru, Akhir-akhir ini Aku memang jarang komunikasi secara pribadi hanya bertanya soal pekerjaan saja kadang Aliyah juga yang menelepon duluan sekedar bertanya tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya."
"Itu hanya pandanganmu saja Sayang, mungkin Adikmu sudah capek."
"Aku jadi membebankan pekerjaan itu pada Aliyah padahal Dia masih kuliah, Aku begitu sibuk dengan kehamilan ini bahkan jarang pulang ke rumah juga," ucap Ameera seakan menyalahkan Dirinya.
"Kewajibanmu sekarang ada di sampingku Sayang apalagi sedang hamil, orangtuamu juga pasti mengerti kok, sudahlah jangan jadi pikiran nanti Kamu malah tidak tenang," ucap Richard sambil menepuk-nepuk pipi Ameera perlahan.
Ameera diam mulai merasakan kontraksi perutnya yang sedang di usap-usap Richard dan mulai ada selentingan sakit perut.
Mungkin tadi banyak makan dan ada yang pedas itulah pikiran Ameera.
Ameera melirik Richard sudah tidur pulas di sampingnya malah Ameera yang hilang rasa kantuknya berusaha memindahkan tangan Richard dari perutnya dan Ameera mencoba bangun selentingan sakit di perutnya masih tetap ada.
"Ya Allah apa ini gejala awal mau lahiran?" Ameera berusaha tenang walau sekarang dirinya sama Richard berada di villa jauh dari pemukiman dan orang tuanya.
Waktu menunjukkan jam 23:15 Ameera masih saja belum bisa memejamkan matanya hanya sekejap sekejap bisa tidur lalu terjaga lagi sambil bersandar pada bantal yang di tumpuk tinggi dan sesekali menunggu takut mulas mau ke kamar mandi tapi sepertinya bukan.
Menjelang Adzan shubuh Ameera membangunkan suaminya dan menyampaikan keluhannya.
"Sayang kenapa? apa perutmu sakit? mulas? kenapa nggak bangunkan Aku dari tadi? sudah berapa lama terasanya?" Richard langsung saja memberondong Ameera dengan semua pertanyaan.
"Richard, Aku baik-baik saja. Sekarang Kamu ke kamar mandi dulu cuci muka biar segar. Terasa perutku mulas mulai selentingan saat mau tidur makanya Aku menolak saat Kamu minta semalam. Kita ke Rumahsakit sekarang karena mungkin ini awal mulas mau melahirkan." Dengan ucapan lembut Ameera Richard menjadi sedikit tenang.
"Kenapa tak bilang dari semalam? biar Kita langsung ke Rumahsakit?"
"Richard melahirkan itu ada prosesnya tenang saja tidak saat mulas langsung brojol lahiran makanya Aku rasa-rasa dulu takutnya mulas salah makan tapi feeling Aku bukan." Ameera memberi pengertian pada Richard yang tetap saja panik sambil masuk kamar mandi sebentar lalu keluar lagi melap mukanya dengan handuk melemparnya sembarangan dan berpakaian tanpa bicara menanggapi ucapan istrinya.
"Apa orangtuamu kabari sekarang?"
"Jangan, Kita saja yang ke Rumahsakit jangan bikin panik yang lainnya."
"Apa yang Aku harus bawa?"
"Kalau dari sini nggak ada semua perlengkapan bayi ada di rumah Kita yang di hotel itu."
"Ya sudah nanti diatur, ayo sudah siap hati-hati turunnya." Richard merengkuh pinggang Ameera dan berjalan perlahan menuruni anak tangga.
__ADS_1
Paniknya Richard terlihat karena mungkin menyesal menyetujui istrinya yang ingin menginap di villa nya, Richard jadi khawatir akses ke Rumahsakit begitu lumayan jauh kalau dari villa tapi semua sudah kejadian yang ditakutkannya ternyata benar-benar sekarang yang dihadapinya Amira terasa perut saat mereka nginap di villa mereka.
Richard menjalankan mobilnya dengan hati-hati sambil melirik terus pada Ameera yang berkeringat di sampingnya tanpa bicara.
"Sayang masih sakit perutnya?"
"Iya Rich, malah tambah jaraknya semakin tidak ada jeda."
"Ya Allah, tahan ya Sayang pejamkan matamu bayangkan hal-hal yang indah saja sambil berdo'a ini sudah masuk jalan raya sebentar lagi sampai."
"Iya Sayang, hati-hati bawa mobilnya."
Ameera semakin kelihatan kesakitan saja sambil memegang perutnya, Richard menginjak gas dan mobil melesat di jalan yang kosong, Richard tak ingin ambil resiko bagi istrinya asal sampai Rumahsakit bagaimanapun caranya.
"Aww! Rich pelan dikit bawa mobilnya Aku takut!"
Richard tak hirau tetap saja hatinya ingi segera sampai ke Rumahsakit.
Dengan berdecit roda ban di aspal lalu belok ke arah parkiran Rumahsakit Richard teriak memanggil satpam penjaga palang pintu yang terkantuk-kantuk di post jaganya.
"Sabar Pak, kenapa ada yang darurat?" ujar satpam itu sambil mengucek matanya.
"Bukan darurat lagi pokoknya cepat buka!"
Richard menjalankan mobilnya dan langsung ke parkiran membuka pintu berlari keluar lalu membuka pintu sebelahnya dan membopong tubuh Ameera yang meringis.
"Pak, mobilnya belum di kunci!biar Aku ambilkan kursi roda!" seru satpam itu.
"Cepat buka pintu! biar cepat sampai dan istriku cepat di tangani!" teriak Richard pada satpam yang malah bingung.
"Ya ya ya..."
"Mana ruangan bersalin?"
"Sini Pak!"
Seisi Rumahsakit jadi panik merasa terganggu dengan teriakan Richard, tapi Richard tidak perduli asal istrinya bisa cepat di tangani.
*******
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️