
"Tujuan Tante datang lagi ke sini ada bisnis atau tujuan lain?" tanya Zen saat mereka sarapan berdua duduk di meja makan bersebelahan, semua di sediakan pembantu yang merawat rumah itu datang pagi pulang sorenya.
"Tujuanku ya pulang ke rumahku sendiri dengan satu tujuan lagi yaitu Richard, Aku kangen gesekannya tapi semua sudah berubah. Di Hotelnya Aku tunggu sampai satu minggu tak datang juga terakhir datang dengan kata-kata sok alim intinya menolakku malah menawarkan duit dikira Dia saja yang punya duit? Dia mengatakan sudah berubah, menikah punya istri dan Anak benarkah itu Zen?" tanya Tante Diana sambil menyuapkan makanan pada Zen.
"Menikah benar, dan kini punya Anak mungkin karena saat Dia menikah Aku masih bergabung dengan The Rich Hotel dan Aku termasuk orang yang diundang pada resepsi pernikahannya baru setelah itu kejadian yang menimpaku karena mata-mata Si brengsek Benny yang mengacaukan hidupku cuma sampai situ Aku tahunya."
"Waw! Si Richard akhirnya menikah bisa juga Dia berubah haluan hidupnya, setelah Aku tak ada tujuan lain dan teman luar dalamku yang kepikiran Kamu Zen. Lalu cari tahu kabar Kamu katanya di balik jeruji aku pastikan benar dan Kita Akhirnya bisa pesta semalaman!" Tante Diana melirik Zen yang duduk sarapan bertelanjang dada sarapan pagi itu hanya mengenakan celana boxer saja. Sedang Tante Diana hanya mengenakan lingerie tali kecil sepaha dengan leher begitu rendah sehingga hanya setengah dada yang tertutup bagian bawahnya saja.
Zen tersenyum menyeringai mendengar cerita Tante Diana.
"Tante ada rumah juga ternyata."
Zen mulai mengoles roti dengan selai kacang.
"Sebodoh bodohnya orang harus ada investasi dan itu yang akan Aku bicarakan denganmu Zen, Kita mulai bisnis dan Kamu juga mulai dengan keinginanmu atau mau meneruskan usaha yang pernah Kamu rintis sebelumnya? Aku modalin semuanya hanya Aku perlu pelindung di sisiku baik buat bisnisku juga selimut yang menghangatkan tidurku!" Suara manja Tante Diana membuat Zen merasa tersanjung.
"Hahaha ... tentu saja Tanteku Sayang, Aku sangat siap dan malam tadi adalah awal permulaan manis semuanya! gimana puas dengan pelayananku Tanteku Sayang?" Zen merapatkan lengannya ke lengan Tante Diana yang duduk berdempetan.
__ADS_1
"Luar biasa Zen, Aku suka banget itu semua kesukaanku." Senyum Tante Diana begitu mengembang.
Zen mengambil botol minuman yang ada di meja dan membukanya lalu menuang minuman itu ke belahan dada Tante Diana sedikit demi sedikit yang belahan depannya begitu rendah dan tak ber-pengaman, Zen menumpahkan minuman itu di dada Tante Diana sambil tertawa dan Tante Diana menjerit kecil karena kaget. Zen tertawa terkekeh saat Tante Diana mengangkat kedua tangannya. Zen berdiri sambil membuka pakaian yang di kenakan Tante Diana dengan perlahan lalu menjilati minuman itu yang basah sampai bawah perutnya.
"Zen Kamu nakal juga ternyata, di kira mau ngerjain Aku ternyata Kamu bisa banget nge-prank, ah Zen ...." Tante Diana mendesah sambil masih duduk di kursi makan.
Zen dengan luwes berada di belahan dada yang basah dengan minuman itu pakaian tidur Tante Diana sudah terlepas menampakkan tubuh putih mulus terawat dan dada yang begitu subur menantang di hadapannya.
"Aku mau sarapan yang berbeda Tante Sayang, yang tak Aku temui di balik penjara dari kemarin!" Lidah panas Zen begitu agresif seperti anak yang baru nemu mainan baru tak mau melepaskannya.
Kegilaan Zen tak sampai di situ saja tapi sanggup membuat Tante Diana pasrah dalam permainan yang di dominasi Zen.
Zen mengusap bawah perut tante Diana yang basah juga tapi semua tak luput dari jilatannya membuat gejolak hebat bagi keduanya.
Setelah puas mulut Zen di bawah perut Tante Diana, Zen menatap nanar tubuh yang memberinya kepuasan setelah sekian lama waktu tak bisa melakukannya walau dalam khayalannya tubuh Annet yang dirinya bayangkan tapi ada Tante Diana yang sama-sama butuh dan lebih bisa saling memberi dan menerima.
Zen memuaskan Dirinya dengan gagahnya membuat Tante Diana kagum dan megap megap dengan kekuatan permainannya.
__ADS_1
"Mau juga junior rasa anggur Tanteku Sayang?" bisik Zen sambil mengambil lagi botol minuman itu dan di kucurkan pada juniornya yang telah maksimal ukurannya dan sudah tanpa pelindung. Kursi makan akhirnya jadi berantakan.
"Ah, Zen Kamu gila pagi ini!" Tawa Tante Diana berderai di suguhi cara bermain Zen.
Mereka menuntaskan di kursi makan itu juga dalam posisi sulit di gambarkan, dengan perkasa Zen menumpahkan cairan kenikmatan ke sekian kalinya membuktikan kalau dirinya bisa diandalkan dalam hal apapun.
Tante Diana merasa ini permainan gila tapi dirinya begitu suka berkali kali juga melakukan pelepasan puncak sesuatu yang jarang dirasakan, di manapun bersama Zen bisa melakukannya kini dan permainannya sangat sangat ekstrim dan luar biasa.
"Zen Aku suka Kamu Sayang," bisik Tante Diana sambil bangkit dari posisinya dan langsung memeluk Zen yang masih memerlukan oksigen untuk menormalkan nafasnya.
"Aku akan selalu ada Tante!"
"Makasih Zen, Kamu telah memuaskan Aku dari semalam dan pagi ini." Zen mengangguk sambil memakai kembali celana boxer nya dan memakaikan kembali pakaian Tante Diana yang terlihat begitu kecapaian.
"Mandi yuk, terus Kita jalan-jalan cari angin."
Tante Diana mengangguk sambil menyandarkan badannya di bahu Zen mengelus badan kekar yang basah dan berpeluh.
__ADS_1
********
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️