
"Richard ini Ibuku nengok kamu, kamu tidur apa nggak itu? masih sakit nggak?" Ameera mengusap tangan Richard, setelah Ameera dan Ibunya masuk diantar Hanna.
Richard membuka matanya yang masih sembab sebelah mengamati siapa yang ada di samping tempat tidurnya.
"Oh ya ampuuuuun, Ibu maaf saya ketiduran habis minum obat, saya jadi ngerepotin, Hanna! tolong ambilkan kursi buat Ibu Haji sama Ameera." Hanna datang menarik kursi ke samping tempat tidur Richard.
"Enggak sama sekali nggak ngerepotin, istirahat saja jangan bangun dulu."
"Ameera bisakah aku minta tolong bantu aku mau duduk?"
"Ayo sini, gimana? badan kamu gede banget sepertinya malah aku yang nggak kuat menarik kamu."
"Aku ikut pegangan saja mana tanganmu, biar badanku yang bangun perlahan."
Ameera memegang tangan kekar Richard yang berusaha bangun dan duduk, tangan lembut Ameera dan tenaganya memang tak sebanding dengan tubuh Richard yang berpostur tinggi gede, malah Ameera yang berpegangan erat pada tangan Richard.
Richard tahu Ameera tak akan mampu, malah tersenyum wangi parfum Ameera begitu menyeruak di hidung Richard, kalau tak ada Ibunya pasti Richard sudah menarik tubuh Ameera ke pelukannya, itu akan lebih dari bermacam obat buat kenyamanannya dan juga kesembuhannya.
"Richard! aku nggak bisa!"
"Nggak apa-apa, bersender begini juga sudah enak, tolong kasih bantalan belakang punggungku."
Ameera menaruh bantal di belakang punggung Richard, kelihatan Richard mulai nyaman.
"Sudah enak sekarang?" tanya Ameera menatap Richard.
"Enak banget, makasih sayang."
Ameera tak menjawab merasa malu sama Ibunya yang dari tadi melihat Ameera membantu dengan telaten keinginan Richard.
"Nak Richard, Ibu tak habis pikir kenapa sampai kamu di serang orang tak di kenal? Ibu khawatir takut semua ini adalah buntut dari permasalahan anak Ibu Ameera." ucap Haji Salamah setelah melihat Richard bersender dengan tenang.
"Tak apa Ibu, semua telah terjadi aku juga merasa bersalah. Kalau memang ini adalah balasan dari kemarin aku main pukul juga sama orang saat Ameera terpojok, tapi aku hanya melindungi Ameera, tak punya dendam apapun juga tak punya kebencian apapun pada orang lain."
"Ambil hikmahnya saja, mungkin sebelum kalian bahagia harus ada ujiannya dulu."
"Betul Ibu, hikmahnya aku nggak harus ke Bandung tapi keluargaku yang akan tiba malam ini, aku tak sabar mengenalkan Ameera pada kedua orangtuaku dan saudaraku."
"Alhamdulillah, kalau hati Nak Richard tidak punya dendam memang sebaiknya begitu berpikiran positif saja dan ambil hikmahnya dari semua kejadian itu lebih baik dan akan menenangkan hati kita, lebih baik kita introspeksi diri menjadikan diri kita lebih baik lagi."
"Ibu, ada bahagia lain yang saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata, saat saya masuk di terima di keluarga Bapak Haji Marzuki itu membuat hati saya luluh terhadap apapun, mungkin juga karena Ameera yang begitu aku cintai."
"Bersabarlah, semua akan sampai pada apa yang kalian cita-citakan."
"Aku jadi malu, pada semua orang seolah aku orang yang tidak bisa jaga diri." tangan Richard meraih tangan Ameera.
"Kenapa harus malu? itu semua kecelakaan."
"Pak Haji tahu semua yang terjadi padaku Bu?"
"Bapaknya tadi pergi dari sore ke Yayasan sama Pak Bagas, katanya mau ada kunjungan pejabat, Ibu nggak sempat bilang jadi Ibu nggak bisa lama di sini, semoga cepat sembuh dan sehat kembali, kalau Nak Ameera masih mau di sini silahkan saja temani Nak Richard, tapi pulangnya jangan malam-malam ya."
"Makasih Ibu, aku memang perlu teman ngobrol." Richard begitu senang.
"Biar aku antar Ibu pulang dulu." sela Ameera.
"Jangan! Biar Hanna saja yang antar Ibu pulang." tolak Richard.
__ADS_1
"Ibu, nanti akan ada orang yang antar Ameera pulang, Ibu jangan khawatir, takutnya orangtuaku dari Bandung datang tak lama lagi, jadi aku bisa mengenalkan Ameera pada mereka."
"Iya, Nak Richard, Ibu permisi dulu."
Hanna mempersilahkan Ibu Haji Salamah pulang dengan mendampinginya dan meninggalkan Richard sama Ameera berdua.
"Ameera sayang bisa tambah bantal di kepalaku? aku mau bersender lebih tinggi lagi biar enak ngobrolnya."
"Sini badan kamu ke depan dulu sedikit, ini sudah tinggi mau gimana lagi?"
"Aku hanya mau memeluk kamu sayang dari tadi wangi parfum kamu begitu menggoda aku."
"Richard! nanti ada orang!"
"Aku sudah mengunci pintunya!"
"Ah, Richard apa-apaan sih? kamu lagi sakit harusnya istirahat bukan malah banyak tingkah aneh-aneh!"
Richard malah tertawa di dada Ameera yang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Beri aku ciuman, baru aku lepaskan!"
"Richard!"
"Apa?"
"Kamu ini kenapa sih?"
"Aku kangen Ameera!"
"Oke lepaskan dulu nanti aku beri kamu ciuman sayang, aku nggak enak di sini berduaan, tolong lepaskan!"
"Apalagi di kunci aku malah nggak enak! kita berdua di sini akan mendatangkan fitnah!"
"Oke, aku lepaskan mana ciumannya?"
Ameera mencium pipi Richard dengan perlahan, tapi Richard tak terima, itulah Richard selalu meminta lebih dan tak ada kata puas.
"Kok di pipi sih?"
"Maunya di mana? di perut?" tukas Ameera agak jengkel.
"Bawah perut dikit boleh!"
Ameera mencubit kedua pipi Richard, tapi Richard malah cengengesan seperti mendapat mainan baru.
Richard meraih tangan lembut itu menaruhnya di pundaknya, Richard yang memakai piyama tidur dengan kancing terbuka memperlihatkan dadanya yang berbulu, sesaat Ameera terpana, ternyata Richard bisa bangun dan memeluk dirinya perlahan.
Tanpa kata semua terjadilah, ciuman lembut yang diinginkan Richard berubah menjadi agak panas sampai Ameera berontak sendiri dan mendorong tubuh kekar yang menguasainya.
"Stop Richard! jangan! kenapa kamu selalu menuntun aku pada hasrat terlarang? tak bisakah kita sabar menanti semuanya halal? aku marah sama kamu! kamu lagi sakit juga banyak ulah bukannya istirahat."
"Maaf Ameera aku tak bisa menahan diri, kangen banget sama kamu, dan wangi kamu begitu membangkitkan gairahku."
"Sudah tiduran lagi kapan sembuhnya kalau begini?"
"Aku sudah sembuh, kasih ciuman satu kali lagi juga sembuh!" Richard cuek saja menanggapi marahnya Ameera.
__ADS_1
"Kamu itu manja banget tahu!"
"Tapi manjanya hanya sama kamu sayang, kalau sama Ibu kamu nanti Bapakmu marah."
"Sudah ah, minum obat tidurnya biar kamu tenang."
"Kalau ada kamu aku bisa tenang, nggak perlu obat."
"Alah alah, alasan kalau ada aku malah kamu semakin liar. Sudah pakai selimutnya sini tangannya aku usap-usap."
"Boleh minta usap yang lain jangan di tangan?"
"Jangan mulai, kalau nggak nurut aku pulang nih."
"Iya, iya. aku nurut sama nyonya Richard."
"Richard, ada hal yang ingin aku bicarakan tentang Pak Bagas."
"Maksudnya apa? soal di proyek?"
"Sepertinya dia belum tahu apa tak mau tahu tentang hubungan kita dan kedekatan kita, dia menyatakan perasaannya padaku tadi pagi saat aku menyampaikan perubahan di vila itu."
"Apa? terus kamu jawab apa Ameera?"
"Aku belum jawab."
"Kenapa tak kamu jawab?"
"Aku tak punya kesempatan."
"Aaaaaaah! Itu sudah aku duga sejak awal!"
"Kamu marah?"
"Ya, aku marah!"
"Salah aku apa?"
"Kamu nggak menolaknya, jadi seakan dia di beri harapan!"
"Richard, aku mencintaimu. Kenapa harus marah? tak akan ada perasaan apapun buat Pak Bagas dari hatiku, apa kamu tak percaya padaku? sungguh aku tak punya kesempatan karena aku tidak konsentrasi ingin segera melihat kondisi kamu, aku begitu khawatir ingin segera tahu keadaanmu, tadi juga aku beralasan sakit kepala lalu aku bisa pulang buat istirahat."
"Aku tak senang orang lain ada yang suka sama kamu!"
"Kamu itu lucu dan kekanak-kanakan, tak bisa seperti itu, orang lain mencintaiku, suka padaku lalu apa urusannya denganku? biarkanlah itu hak mereka yang penting aku tak memberi harapan aku tak bisa mengubah perasaan orang lain!"
Richard diam, Ameera juga diam.
"Maafkan aku Ameera, aku terlalu mencintaimu. Aku telah salah dalam memandang cintamu, tak seharusnya aku arogan dan egois seperti ini."
"Tenangkan hatimu, berserah diri dengan hati yang ikhlas jangan sedikit-sedikit emosi, karena perasaan emosi akan membawa kita pada penyesalan."
Richard memejamkan matanya, meresapi setiap kata-kata Ameera yang terasa begitu damai di hatinya.
******
Sambil menunggu up Masa Lalu Sang Presdir baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun juga beri hadiah 🙏
__ADS_1