Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Sakit jatuh cinta


__ADS_3

"Hanna jemput dokter Farid, dokter pribadi Bos sekarang juga, aku menemani Bos di tempat tinggalnya cepat!" Benny datang dengan terburu-buru langsung memberi perintah.


"Emang ada apa Bang? Bos kenapa? sakit, mabuk?"


"Pokoknya Bos sakit, aku juga kurang jelas sakitnya apa, pokoknya jemput dokter harus ke bawa sekarang, Bos buang-buang air sama muntah-muntah."


Benny setengah berlari kembali lagi ke tempat hunian Richard.


'Hadeuuuuuuuh ... sepertinya mabuk lagi tuh orang!'


Hanna ngedumel sendiri sambil bangkit meraih kunci mobil.


'Mabuk bikin repot semua orang, giliran enaknya di nikmati sendiri.'


Hanna memasuki mobil dan mulai men-starter mobil lalu perlahan melaju.


'Kenapa tidak di telephon saja? yang lebih praktis dan gampang, ah ... Abang Benny kadang otaknya nggak jalan, bujang lapuk mikirin apa?''


Hanna anteng dalam perjalanannya, dalam ingatannya yang terlintas wajah simpatik Benny yang entah menganggap dirinya seperti apa, kadang mengusap punggungnya kadang terlihat sedang memandang dirinya begitu lama, kadang mengucek kepalanya seperti pada anak kecil.


Pekerjaannya sehari-hari mengharuskan Hanna dan Benny selalu bertemu. Hanna yang bertugas begitu banyak tidak hanya satu pekerjaan saja, entah seperti apa Richard sudah menganggap dirinya, Benny Richard dan dirinya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.


Hanna punya tugas istimewa sampai tahu kunci kode kamar Richard, selain tugas utamanya mengontrol keseluruhan pekerjaan operasional di dalam hotel, baik itu di dapur, keluhan karyawan sampai ke kebersihan dan laundry pakaian dan properti hotel lainnya ada dalam pengawasan Hanna.


Marketing sama security yang tak pernah di masuki nya. Kalau pembukuan Hanna masih suka ikut bertiga Rich, Benny sama dirinya.


Juga soal semua cewek-cewek yang Richard kencani Hanna tahu, siapa dan orang mana.


Sebenarnya apa sih profesi Hanna? kok seperti di semua sektor ada sangkutan dirinya?


Hanna sendiri juga tidak tahu tetapi Richard menempatkannya seperti itu. Bahkan terkadang Hanna berpikir apa dirinya mata-mata pribadi Bos Richard? bisa dibilang juga begitu lebih mendengar keluhan karyawan adalah juga menampung masukan yang bagus untuk bisa didengar langsung sama atasan.


Hanna enjoy aja menjalaninya, keperluan pribadi Richard adalah yang utama, dari mulai kebersihan tempat tinggalnya menguras kolam renang mengurus pakaian dan segala ***** bengek nya sampai kepada pribadi Richard sendiri adalah menjadi tanggung jawab Hanna walau bukan tangannya sendiri yang mengerjakannya.


*****


"Bos apa yang di rasakan?" Benny kelihatan cemas berdiri di samping tempat tidur Richard.


"Gue salah makan! perut gue nggak terima!"


"Astagfirullah, bukan kah Bos selalu selektif kalau soal pemilihan makanan? tidak sembarangan makan sesuatu di luar sana kecuali produk kita, dari dapur hotel dengan koki handal yang sudah jelas Hanna yang mengaturnya tahu selera Bos sendiri."


"Pokoknya telephon lagi Hanna biar cepat datang bawa dokternya, gue mules banget sudah lemas gini!"


"Iya aku telephon lagi enggak diangkat-angkat mungkin lagi di perjalanan tanggung, sebentar lagi mungkin, sabar."


"Gue seperti keracunan Benny! tolong telepon Ameera sama adiknya tanya juga kondisinya, gua takut dia juga sakit seperti yang gue rasakan saat ini."


"Kok Ameera sih? bukankan Bos habis bertemu teman lama Pak Jody itu?"

__ADS_1


"Iya, tapi habis itu gue ketemu Ameera di Mall sama adiknya, gue ajak makan bareng, aduh pokoknya gue yang salah ngapain ikut makan pilihan mereka yang pedesnya setengah mati!"


"Makan apa?"


"Spaghetti Mozarella pedasnya level seratus kali."


"Haaa ... begitu toh ceritanya?"


"Gue telephon Annet aja ya? siapa tahu jadi obat Bos"


"Nggak, nggak! gue sudah nggak hidup bareng lagi sama dia, gue mau memulai perubahan, gue kalau nggak perlu banget nggak bakal hubungin Annet lagi, kecuali gue nggak tahan. Tapi gue sudah punya niat untuk berubah."


"Wah, wah, wah reformasi total rupanya? dapat wangsit dari mana? juga Ilham apa? yang membuat Bos begitu drastis berubah? apa karena sekarang lagi sakit hingga kesadaran itu datang kalau Bos itu memerlukan seseorang yang bisa saling mengerti tanpa embel-embel seperti dalam perjanjian?"


"Gue nggak tahu Benny, gue tahu status Ameera sekarang nggak harus nyuruh lo mencari tahu! dia pernah gagal berumahtangga dan dikecewakan oleh suaminya, belum lama pulang ke sini berumah tangga kurang lebih 3 tahun semoga dia tidak trauma."


"Selamat! selamat Bos Richard!"


"Apaan maksud lo kasih gue selamat? memangnya gue ulang tahun apa?"


"Aku kasih selamat karena Bos sudah melangkah ke arah jalan yang benar, walau belum teruji!"


"Sialan lo! pakai belum teruji segala emang sekolah ada ujiannya segala heh?"


"Iya lah harus kasih selamat, semoga tujuan Bos berhasil dengan selamat!"


"Gue bilang telepon Ameera tanya takutnya dia sakit!"


"Karena dia tadi makan percis menu seperti yang gue makan, lo jangan banyak omong cepat telephon gue jadi nggak tenang!"


"Siap Bos!" Benny meraih ponselnya dari dalam saku celananya dan mulai melakukan panggilan.


Benny menelephon Ameera di hadapan Richard, otaknya berpikir apa yang pertama akan di ucapkan nya.


"Nggak di angkat Bos, mungkin lagi sibuk."


"Coba lagi, dan lagi. Kalau nggak bisa lo datang ke villanya pastikan dia baik-baik saja!"


"Maksud Bos?"


"Lo nggak dengar perintah gue apa? sejak kapan gue harus memberi perintah berkali-kali pada lo Benny?" Richard meringis menahan sakit perutnya, dan kelihatan agak gusar melihat Benny yang hanya planga plongo.


"O-ok oke Bos aku faham."


'Ada angin apa dengan Bos saat ini? ' Benny melakukan panggilan berkali-kali tapi tetap sama tak di angkat.


'"Masih nggak diangkat Bos!"


"Sudah lo datang ke sebelah, lihat kondisinya!"

__ADS_1


"Baiklah!" Benny keluar dengan agak terburu-buru meninggalkan Richard yang masih saja meringis.


Di luar bertemu dengan Hanna dan dr Farid di belakangnya.


"Bang, gimana keadaan Bos?"


"Masih seperti tadi, masuk saja langsung!"


"Bos sebenarnya sakit apa?"


"Mungkin jatuh cinta, atau kejatuhan cinta."


"Apa maksudnya?"


"Pokoknya lo akan tahu nanti juga, gue keluar dulu!"


Hanna masuk dengan beribu tanda tanya, didampingi dokter Farid yang kelihatan mesem-mesem menahan tawa.


"Keluhannya apa Pak Richard?" Dr Farid mulai memeriksa Richard yang berbaring di tempat tidurnya.


"Mules luar biasa dok, sama buang air sudah berkali-kali. Sepertinya saya tadi salah makan, saya ikut-ikutan teman yang memesan makanan sangat pedas, karena saya juga sudah memesannya terpaksa saya memakannya walaupun tidak habis langsung saja perut saya berontak dok."


"Ya, kalau tidak terbiasa pasti akan begini, ini namanya keracunan dari rasa pedas itu tadi, tindakan awal yang mengalami hal seperti ini harus di netralisir dulu perutnya. Coba Ibu Hanna bikinkan susu kalau bisa susu murni hangat bawa ke sini."


Hanna bangkit beranjak menuju dapur, selang beberapa saat datang dengan satu gelas susu hangat, lalu menyodorkannya pada Richard.


"Minumlah, sedikit demi sedikit kalau sudah normal Bos bisa makan dulu biar bisa minum obat dan istirahat semoga tidak berlanjut sakitnya."


Hanna dengan telaten memperhatikan Rich minum susu hangat, dan menarik selimut menutupi tubuh Richard.


"Saya kasih resep bisa ditebus di apotik. Sementara hanya seperti itu analisa awal jelas itu karena keracunan tidak ada hal apa-apa kalau sudah dinetralkan dengan susu nanti juga akan sembuh dengan sendirinya."


Baiklah saya permisi dulu, dr Farid meninggalkan resep di meja sofa.


******


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



Judul : Heavanna


Napen : SRN 27


Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zia memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.


"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.


"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"

__ADS_1


"Apa aja?" tanya Zia.


"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.


__ADS_2