
Pelayan datang membawa buku menu, Richard memberi kesempatan pada Ameera juga Aliyah untuk memilih menu, Richard menikmati wajah teduh Ameera yang anteng membuka-buka buku menu dan memilih sesuai seleranya.
"Saya sudah, tinggal Pak Richard yang belum memilih." Ameera menyodorkan buku menu pada Richard sambil memandangnya tapi Richard menolaknya tersenyum melihat wajah Ameera yang keheranan.
"Saya samain aja sama pilihan Bu Ameera, nggak apa-apa, yang di pilih Bu Ameera pasti saya suka dan akan saya makan!" Richard bicara sama pelayan di sambut dengan anggukan dan membungkuk pelayan itu.
"Lho kok begitu Pak Richard? nanti makanan yang saya pilih nggak cocok sama pak Richard?"
"Pasti cocok, tenang saja!"
Aliyah tersenyum, mendengar jawaban Pak Richard, Aliyah mengernyitkan alisnya sama Kakaknya Ameera bersemu merah kedua pipinya.
"Bu Ameera maaf tadi waktu saya tanya kok nggak sama pendamping perginya, Bu Ameera menjawab lagi status sendiri maksudnya apa?"
"Maaf Pak Richard, saya sebenarnya malu untuk bercerita dan tidak pantas untuk diceritakan, bukan sesuatu pelajaran yang bagus bagi siapa saja yang mendengarnya."
"Itu hal biasa Bi Ameera, saya sendiri punya sisi kelam perjalanan hidup yang ingin dirubah dan tak ingin aku ulangi lagi juga tak ingin aku kenang. Tapi dengan kita bercerita semoga kita menjadi lebih dekat berteman, Bu Ameera jangan panggil saya Pak! panggil saja saya Richard atau Rich saja, saya jadi merasa tua banget juga biar kedengaran akrab dan enak ngobrolnya."
"Boleh tapi Pak Richard juga jangan panggil saya Ibu, aku belum punya anak, jangankan anak suami saja nggak ada!"
"Haaa ... deal, impas berarti! Richard tertawa menawan hati Ameera, dengan tanpa sadar Richard menyodorkan tangannya mengajak berjabatan, Ameera dengan agak ragu menerimanya, Richard menggenggam dan menciumnya menjadikan Ameera panas dingin dan mukanya merah merona lalu menarik tangannya perlahan.
Aliyah berdehem pura-pura keselek sendiri.
"Kenapa dengan status Bu, eh Ameera memangnya?" Richard mulai dengan jurus cari informasi nya.
"Saya gagal membina rumah tangga, gagal mempertahankannya, juga gagal mencintai."
"Ameera kamu pernah berumah tangga? begitu maksudnya?"
"Ya, seperti itu Richard, aku menjalani pernikahan hasil perkenalan kedua orangtua kami dengan sahabatnya, aku jalani semua sebagai bakti ku pada orangtua, aku belajar mencintai dengan sepenuh hati tapi tak sebanding dengan apa yang aku terima Richard, aku dihianati aku berontak aku juga manusia biasa tak bisa menerima ketidakadilan didepan mataku, aku berumahtangga tiga tahun sampai aku tahu suamiku ternyata sudah menikah lagi di belakangku dan punya istri juga anak, aku mengundurkan diri tidak bisa menerima, aku terluka, sakit hati, kecewa, aku bukan orang kuat dan berjiwa besar untuk menerima madu dalam pernikahanku."
__ADS_1
"Saya jadi ikut prihatin dengan ceritamu Ameera, saya jadi pengen tahu muka laki-laki yang telah mengecewakan hatimu itu, sungguh tak punya hati gadis secantik dan sebaik kamu masih di hianati."
"Awalnya aku begitu mencintainya Richard, tapi setelah ketahuan semua kebohongannya rasa itu hilang entah terbang ke mana, aku begitu membencinya walau dalam agamaku di larang membenci seseorang dengan terlalu. Tetapi hati saya sekarang sudah ikhlas, saya malah mendo'akannya semoga pernikahannya bahagia dan untuk jalan saya kedepannya semoga mendapatkan kebahagiaan lain walau tak bersamanya."
"Sorry Ameera, aku membuat kamu sedih dan membuka kembali luka lama yang sudah kamu simpan."
"Nggak apa Richard, mungkin dengan jalan bercerita akan mengurangi beban di hati saya. Saya belum pernah bercerita terhadap siapapun tentang rumah tanggaku yang gagal, pertama saya bercerita kepada kedua orang tua dan keluargaku setelah itu entah kenapa saya berani bercerita di hadapan kamu Richard."
"Nggak apa-apa Ameera, aku senang bisa mendengar dan berbagi kisah hidupmu, Aku seorang singel, belum pernah menikah walau kedua orangtuaku begitu gencar mendorong dan mensupport, tapi aku belum ada panggilan hati untuk memasuki suatu hubungan yang serius."
"Kenapa? apa kendala dan masalahmu Richard?"
"Aku sadar Ameera, aku bukan orang baik seperti kamu, aku penuh dengan kehidupan bebas yang kotor dan hina, penuh noda dan cela, bahkan aib bisa di bilang begitu."
"Kenapa kamu bicara begitu Richard? biasanya orang menutupi aib sendiri tapi kamu malah membukanya menceritakan tanpa beban."
"Aku berusaha menjadi lebih baik Ameera, jujur kalau boleh aku ingin belajar kebaikan dan ilmu agama dari kamu karena hidupku begitu polos dengan aturan agama."
"Izinkan aku menjadi teman dan sahabatmu Ameera, agar aku bisa melihat kebaikan dari cara hidupmu."
"Sekarang kan kita sudah berteman bukan?"
"Oh, eh iya ya? maksudku boleh aku main ke rumahmu dan kita bisa bicara soal kerjasama yang kamu tawarkan beberapa minggu lalu."
"Boleh, Richard. Bertemu sama Bapakku juga biar jelas semuanya."
"Baiklah Ameera, terimakasih pasti aku datang, oh iya mari makan kita malah ngobrol terus."
Richard memandang menu yang di pesan Ameera dan adiknya Aliyah, mereka memesan spaghetti mozzarella yang pedas, Richard memakannya sampai keluar air mata, Richard seperti memakan omongannya sendiri, apapun yang di pesan Ameera pasti enak dan aku akan memakannya.
Ameera merasa bersalah melihat Richard kepedasan menyodorkan gelas minum ke hadapan Richard, Richard mengambilnya dan Ameera tak sempat menarik tangannya sehingga membiarkan jari mereka menumpuk di gelas. Aliyah tersenyum sendiri sambil makan dan kepedesan juga.
__ADS_1
"Pedesnya gila ini, makanan apa ini?"
Richard baru habis separuhnya. Ameera sama Aliyah tertawa berdua melihat seorang pria tampang blasteran gagah, dengan postur tinggi gede kepedesan saat menyantap makanan.
"Aku paling nggak kuat makan pedas-pedas, perutku pasti bermasalah nanti."
"Maafkan aku Richard, kenapa kamu ikut-ikutan sama aku?"
"Tapi aku ingin menghargai kamu Ameera."
"Tapi kamu nggak harus ikut-ikutan aku hanya karena ingin menghargaiku ternyata kamu tidak kuat pedas."
Richard memang benar sepertinya nggak pernah menyantap makanan super pedas paling hanya yang biasa biasa saja, langsung pamit ke toilet dengan muka merah. memegang perutnya.
Ameera sama Aliyah merasa cemas dan berpandangan, ingin ketawa takut dosa, tapi merasa lucu dan kasihan pada Richard yang telah begitu baik mau mentraktir dirinya dan Aliyah
*****
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Napen : Emy
Judul : It's me
Alice pernah mengalami kecelakaan, hingha membuat sebagian wajahnya terluka.
Semenjak itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan samg kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.
Namun, diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice.
Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya?
__ADS_1
Apakah pria itu akan menampakan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?