Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Senyum yang terbawa


__ADS_3

"Ameera, ini Pak Bagas yang waktu itu bapak ceritakan padamu orangnya humoris, baik, pintar dan segudang lagi kebaikannya tak bisa Bapak katakan semuanya, silakan kalian perkenalkan karena mungkin kalian akan selalu berdiskusi tentang proyek yang sedang kita hadapi bersama."


Ameera memandang seorang laki-lakinya tinggi dengan perawakan sedang, dalam perkiraannya Pak Bagas itu seorang yang sudah agak tua bahkan sepantaran Bapaknya.


Tetapi ini seperti seorang dosen dan kelihatan seperti eksekutif muda dengan penampilan menarik, dandanan tidak terlalu berlebihan tapi terlihat kharismatik.


Jauh dari perkiraannya membuat Ameera tersenyum sendiri, seperti biasa Ameera berkenalan dengan salam juga.


"Saya senang berkenalan dengan Pak Bagas, mendengar cerita dari Bapak kalau Pak Bagas itu banyak menyumbangkan ide dan wawasan pada usaha kami."


"Jangan berlebihan Bu Ameera, justru saya tertarik dengan usaha Bapak Haji Marzuki ini karena saya mendengar penuturan yang luar biasa dari beliau."


Ameera tersenyum melihat barisan gigi Pak Bagas yang berjejer rapi, kelihatan senyumnya manis dan renyah.


"Ide Bapak Haji Marzuki memang harus ada penyambung nya, seperti Bu Ameera tepat sekali untuk bisa merealisasikan dan menambah warna di dalam proyek ini, sehingga tercipta kesinambungan antara ide dasar dengan ide kekinian sehingga bisa diterima di semua lapisan masyarakat."


"Berarti kita mengagumi orang yang sama Pak Bagas! heee ...."


Mereka tertawa Pak Haji Marzuki jadi ikut terkekeh di buatnya.


Obrolan mengalir dengan lancar tentang segala harapan, keinginan dan kedepannya akan seperti apa.


Jauh di lubuk hati Haji Marzuki terselip keinginan, ingin melihat putrinya Ameera lebih akrab dengan seorang Bagaskara. Untuk awal-awal mereka biarlah berkenalan tetapi seiring berjalannya waktu keakraban mereka semoga semakin bertambah meningkatnya tensi dan suhu hubungan mereka yang diharapkan.


Walaupun itu hanya sekedar harapan Haji Marzuki saja, tidak ingin dirinya melibatkan kembali dalam kehidupan anaknya, kegagalan rumah tangga Ameera sebelumnya adalah campur tangan dirinya, seperti itu perasaan bersalah Haji Marzuki di pada Ameera dan tidak ingin mengulanginya.


Kalau dilihat dari kepantasan dan kecocokan keduanya begitu pas di mata Haji Marzuki, tapi entahlah hati keduanya.

__ADS_1


Ameera putrinya yang cantik sangat mirip dengan Ibunya, Pak Bagas yang juga sangat tampan untuk ukuran seorang laki-laki, berpendidikan dan berwawasan luas, pintar dan pandai menempatkan diri, sopan bicara dalam pergaulan tak kurang suatu apapun di mata Haji Marzuki.


"Saya panggil Dek Ameera atau Ibu aja biar akrab?"


"Apa aja Pak Bagas saya senang di panggil apapun dan tak akan menolak."


"Karena saya duluan dipanggil Bapak, jadi saya juga akan memanggil Bu Amira deal kan?"


"Nggak apa-apa." Ameera agak tersipu.


"Oke, jadi apa ide Bu Ameera dalam menciptakan penambahan wahana atau spot yang paling mungkin banyak di minati remaja jaman sekarang? karena menurut pandangan saya Bu Ameera begitu cocok dan bisa merangkul hati para kaula muda di proyek ini."


"Terlalu banyak Pak Bagas, tapi saya sudah mengkonsep semua yang ingin saya tuangkan dan realisasikan, tapi di komputer vila di atas sana, suatu hari kita lihat sama-sama."


"Sudah terkonsep? luar biasa. Boleh suatu hari kita jadikan diskusi yang sangat berarti."


"Nanti saya perlihatkan, Pak Bagas."


Awal pertemuan mereka antara Ameera dan Bagaskara kesannya mereka begitu mengagumi satu sama lain walaupun keduanya tidak menyiratkan apa-apa, selain kekaguman pada diri masing-masing akan ide dan gagasan yang dikeluarkan dari keduanya.


Karena disitu juga mereka berbicara di hadapan orang tuanya Ameera Bapak Haji Marzuki, jadi walaupun Bagaskara punya gaya humor yang luar biasa tinggi tetap tidak bisa mengeksplor terlalu dalam karena ada etika siapa dirinya dan juga siapa Ameera.


Keakraban di perlihatkan keduanya walau Ameera tak sedikitpun terbersit untuk mulai tertarik dengan seorang laki-laki.


Kegagalan rumah tangganya cukup membuat dirinya terpuruk begitu dalam, merasa dirinya tidak dihargai oleh seorang laki-laki, merasa dicampakkan dan sakit merasa diri tercabik oleh orang yang berusaha dicintainya sepenuh hati.


Amira telah memasrahkan seluruh hidupnya, tiap denyut nadi dan helaan nafasnya kepada suaminya Fathir, tapi di balas dengan kekecewaan yang sangat dalam.

__ADS_1


Hanya kerja dan kerja yang ada di otak Ameera saat ini, dan ingin merealisasikan semua ide yang sudah di konsepnya dari berbagai sumber pencariannya.


Bagaskara sudah tahu status Ameera yang sebenarnya dari Haji Marzuki Bapaknya Amira. Tetapi Bagaskara begitu menghargai apapun yang terjadi dengan Amira dan tak mengurangi rasa simpati dirinya terhadap putri Bapak Haji Marzuki ini, yang notabene adalah atasannya di yayasan Al-Ikhlas tempatnya berkarir dan bekerja.


Ameera juga tahu dari gaya bicaranya yang berpendidikan kalau Pak Bagas itu masih sendiri. Keduanya sepakat suatu saat akan berdiskusi tentang ide yang akan dituangkan Ameera sebagai tambahan dari ide milenial dan juga mereka berjanji suatu waktu memberikan senggang pada mereka keduanya akan mengontrol mendatangi proyek yang sedang berjalan itu.


Sampai akhirnya Pak Bagas pulang dengan mengendarai mobilnya. Setelah berpamitan dengan sopan diantar Pak Haji Marzuki dan Ameera.


Ada senyum yang terbawa Bagas dari rumah Haji Marzuki, memberi gairah pada hatinya, walaupun Bagas terlalu takut dan hati-hati untuk menyimpulkannya.


*****


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



Judul: PURA-PURA MISKIN


Author: Momoy Dandelion


Blurb:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."

__ADS_1


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar


__ADS_2