Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Perjuangan Fathir


__ADS_3

"Apa? seminggu di sini, mau ngapain?" Richard merasa tak terima mendengar khabar mantan suami Ameera mau tinggal di sini.


"Richard, sudahlah nanti aku jelaskan."


"Ameera! Ameera! ...."


Ameera memutuskan sambungan telepon pada Richard karena ada Mas Fathir kembali lagi bersama Ibunya Hj Salamah.


"Ameera sayang, sini Ibu mau bicara," ucap Hj Salamah begitu lembut.


"Ibu, aku baru pulang dari proyek melihat semua persiapan pembangunan dan melihat semua barang dan properti yang mulai datang, aku belum mandi jadi aku mohon diri dulu."


"Ameera, sebentar saja. Ibu hanya ingin bertanya satu kebenaran apa yang di sampaikan Nak Fathir itu benar kamu sudah memiliki calon lain?" tutur Ibu Hj Salamah meneliti raut dan roman muka putrinya yang tidak pernah berbohong juga tak pernah diajarkan hal seperti itu semenjak dasar pendidikan awal dalam keluarganya.


"Iya Ibu, tapi Ameera sadar diri Ameera belum bebas masa Iddah, hanya kenalan biasa berawal dari saling ngobrol, kami satu tujuan punya niat baik dan niat berumahtangga suatu saat."


"Anakku, apa kamu tahu kalau itu tidak di perbolehkan selama masa Iddah belum usai? dalam tubuh kamu masih ada bau suamimu yang melekat dan akan hilang selama massa Iddah itu kalau secara kebiasaan. Apa kamu begitu mudah berpaling tanpa menunda dulu, tak bisakah semua saling introspeksi diri masing-masing kalaupun harus melangkah sendiri-sendiri dengan status baru bagaimana keputusannya yang kalian ambil nanti."


"Ibu, maafkan Ameera. Ameera memang punya teman dekat, tapi kami bukan untuk melanggar semua aturan, kami sepakat saling jaga dan saling hargai, kami hanya saling cocok dalam segala hal, aku juga dalam masa sekarang akan memasuki masa-masa sibuk di proyek, mana mungkin bisa berpikir serius dulu untuk seorang pendamping."


"Tapi kan kamu bilang tadi sudah ada calonnya?" sergah Fathir di hadapan Ibunya Ameera.


"Mas Fathir, aku memang sudah ada calon dan akan serius, tapi nanti setelah aku selesai Iddah, kenapa? apa jadi masalah buatmu? jangan salahkan aku bila aku mencari yang lebih baik, yang dengan tulus mencintai dan menghargai, menjadikan rumahtangga sebagai ibadah dan kami sama-sama ikhlas menjalaninya."

__ADS_1


"Alhamdulillah, Ibu percaya padamu Ameera mana mungkin kalau kamu ingin mempermalukan kedua orang tuamu." tukas Ibu Hj Salamah.


"Mas Fathir, satu keberuntungan kenapa Yang Maha Kuasa tak memberi kita keturunan dari pernikahan itu, kalau sudah ada anak diantara kita mungkin keputusanku akan lain, mungkin semua ini yang terbaik buat kita, berpisah akan memberikan ketenangan buatku."


"Ameera dengar dulu aku, kita buat kesepakatan untuk masa depan kita, ajukan apapun syarat darimu aku akan penuhi semuanya."


"Mas, Fathir berhentilah memohon dan meratap, kemana aja dari kemarin-kemarin rasa cinta yang aku berikan? kenapa sekarang baru kamu perlihatkan saat hatiku tak menginginkannya lagi? Aku telah mencintaimu dengan sepenuh hati menyerahkan jiwa raga untuk cintaku padamu, yang semua itu butuh perjuangan dan tanpa syarat apapun aku ikhlas menjalaninya aku ridho menjadi istrimu, sekarang setelah Mas terpuruk di tinggal anak istri Mas, di acuhkan keluarga kenapa aku yang Mas tekan sebagai syarat?" tutur Ameera begitu kesal dengan ngototnya Mas Fathir.


"Ameera, mengertilah keadaanku dan posisiku kini, ingat saat kita merasakan kebahagiaan."


"Kebahagiaan macam apa Mas? saat aku sadari kini betapa bodohnya aku ini! dari awal kita menikah bahkan sebelumnya Mas telah memiliki kekasih, Aku tak lebih dari sebuah raga tak bernyawa dicintai dan dinikahi sebagai syarat kepercayaan dari orang tuamu! kalau mengingat semua itu aku begitu marah dan kecewa banget, Mas begitu tega perlakukan aku seperti itu, memang kita ini di jodohkan, di kenalkan sama orangtua kita tapi tak sepantasnya Mas perlakukan aku seperti itu! jadi jangan harap aku berubah pikiran, wajar aku ingin berpaling mencari pria yang bertanggung-jawab bukan Cemen seperti Mas Fathir!"


"Ameera!"


"Ibu, Ameera permisi dulu, sudah sore belum mandi, silahkan Ibu sama Mas Fathir ngobrol dulu."


Fathir dengan pandangan nanar memandang Ameera yang berlalu dari hadapannya juga Ibu Hj Salamah yang terhenyak di kursinya.


Ameera yang begitu cantik bak model tapi tak sempat dirinya cintai dengan sepenuhnya, Ameera yang selalu bicara dengan lembut, selalu membangunkannya dengan usapan dan ciuman di pipinya, Ameera yang selalu membantu pekerjaannya kala dirinya suntuk, Ameera yang tak pernah mengeluh dengan semua pekerjaan rumah tangganya, melayani segala kebutuhannya, Ameera yang selalu dirinya tinggalkan sendiri tapi tak pernah protes, Ameera yang tak pernah dirinya bahagiakan sama sekali.


"Bu, maafkan aku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, tolong yakinkan Ameera dengan kelembutan Ibu, aku menyesal, aku mencintainya aku siap dengan segala permintaannya." tutur Fathir seperti menghiba di hadapan Ibu mertua nya.


"Nak Fathir, tadi kan sudah jelas apa yang disampaikan Ameera Ibu tidak bisa ikut campur untuk urusan pribadinya tetapi ibu wajib meluruskan sesuatu hal yang tidak benar yang dijalani anak ibu. Semua itu kembali lagi pada diri kalian berdua tapi seandainya Ameera ingin kembali padamu dia berubah hati berubah pikiran itu yang sangat Ibu sama Bapak harapkan, tapi seandainya dia menolak Ibu juga tidak bisa apa-apa." jawab ibu Hj Salamah begitu lembut dan bijaksana.

__ADS_1


"Ibu, bagaimana lagi aku meyakinkan Ameera? aku begitu putus asa."


"Nak Fathir, apapun tindakan yang kita ambil semua itu penuh dengan risiko, termasuk tindakan Nak Fathir saat menikahi seseorang. Mungkin itu sudah dipertimbangkan akan seperti apa akibatnya? juga saat Nak Fathir berbohong, suatu saat akan terbongkar pasti Nak Fathir sudah membayangkan akan seperti apa? di situlah kita perlu pemikiran dewasa dan pertimbangan baik buruknya sebelum kita mengambil tindakan."


Fathir diam mengaku semua tindakannya salah dan sembrono. Semua tanpa perhitungan yang matang, hanya karena Ameera diam semua dirasa akan baik-baik saja.


"Ibu, bukan membela Ameera anak ibu, tetapi cobalah lihat permasalahan dari kacamata benar dan salah dari kacamata menurut lazimnya sudut pandang umumnya pandangan orang, Ibu rasa keputusan Ameera bukan tanpa alasan, juga bukan Ameera tidak memberi kesempatan kepadamu, tapi Ameera punya sudut pandang lain yang diyakininya lebih baik berpisah daripada bersatu kembali tanpa mendatangkan manfaat, mungkin seperti itu."


"Ibu, tapi izinkan aku tinggal di sini selama seminggu ke depan untuk menunggu keputusan Ameera yang sebenarnya sampai final di akhir minggu ini, aku berharap ada perubahan yang lebih baik walaupun pada akhirnya aku harus terima kenyataan jika semua harus berakhir."


"Silahkan Nak Fathir, Ibu tidak bisa melarang kamu perjuangkan perasaanmu, perjuangkan rumah tanggamu tetapi jangan memaksakan kehendak seandainya pada titik akhir akhir Ameera memberi keputusan tetap tidak bisa menerima mu."


"Aku berjanji, aku akan ikhlas Bu, hanya beri aku kesempatan meyakinkan Ameera."


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2