
"Idiiiih ... memalukan banget! masa jagoan kalah sama berandalan? katanya masih rajin nge-gym dan beladiri mana hasilnya?" Andrea adik Richard datang datang langsung ngeledek kakaknya yang masih tiduran dengan tangan kanan masih di balut dan muka masih kelihatan begitu lebam terutama di daerah pelipis dan matanya.
Menyalami Richard dengan tonjokan pelan di dadanya, tapi Richard menangkisnya dengan di tariknya tangan Andrea ke tubuhnya hingga Andrea di peluknya dan rambutnya habis di acak-acak.
Ameera yang duduk di samping Richard perlahan berdiri memepet tembok. Tersenyum melihat tingkah Richard sama adiknya yang mungkin sama jahilnya.
Tapi keduanya begitu akrab lupa kalau mereka sudah pada dewasa. Rasa kangen karena jarang bertemu membuat Richard sama Andrea tetap saling jahil.
"Kaaaaak ....!" Andrea meronta melepaskan diri, Richard tertawa ngakak melihat rambut panjang Adiknya berantakan.
"Astagfirullah, sayang apa-apaan ini di kira Mam kamu tak serius begini, apa sudah di laporkan polisi?" Ibunya Richard begitu khawatir sambil mencium pipi dan kening Richard yang hanya senyum-senyum saja.
"Hanya kecelakaan kecil Mam."
"Kecelakaan serius begini kamu bilang kecil? Jangan menganggap sepele luka luar sayang tetapi harus diperiksa juga dalamnya sampai kelihatan lebam begini kenapa sih nggak ada sedikit juga perlawanan?"
"Tenang yang di dalam nggak ada yang terluka, apalagi yang ngumpet semua aman, ini semua hanya luka luar." Richard masih sempat bercanda.
"Dasar loyo mental tape, tampang preman tapi kalah!" ucap Andrea masih saja meledek Kakaknya.
"Enak aja loyo, kamu tuh sembarangan banget ngatain orang." sungut Richard pada Andrea.
"Andrea sudah, jangan terus bercanda meledek kakakmu kasihan dia, lagi sakit begini."
Pak Isaak maju menyodorkan tangannya sambil tersenyum. Richard menciumnya.
"Jagoan biasanya kalah dulu!" canda Bapaknya sambil tertawa bareng sama Richard.
Kehadiran keluarga Richard begitu bersukacita walau melihat keadaan Richard lagi terbaring istirahat, tapi kelihatan mereka saling akrab dan bahagia begitu senang saat bertemu.
"Ya ampuuuuun, sayang Ameera sini, maafkan aku karena merasa bahagia keluargaku datang sampai lupa kamu ada di situ." Richard merasa bersalah, melihat Ameera belum di kenalkan pada keluarganya.
Ameera manggut dan tersenyum pada tiga pasang mata yang tertuju padanya.
"Mam, Papa, An kenalkan calon istriku Ameera yang paling cantik, baik dan Solehah, paling sabar dan paling pengertian." ucap Richard membuat merah muka Ameera. Begitu gugup Ameera berhadapan dengan orang baru, orang yang hanya ada di cerita Richard saat mereka ngobrol.
Tapi senyum tulus Mama Amalia dan Papa Isaak begitu menenangkan Ameera. Hanya Andrea begitu teliti dengan mata penuh intuisi tinggi menatap Ameera dari atas sampai bawah.
Jelas Andrea meneliti, karena selama ini selera Kakaknya bukan yang model Ameera, tapi model dirinya. Ada perubahan besar dan itu Andrea anggap keanehan.
Ya, aneh! Richard begitu berselera modern dan multi kultur, setiap Andrea datang ke hotel Kakaknya selalu ada wanita berbeda di sampingnya dengan dandanan bukan seperti Ameera saat ini.
__ADS_1
Ameera maju mencium tangan Pak Isaak, Mama Amalia dan bersalaman sama Andrea adik Richard satu-satunya.
"Wow, Kak Ameera namanya ya?cantik sekali namanya, secantik orangnya. Kak Richard sepertinya sudah hijrah Mam. Seleranya naik level maksimal sekarang" Andrea mengomentari Ameera yang masih saja malu. Melihat dandanan Ameera yang begitu sempurna sama seperti Andrea yang juga cantik cuma busananya saja yang berbeda.
Ameera serba tertutup dari atas hingga bawah tapi tak kalah modis sama Andrea yang pakai rok mini memperlihatkan betisnya yang putih mulus dan jenjang dengan mengenakan sepatu cat coklat, serta atasan kemeja santai
Ameera selalu memadu padankan semua pakaiannya selalu matching dengan aksesorisnya, sehingga tak pernah bosan orang memandangnya, pakaian tertutup bukan berarti tak bisa bergaya, malah sebaliknya begitu banyak yang bisa di eksplor dari semua busananya.
Bukan saja kaum laki-laki yang begitu gagal fokus sama kecantikan Ameera dengan tubuh tinggi langsingnya, tapi kaum perempuan juga banyak yang iri dan ingin meniru cara berbusananya.
"An jangan begitu, Alhamdulillah Kakak kamu mau berubah. Nak Ameera, Andrea hanya bercanda, Ibu senang berkenalan sama kamu, di mana rumahmu Nak Ameera apa jauh dari sini sayang?"
"Nggak apa-apa saya mengerti Bu, rumah orangtua saya di bawah, di belakang hotel ini." jawab Ameera sambil senyum memandang Mama Amalia dan Andrea yang menurut Ameera begitu cantik, Andrea seperti artis saja, sama ganteng seperti Richard.
"Oh, tetangga rupanya? apa kesibukan Nak Ameera?" Mama Amalia menarik perlahan tangan Ameera biar duduk di dekat Richard duduk bersama dirinya di kursi satu lagi.
"Saya hanya bantu-bantu orangtua Bu."
"Orangtuamu jualan?"
"Oh, eh enggak. Hanya ada yayasan di bidang pendidikan dan usaha kecil-kecilan."
"Mam, Ameera ini wanita karir yang sangat pintar, semua usaha orangtuanya Ameera yang pegang."
"Mama kurang senang kalau kamu terlalu sibuk, sewajarnya saja, jangan sampai suamimu nggak keurus suatu saat nanti, biarlah suami yang sibuk, kamu harus tetap cantik di rumah. Biar suamimu saja yang bekerja istri sebaiknya melayani suami saja itu yang terbaik."
Ameera tersenyum.
"Saya hanya bantu-bantu Bu, daripada tak ada kegiatan."
"Nak Ameera pengusaha juga rupanya."
"Masih belajar." jawab Ameera singkat.
"Jaman sekarang jamannya kaum perempuan bekerja Bu, jangan aneh banyak kaum perempuan yang memegang perusahaan perusahaan besar dan bersaing dengan dengan para pelaku usaha laki-laki."
"Tapi Mama takut, kamu begitu cantik sayang, baiknya kamu di rumah saja, suamimu pasti akan rela kalau kamu tidak bekerja."
Richard mengusap-usap punggung Ameera, sambil mereka ngobrol bersama Ibunya Richard.
"Mam, Richard pengen segera Mama sama Papa ke rumahnya Ameera. Besok saja ya sore."
__ADS_1
"Kamu itu keadaannya masih begini sayang, sembuh aja dulu, lagian Mama nggak ada persiapan kalau harus melamar Nak Ameera besok."
"Aku sudah siap lahir bathin Mam, apa sih persiapannya? biar Benny yang siapkan, aku nggak mau lama lagi, pokoknya besok saja, aku minum obat besok juga sembuh."
"Tuh kan, kebiasaannya begitu Nak Ameera, masih saja keras kepala padahal itu di hadapan Nak Ameera."
"Saya sudah tahu Bu."
"Ah, sayang kenapa kamu sama saja sama Mamaku?" Richard mencium punggung Ameera.
Ameera tersenyum, begitu juga Mama Amalia.
"Iya, manja! Mama tuh hanya bercanda. Tenang saja besok adalah hari lamarannya, itu sudah di rencanakan dan di diskusikan sejak dari Bandung." ucap Andrea yang duduk sendiri di sofa.
Richard tersenyum memandang Mamanya juga Ameera.
"Kamu siap sayang menerima lamaran keluargaku?"
Ameera mengangguk perlahan.
"Rich, Bu, Pak, saya permisi pulang dulu, sudah malam lagian mungkin Richard mau kangen kangenan sama keluarga, jadi saya pamit dulu." Ameera berdiri menyalami semuanya. Richard menangkap jemari Ameera dan memegangnya erat.
"Richard Nak, sama siapa Nak Ameera mau pulang? panggil security biar mengantar sampai rumahnya." ujar Mama Amalia.
Richard menelephon Benny dan Benny langsung datang.
"Ameera mau pulang Ben." ucap Richard saat Benny muncul di pintu, Ameera melepaskan pegangan jari Richard.
"Hati-hati Ben!"
"Baik, mari Bu Ameera!" Benny begitu sopan membuntuti Ameera.
******
Sambil menunggu up Masa Lalu Sang Presdir baca juga yang satu di bawah ini ya, Jangan lupa like dan komentar membangun, juga beri hadiah 🙏
Blurb:
Kenzo awalnya selalu menolak Cleo, wanita bar-bar dan agresif yang sudah dijodohkan dengannya, tapi saat cinta itu sudah tumbuh kesalahpahaman pun terjadi yang membuat Cleo pergi meninggalkan Kenzo saat sedang mengandung anak dari Kenzo.
__ADS_1
Dua tahun kemudian, Cleo kembali dan mereka pun bertemu, sayangnya Cleo sudah bertunangan dengan Nathan, anak dari orang tua angkat Kenzo yang pernah menyelamatkannya saat Kenzo dibuang di hutan oleh ayah kandungnya, Abimana.
Dapatkan Kenzo merebut kembali Cleo dari tangan Nathan? Ataukah dia harus terjebak dalam hutang budi? Lalu apakah Kenzo bisa menerima Abimana sebagai ayah kandungnya?