
Richard tersenyum terkadang adiknya yang jahil juga bisa menjadi alasan dan penolong saat dirinya kepepet, terbukti dengan perantara adiknya Ameera bisa bicara walaupun nadanya masih ketus.
Richard tak habis pikir akan sikap Annet yang dianggap Richard terlalu berlebihan bahkan berani mengancam dirinya.
Apa itu hanya ucapan seorang yang putus asa mengucapkan kata-kata yang tidak terkontrol atau memang itu semua beralasan bagi Annet? Richard mencoba berpikir menyambungkan dengan penemuan Benny mungkin juga ada benarnya tapi Richard belum bisa menyimpulkan ada apa sebenarnya di hotel itu dan kecurigaan apa yang Benny curiga kan?
Setelah kejadian berapa minggu ke belakang paska pemukulan dan pengeroyokan itu Richard menjadi lebih hati-hati, tak anteng dengan lamunan dan khayalannya. Richard senyum-senyum sendiri berjalan panjang menuju rumah Ameera yang terletak di belakang vila keluarga Haji Marzuki.
Lamunannya pindah pada Ameera.
Sekarang kurang dari dua minggu lagi Ameera jadi milikku, pasti berjuta kebahagiaan dirinya reguk bersama sang pujaan hati, dan masa bahagia itu tinggal beberapa langkah lagi, senyum Ameera akan jadi miliknya, dan semuanya adalah miliknya, akan aku jaga dengan sepenuh hati. Itulah janji hati Richard.
Membayangkan hidup bersama Ameera membuat hati Richard penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran, rumah tangga yang tidak terpikirkan sebelumnya kini menjadi harapannya untuk bahagia di dalamnya, apalagi saat Richard membayangkan seandainya suatu saat Ameera hamil! Masya Allah mungkin akan seperti apa bahagia dirinya.
"Astaghfirullahaladzim! aaaaaaw... sakit banget!"
Richard mengaduh sendiri di depan rumah Ameera memegang ujung jempolnya yang berdarah karena tersandung pinggir got saking antengnya melamun tak melihat tembok pembatas pinggir jalan karena matanya asyik mengamati halaman rumah Ameera.
Richard memasuki halaman rumah yang pintunya tidak terkunci kelihatan sepi di teras depan dan di ruang tamu Richard lalu memijit bel sambil tertatih sedikit karena masih menahan sakit.
Keluar Ibu Haji Salamah, Richard langsung tersenyum mengangguk dan menyelaminya memberikan salam yang disambut dengan salam juga.
"Oh alah Nak Richard, mari masuk! kenapa kakinya itu?" Ibu Haji Salamah melihat Richard berjalan agak tertatih.
"Kesandung Bu di tempat agak gelap barusan, saya mau jemput Andrea Bu."
"Duduk saja dulu nanti ibu panggilan Nak Ameera biar diobatin dulu kakinya itu."
'sekalian suruh nginep juga mau Bu' dalam hati Richard tersenyum sendiri.
Bu haji Salamah masuk, tak lama yang datang Ameera dengan kotak P3K di tangan berdiri di pintu antara ruang tamu dan ruang keluarga memandang Richard.
"Aku mau jemput Andrea doang." Richard bicara tanpa di tanya.
"Banyak alasan. Sini kakinya biar diobatin, merepotkan orang aja!"
"Tapi aku yakin kamu senang di repotin sama aku, ya kan?" Richard menselonjorkan kali kanannya yang berdarah sambil tersenyum.
Ameera menuangkan pencuci ke kapas dan mencucinya.
__ADS_1
"Awww ...!"
"Sakit?"
"Enggak!"
"Kenapa bilang awww ...?"
"Karena enak!"
"Dasar gombal!"
"Tapi ganteng!"
"Huh!"
Ameera menuang antiseptik ke kapas dan menutupkannya ke luka kecil di ujung jempol Richard.
"Awww ...."
"Katanya enak!"
"Maaf, tapi biar cepat sembuh."
"Aku maafkan deh, apalagi di kasih obat yang lain pasti cepat sembuh!"
"Rich! kamu bikin kesal orang aja tahu!"
"Iya aku tahu, justru aku pengen lihat muka kesal kamu sayang, karena aku dari kemarin kemarin belum pernah melihatnya, baru aku melihat muka marah, muka senang, dan muka kangen kamu!"
"Sudah tuh, silahkan kalau mau pulang lagi!"
"Ibumu baru datang bawa minum, ya minum dulu lah."
Ameera mendengus sambil duduk buang muka, kesal tapi lucu juga, Richard begitu santai menghadapi kemarahannya.
Ameera merasa aneh dengan sifat Richard seperti dia tak bisa menerima kemarahannya. Dengan berbagai cara dia berusaha mengambil hatinya kembali.
"Nggak apa-apa Nak Richard hanya luka kecil kan?" datang Ibu Haji Salamah dengan nampan berisi air minum dan kue di toples kecil-kecil.
__ADS_1
"Iya Bu Haji nggak apa-apa, Ameera sudah obati, saya minum dulu Bu ya."
"Oh, silahkan. Nak Andrea kelihatan betah banget di sini, Aliyah jadi merasa ada teman."
"Iya Bu."
"Ibu permisi dulu silahkan di cicipi kuenya."
"Ambilkan dong minumnya!"
"Manja."
"Aku kan sakit kakinya."
"Ngambil itu pakai tangan."
"Oh iya, salah ya?"
Richard bergeser duduknya, menjadi mepet sama Ameera.
Tangannya dengan sigap meraih jemari Ameera.
"Kurang dari dua minggu lagi Rich!"
"Oh, oke Ameera aku mengerti, berarti kamu sudah nggak marah lagi?"
Richard mencium jemari lembut itu dengan sepenuh perasaannya, hatinya begitu tenang, Ameera masih berpikir tentang pernikahan mereka yang memang kurang dari dua minggu lagi.
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏