Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Membiasakan diri dengan permasalahan


__ADS_3

"Benny! Benny!"


Richard datang ke kantornya melongokan kepala ke ruang kerja Benny sambil memanggil Benny berkali-kali.


"Ada apa Rich? Bang Benny lagi keluar, entah urusan apa seperti ada yang begitu serius minggu-minggu ini." Hanna yang satu ruangan sama Benny keluar menghampiri Richard yang baru datang.


"Apa ada yang lebih serius dan penting dari urusanku? cari tahu di mana dia? telepon sekarang juga suruh dia balik ke kantor!"


"Baik Rich, ada apa? kenapa begitu terburu-buru biasanya juga santai, urusan apa?"


"Ini masalahku sama Ameera pokoknya suruh Benny kembali ke kantor sekarang juga, ada banyak yang harus dibicarakan."


"Oh alah, di kira urusan kantor, kamu bisa cerita dulu padaku Rich, soal apa sama Ameera? siapa tahu aku bisa jadi solusi masalahmu." Hanna menawarkan diri.


"Aku ingin Benny, sudah di telephon? lagi di mana dia?"


"Ponselnya nggak aktif entah kenapa, apa dia lagi ngobrol atau lagi di mana mungkin juga habis batre."


"Hanna, coba lagi dan terus coba takut dia lagi di luar area, kenapa suka nggak aktif? aneh! giliran di butuhkan jadi nggak bisa di hubungi?"


"Ada apa dengan Ameera Rich? kenapa kamu begitu khawatir? apa dia sakit?" cecar Hanna sambil menyimpan teh hangat di meja Richard.


"Alah panjang banget ceritanya, pokoknya aku lagi nggak baik-baik saja, begitu juga Ameera."


"Minum saja dulu, tenangkan pikiranmu baru bicara." Hanna menggeser gelas di atas tatakan.

__ADS_1


Richard menurut, meniup teh di tangannya dan menyeruputnya lalu duduk di sofa ruangannya.


Hanna menatap wajah Richard yang mulai tenang, dan berpikir apa yang harus di tanyakan dalam kondisi seperti ini?


"Hanna! apa kalian pernah bertengkar sebelum menikah?"


"Jadi kalian bertengkar rupanya ya? itu biasa Rich, syndrom married selalu saja ada kekhawatiran dari tiap pasangan saat menjelang pernikahan." ucap Hanna sedikit tersenyum.


"Tapi persoalan ku tak sesederhana yang kamu pikirkan Hanna aku takut Ameera berubah pikiran."


"Apa masalahmu Rich?"


"Aku sama Ameera sedang berada di satu butik untuk konsultasi baju pengantin kami, Aku bertemu Annet dan dia memaksaku untuk bicara di kamar pas, Ameera mendengar semua pembicaraan kami, dan Amira mempertanyakan semuanya sepertinya dia tidak terima dan marah dia minta diantar pulang dan kamu tidak bicara lagi sampai dia turun dari mobil. Kami nggak jadi pesan pakaian di situ karena Ameera begitu syok mendengar pembicaraan kami, dan ancaman Annet padaku."


"Itu saja masalahnya?" Hanna tersenyum, membuat Richard heran.


"Bertengkar itu biasa dalam masa pacaran atau sudah berumah tangga. Tidak mungkin tidak akan terjadi satu permasalahan sekecil apapun, dua kepala pengen satu pemahaman itu sulit, dua isi kepala harus mengerti satu sama lain itu tak mudah, tenang saja dulu. Biarkan Ameera juga tenang jangan ambil keputusan apapun dulu jangan panik." Hanna bicara begitu kalem, tak terlihat riak panik dan cemas seperti Richard.


"Hanna kenapa kamu begitu tenang dalam menghadapai masalahku ini?"


"Richard, Ameera itu tentu sudah mempertimbangkan apapun pastinya sebelum mengambil keputusan untuk menyatakan siap pacaran denganmu, dan siap berumah tangga dengan kamu, hubungan kalian telah melibatkan kedua belah pihak orang tua kalian, di sisi lain juga ada kaitan proyek diantara The Rich dan keluarga Haji Marzuki."


Richard diam, semua yang dikatakan Hanna memang tak ada salahnya, tapi perubahan Ameera begitu mengagetkan dirinya.


"Aku pikir tak semudah itu Ameera mengambil keputusan untuk berpaling dari kamu paling dia menginginkan ketenangan membiasakan diri dengan semua permasalahan yang baru di hadapinya."

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?" Richard terlihat begitu bodoh dalam hal ini. Kelihatan begitu bimbang, seperti dia meragu untuk melakukan apapun dan perlu support dari orang terdekatnya.


"Ameera melarang menghubunginya jangan di turuti itu hanya mengikuti marah dan emosinya dia! beri waktu untuk tenang dulu, hubungi saja bahkan datangi saja kapanpun kamu ingin menemuinya, untuk memperlihatkan keseriusan kamu masalah diterima atau tidaknya itu tergantung usaha kamu."


Richard merasa ada setitik pencerahan dari Hanna, tersenyum mengerti setiap kata yang diucapkan Hanna.


tok tok tok ....


Benny nongol dengan muka capek, langsung tersenyum pada Hanna dan menyapa Bosnya.


Richard memandang gerak gerik Benny tanpa sepatah katapun.


Benny merogoh tasnya lalu mengeluarkan ponselnya berserta charger nya dan memberikan pada Hanna untuk di isi baterai nya, lalu melonggarkan dasinya dan duduk di sofa ujung jauh dari tempat Richard duduk.


*******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2