Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Hati yang berbunga


__ADS_3

"Kenapa Ameera? Apa aku tidak pantas buatmu?" Richard memandang Ameera meminta jawaban.


"Ya ampuuuuun Rich bukan itu, kalau harus jujur sejak awal kita bersua pertama kali aku sudah begitu tertarik sama kamu." Ameera mengatakan kejujuran dengan sedikit malu, wajahnya terasa panas.


"Apa? berarti kita sama dong?" Richard mengerem sekaligus meminggirkan mobilnya untung Ameera memakai sabuk pengaman sehingga tidak tersungkur dan terjerembab ke depan dasboard.


Richard memandang Ameera tak percaya.


"Astagfirullah Rich! untung aku nggak jantungan, hati-hati dong bawa mobilnya aku jadi ngeri." Ameera sedikit menggerutu.


"Ameera, apa betul yang kamu ucapkan itu? aku suka banget, aku seneng banget." Richard meraih tangan Ameera menggenggamnya hangat.


"Iya Richard, tapi aku ingin hanya kita saja yang tahu hubungan ini, karena kita akan menghadapi satu proyek yang mungkin akan cukup lama pengerjaannya. Jadi aku tidak mau semua mengganggu konsentrasi kerjasama kita antara aku kamu Pak Bagas juga Bapakku."


"Ameera apa itu sesuatu yang terbaik buat kita? kenapa harus menyembunyikan hubungan ini? Aku malah ingin segera diketahui orangtuamu kalau aku sangat serius padamu. Aku serius sama kamu aku ingin punya masa depan bersamamu, aku akan membangun penginapan kita dengan sebagus-bagusnya sesuai harapan kamu. Aku ingin masa depan kita ada di sana."


"Sudah aku katakan kita konsentrasi pada proyek itu dulu."


"Oke aku ikuti apa maunya kamu Ameera, tapi kenapa? apa ada hal lain kah?"


"Maksudnya apa?"


"Ameera, aku melihat sorot mata lain selain sorot cintaku padamu, aku takut dengan semuanya, Jujur aku melihat Pak Bagas seperti suka juga padamu!"


Ameera diam, memang sejak awal Bapaknya selalu memuji dan dengan bangga mengenalkan Pak Bagas pada dirinya, menceritakan semua kecerdasannya, kemampuannya Ameera mengerti sikap Bapaknya seperti itu tiada lain ingin lebih mendekatkan dirinya dengan Pak Bagas walaupun tidak terucap langsung.


Setiap orangtua pasti selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya, walaupun pada kenyataannya cocok bagi orang tuanya belum tentu bagi anaknya.

__ADS_1


Ameera hanya berdalih saat itu pada Bapaknya kalau dirinya ingin menikmati masa sendiri dulu, perlu waktu dirinya untuk menerima seseorang disisinya mengisi hati dan hari-harinya, perlu cukup waktu melupakan semuanya, perlu kesibukan untuk mengalihkan semuanya


"Richard emang benar adanya seperti itu, karena Bapakku yang mengenalkan Pak Bagas padaku walaupun Bapak tidak terucap langsung lebih mendekatkan aku, tapi waktu itu aku beralasan aku ingin sendiri dulu menikmati masa kebebasan dulu."


Richard masih menggenggam tangan halus itu. Memandang wajah yang sangat di rindukannya begitu dekat dengan dirinya. Ingin rasanya Richard mengelus pipi itu.


"Tapi aku tak bisa menolak pesonamu Richard, mungkin aku jatuh cinta padamu tapi aku harus konsekuen dengan ucapan ku pada Bapak kalau aku ingin sendiri dulu."


Richard tersenyum, pandangannya lekat pada wajah cantik Ameera yang pipinya kemerahan setelah mengungkapkan perasaannya. Richard mengangguk mengerti apa yang di ucapkan Ameera, semua demi kebaikan mereka juga.


"Aku harap kamu mengerti Richard, bukan berarti aku abai pada hati dan juga perasaanmu, tetapi semua itu takut mengubah cara pandang Bapak terhadapku, karena dari awal aku bicara tidak akan memikirkan laki-laki dulu aku akan melupakan dan sibuk dengan pekerjaan tapi kalau kenyataannya sekarang aku malah menjalin hubungan sama kamu bagaimana?"


"Aku siap, dan mengerti dengan alasanmu sayang."


Ameera tersenyum mengangguk senang dengan penerimaan ucapannya di hadapan Richard.


Richard mengerti hatinya begitu berbunga mendengar penuturan Ameera yang jatuh hati pada pandangan pertama pada dirinya, sama persis seperti dirinya yang mencintai sejak mereka bertemu pertama kali. Ingin rasanya Richard teriak se-kerasnya agar dunia tahu kalau dirinya jatuh cinta dan telah dicintai.


"Kita mau di sini saja? apa jadi makannya nggak?" Ameera menyimpan tangan Richard di bulatan over gigi.


"Jadi dong, kamu mau makan di mana sayang?"


"Jangan dulu panggil itu deh, kamu bakal keceplosan saat bersama Bapak juga Pak Bagas."


"Ameera aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku."


Ameera tersenyum sambil melirik Richard di sampingnya, hatinya juga merekah, apalagi saat itu Richard juga sedang memandangnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ameera apa aku seperti anak remaja yang lagi jatuh cinta ya?"


"Seperti ABG malah."


"Walau aku mencintaimu saat aku sudah dewasa, tapi sama saja kalau soal masalah hati Ameera. Ameera Aku ingin membawamu ke tempat yang istimewa Aku ingin merayakan hari pertama kita jadi kekasih."


"Aku malu Rich, aku bukan remaja lagi."


"Apa perayaan hati, dan ungkapan cinta hanya milik remaja saja? tidak Ameera! aku akan buktikan kalau aku serius sama kamu."


"Tapi aku malah berpikir dan takut kamu berinvestasi di perusahaan ku hanya karena perasaan suka terhadapku?"


"Kita lupakan saja dulu proyek itu, karena aku juga sangat takut kamu menerima aku karena berinvestasi di perusahaan keluarga kamu, aku takut kamu simpatik padaku karena aku ini seorang investor."


"Kok kita berpikiran sama Rich?"


"Mungkin itu cinta yang sebenarnya Ameera." Richard melajukan lagi mobilnya dengan sebelah tangan masih menggenggam jemari Ameera.


******


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



Ana seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak yang tidak pernah memperhatikan penampilannya, hingga suaminya berpaling pada wanita lain. Ana berusaha menggoda lagi suaminya agar kembali ke pelukannya. Apakah godaan Ana berhasil? Akankah Prasetya, suami Ana, akan tergoda?


Let's check this out!!

__ADS_1


__ADS_2