Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Khawatir


__ADS_3

Ameera masuk kamarnya, habis mandi terasa segar walau otaknya tak sesegar tubuhnya


Pikirannya sangat kacau, membayangkan dan memikirkan langkah apa yang akan diambil nya selama seminggu ini, Mas Fathir akan berada di sini. Harus ada ketegasan dari dirinya jangan pernah memberikan sedikit pun kesempatan seolah masih ada hati dan harapan padanya.


Jangan pernah memberikan sinyal apapun selain ketegasan, juga Ameera berpikir bagaimana meyakinkan Richard bisakah orang itu mengerti?


Kadang Ameera belum tahu betul karakter yang sebenarnya, Richard hanya romantis, orangnya rapi, disiplin waktu, tampan sangat ideal itu tak bisa di ragukan lagu, seorang laki-laki yang tidak pelit, tapi sedikit tukang maksa.


Hari ini juga Ameera begitu kecolongan dua kali, benar adanya kalau seorang perempuan sudah bisa di peluk, pasti dapat di cium juga, itu dulu obrolan sama temannya masa-masa kuliah, tapi sekarang teori itu memang benar adanya semua tak terbantahkan.


Ameera tak bisa menolak saat Richard memeluknya dan saat menciumnya, memang ada keinginan dalam hatinya juga, sampai tak bisa mengelak hanya menikmati semua kehangatan yang di sodorkan.


Ameera mengusap bibirnya, yang masih terasa berdenyut saat irama bibir hangat Richard ******* nya dengan sedikit rakus.


Walau tanpa perlawanan, Richard begitu aktif menikmatinya, 'Lihat saja Richard kalau kita sudah halal kamu akan tahu seperti apa perlawanan ku.' Ameera tersenyum dalam hatinya, merasa lucu dan begitu penasaran akan kisah dirinya dan Richard selanjutnya.


Ameera menutup pintu dan menguncinya, saat ponselnya berbunyi nada panggilan.


"Ya, Aliyah ada apa?" Ameera menjawab panggilan adiknya.


"Kak, lagi di mana, ngapain?" tanya Aliyah di ujung telepon.


"Aku baru habis mandi, kenapa?" jawab Ameera sambil membuka handuk pembungkus rambut dan kepalanya.


"Ke vila deh sekarang ada perlu!"


"Ada perlu apa?"


"Di sini ada Pak Richard!"


"Ngapain?"


"Ya nggak tahu, mau ketemu Kakak katanya, kalau boleh mau ke rumah sekarang."


"Eh, jangan, jangan biar aku ke sana saja, tungguin di situ bilang sama dia."


"Iya, iya."


Ameera bergegas berdandan, memakai pakaian dan mengenakan kerudungnya, mengamati mukanya di cermin dan mengambil tas yang tergeletak di tempat tidurnya.


Ameera mengamati sekitarnya, orangtuanya tak kelihatan, juga Mas Fathir, hanya si Bibi yang lagi di dapur. Ameera menghampirinya.


"Bi, pada kemana Bapak sama Ibu? juga Mas Fathir?" tanya Ameera pada Bibi.


"Mereka katanya mau melihat ke tempat kebun Tangkil itu Neng."

__ADS_1


"Sore-sore begini?"


"Mungkin sambil jalan-jalan Neng, kenapa Neng Ameera nggak ikut?"


"Nggak, Aku ada perlu ke vila depan Bi."


"Iya Neng."


Ameera keluar rumah dengan lega, dirinya hanya ingin meyakinkan Richard kalau semua akan baik-baik saja.


Sampai vila, Richard sudah menunggunya dan langsung berdiri saat Ameera datang siap dengan pertanyaan.


Ameera memberi kode, menyuruh Richard masuk ke ruangannya.


"Ameera, ada apa? kenapa mereka datang ke sini?"


"Aku tidak tahu Rich, yang pasti Bapakku sama mertuaku adalah sahabatan sejak dulu." Ameera menyimpan tas di meja kerjanya.


"Yang aku maksud mantan suamimu yang tak tahu malu itu!"


Ameera memandang bola mata Richard yang kelihatan tidak tenang, ingin rasanya Ameera memeluknya menenangkan dirinya juga mencari ketenangannya sendiri dalam galau rasa dan pikirannya saatbini.


"Kamu kenapa emosi? itu hak dia masih menginginkan aku, masih berharap padaku, tapi aku tak sedikitpun masih ada rasa padanya, aku juga bingung dengan permasalahannya, kenapa baru sekarang dia menyadari kesalahannya?"


"Ameera, apa mereka masih ada di sini?"


"Ah, tak tahu malu itu orang!" sungut Richard geram.


"Sudahlah Rich, tak perlu emosi, bagaimanapun dia pernah ada di kehidupanku, hadapi saja dengan kesabaran tidak baik dihadapi dengan emosi jangan sampai kamu terlibat dalam masalah ini, ini masalah aku dengan mantan suamiku dengan mantan mertuaku, jadi kamu jangan pernah libatkan diri."


"Ameera, gimana aku nggak khawatir sama kamu? aku malah takut terjadi apa-apa sama kamu selama dia ada di sini, aku tak menghawatirkan perasaanmu padaku karena aku tahu hatimu mencintaiku, aku percaya kita akan melewati semua ini."


"Aku bingung Rich, pikiranku kacau nggak fokus dan kadang pengen marah, tapi aku berusaha menghindar, dan kemungkinan aki akan lebih banyak berada di sini."


"Ameera, Aku mau bahas lamaran ku padamu bagaimana? ayo kita pergi kemana yang kamu mau biar kamu merasa tenang." ucap Richard menawarkan.


"Richard berapa kali aku udah sampaikan sabar dulu nanti juga ada saatnya. Jangan menambah permasalahan dulu selesaikan satu-satu biar aku lepas status, kita seolah biasa saja dulu, aku percaya kamu bisa kan dengar aku."


"Kenapa Ameera? aku hanya mau meyakinkan orangtuamu kalau aku serius. Biar orangtuamu tahu kita menjalin hubungan."


"Tidak Richard, jangan dulu, biarkan saja aku masih bisa menghandle semuanya, tenang aja, tidak baik juga aku menghindar dari mereka."


"Ameera, pandang aku apa kamu percaya padaku? apa ada keyakinan di mataku? kalau aku begitu mengkhawatirkan dirimu?"


"Iya Rich ...."

__ADS_1


"Jadi kapan aku punya waktu bawa orangtuaku pada orangtuamu?"


"Richard, mengertilah akan ada saatnya. Aku juga pengen segera hubungannya kita ini halal."


"Ameera sayang, aku percaya padamu, jangan siksa aku lebih lama lagi."


"Iya Richard, jangan bahas itu dulu aku juga percaya, semoga kamu jadi yang terbaik buatku. Sekarang pulanglah nggak enak kita berduaan ada di sini," tutur Ameera memandang wajah Richard dengan perasaannya sendiri.


"Tapi aku masih kangen Ameera, nanti saja pulangnya ya!"


"Rich, seharian kita bersama, hari ini kita sudah melewati batas, aku tak bisa menolaknya, jangan sampai terulang lagi. Karena dahaga cinta tak akan terpuaskan dengan meminum lautan nya, semakin kita mencoba semakin ingin kita mengulangnya."


"Aku merasa bersalah Ameera, aku memang kelewatan, melihat kamu tidak marah malah aku semakin merasa bersalah."


"Jangan di bahas lagi, mungkin aku nggak akan tidur nanti malam, hanya mengingat kejadian di tempatmu tadi."


"Haaa ... makasih ya Ameera sayang, maaf ya aku janji nggak terulang lagi sampai kita halal nanti, Aku bawa ponsel nih buat kamu sama nomornya jangan isi dengan nomor lain ya, biar kita puas melepas kangen kalau bicara malam-malam."


"Richard, ini juga masih bagus kok."


"Nggak apa-apa pakai saja dua-duanya, aku ingin private sama kamu, habis aku bingung kasih apa, tapi aku pengen kasih sesuatu sama kamu."


"Kamu kelihatannya romantis Rich, apa nggak terlalu berlebihan satu ponsel dengan satu nomor?"


"Apapun akan aku lakukan buatmu Ameera, hati-hati ya, malah aku yang jadi cemas sendiri."


"Sekarang pulang, jangan banyak alasan lagi, mereka lagi ke proyek melihat semuanya."


"Iya aku pulang, tapi ...."


"Jangan ada tapi, aku janji kita test ponsel nanti malam." jawab Ameera sambil tersenyum.


Richard bangkit, karena hari sudah menjelang senja, Ameera berjalan bersisian dengan Richard keluar bersama lalu berjalan di halaman vila, Ameera mengantar Richard yang berjalan kaki menuju ke arah hotelnya.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2