
"Mas Jody, aku percaya kini kalau Mas itu serius sama aku." ucap Loka di samping Jody. Wajahnya sumringah tak seperti waktu pertamakali Loka diajak ke kantor lalu ke rumahnya.
"Lha, kan dari awal juga aku begitu serius Loka sayang ... makanya aku jujur semuanya, status aku, anak aku, juga keinginanku yang ingin menikahi kamu." jawab Jody. Tersenyum di samping Loka.
"Tapi aku masih malu Mas sama Mamamu yang begitu baik padaku." gumam Loka mengingat kembali betapa baiknya Mamanya Jody dalam bersikap walau mereka tahu dirinya hanya seorang penyanyi di klab malam juga dari orang yang biasa-biasa saja dalam kehidupan dan lingkungan sosialnya.
Yang masih begitu segan dirasa Loka sama Papanya Jody, selalu memandang penuh selidik dan selalu mengerutkan kening saat Loka bicara menyampaikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dan obrolan yang sedang mereka bicarakan.
Jody mengerti Loka tak sepintar istri dan ceweknya yang lalau-lalu, tapi kalau ketulusan dan kejujuran Jody tak meragukan lagi, sampai saat ini juga Loka mengaku masih perawan itu mungkin salah satu yang begitu Jody hargai, dari sekian banyak kekurangan dan kelebihan setiap cewek-ceweknya termasuk Loka.
Loka dirasa Jody terasa istimewa bahkan Jody merasa takut kalau sampai Loka marah dan mengabaikannya, apalagi sekarang Loka telah resmi di kenalkan sama kedua orangtuanya dan Kakak Jody satu-satunya.
Tinggal selangkah lagi Jody bisa hidup bareng Loka yang cantik tapi lugu, semua tak merubah rasa cinta Jody malah dirasa Jody semakin merasakan banyak warna dalam perjalanan cintanya dengan Loka.
Kecantikan tanpa polesan dan make up yang berlebihan, membuat Loka lain dari yang lain, mungkin dirinya yang harus lebih banyak mengarahkan dalam segala hal sepertinya kalau nanti mereka sudah berumahtangga, termasuk dalam urusan yang sangat pribadi yaitu hubungan suami istri.
Loka terkadang begitu polos menanggapi segala permasalahannya, terkadang nggak tahu sama sekali, ada juga dia begitu jujur mengungkapkan hal yang dirinya belum tahu.
"Ngapain malu? nanti juga Mamaku akan jadi Mama mertuamu Loka, jadi kapan aku diajak ke rumahmu?"
"Maunya Mas Jody kapan?"
"Lha, dari kemarin kemarin juga aku kan sudah minta?"
"Ya sudah, nanti aku sampaikan dulu sama keluargaku, tar Mas Jody aku kabarin kapan keluargaku siap menerima."
"Makasih Loka, aku tak sabar pengen cepat-cepat kita bisa tidur bersama." ucap Jody, sebelah tangannya meraih tangan Loka dan di genggamnya.
"Aku kerja berhenti mulai kapan Mas? kalau nggak kerja aku nggak punya duit apalagi nanti kita mau menikah pasti banyak kebutuhan."
"Biar aku yang ngomong sama Bos Richard, soal kamu berhenti kerja, nanti aku kasih kamu kartu biar kalau kamu perlu apa-apa tinggal pakai aja."
"Kartu apa Mas?"
Ya ATM Loka sayang, masa kartu tanda penduduk?"
"Heeee ... aku kira kartu apa."
"Kamu butuh duit berapa Loka? jangan bilang kamu nggak punya duit aku yang akan tanggungjawab semua biayanya, pokoknya kamu tinggal duduk cantik saja yang lainnya biar jadi urusanku."
"Duduk cantik itu gimana Mas?"
"Ya ampuuuuun ... Loka kalau kita sudah menikah nanti kamu harus siap di tempat tidur setiap aku mau, itu hanya istilah Loka,
sama saja artinya kamu nggak usah ngapa-ngapain tunggu aku pulang kerja dandan cantik masa aku harus ngomong gini, kamu tinggal ada di sebelahku setiap saat aku menginginkanmu."
__ADS_1
"Ah nggak ngerti, Mas Jody ngomongnya susah!"
Jodi meminggirkan mobilnya, menarik rem tangan dan membuka sabuk pengaman.
"Loka, setiap saat aku menginginkanmu itu seperti sekarang, contohnya aku sekarang lagi menginginkanmu coba sini kamu mendekat."
Loka membuka sabuk pengamannya, tangan Jody meraih tangan Loka menariknya perlahan hingga mereka begitu tanpa jarak.
"Mas mau apa?"
"Aku mau semuanya!"
"Tapi ini di mobil Mas."
"Aku tahu, ini bukan di rumah, tapi kamu selalu saja membuat aku hidup."
"Mas bicara apa sih? kita kan sama-sama hidup?"
"Yang lain Loka yang hidup itu, jauh di bawah perutku dan diatas pahaku, jadi obatnya sementara ini saja ya!"
Jody sekali lagi menarik tangan Loka lebih perlahan dan muka mereka beradu, Jody membuka bibirnya dan langsung menyergap bibir Loka dengan sekali hap dapat semuanya atas sama bawah begitu rakus.
"M-ma-mas ...." mulut Loka penuh dama bibir Jody yang begitu berniat pengen mencicipinya dari tadi.
"Ssssssssst, sayang kalau lagi ciuman jangan bicara, nikmatin saja."
"Lakukan apa yang aku lakukan ayo, gigit sedikit ****." Jodi memberi pelajaran pada Loka walau dirasanya lucu sekali.
Loka dengan ragu mulai melakukan sedikit demi sedikit, Jody merasa senang merasa ada perlawanan.
"Mas, udah belum?" saat Jody melepaskan ciumannya, membelai bibir Loka yang basah.
"Belum sayang, aku masih mau boleh kan? itu pelajaran pertama Loka, kalau kita nanti mau bercinta pasti begitu dulu biar badan kita panas."
"Panas?"
"Kamu merasakan rasa apa saat tadi aku cium?"
"Aku tak merasakan apa-apa cuma merinding dan nggak enak ke badanku Mas." ucap Loka sangat jujur.
"Kita coba lagi sekarang ya? terus rasa apalagi yang akan kamu rasakan." tutur Jody merasa mendapat kesempatan dan menaikkan tingkat pelajarannya.
Jody mengusap kepala Loka, membelai sebelah pipinya, dan menariknya kembali wajah Loka hingga tanpa jarak.
"Mas, kok tangannya jadi kemana-mana?"
__ADS_1
"Aku kan mencobanya Loka, sekarang gimana rasanya?" Loka berusaha menarik sebelah tangan Jody yang dengan nakal menyelinap ke balik pakaian Loka dan walau tanpa mata begitu tahu lokasi yang di inginkan nya. Tapi bukan Jody namanya kalau berhenti sampai di situ.
Jodi tahu sesuatu yang sangat menarik dan titik-titik pusat rangsangan dan bagaimana memainkannya biar semua merasa saling menikmati.
"Mas, semakin nggak enak saja, bener aku merasakan lain."
"Bagus Loka! berarti kita sama-sama kena setrum kalau kamu merasakan semakin nggak enak, tapi aku malah semakin merasakan enak."
"Aku meriang Mas, seperti demam."
"Itu normal."
"Mas, aku basah!"
"Berarti sempurna pelajaran kita kali ini."
"Sudah Mas, kalau sudah sempurna, aku malu takut ada orang ngintip kita masa kita belajar di mobil?"
"Sempurna kalau sudah dua-duanya Loka, aku kan baru pegang satu."
"Udah ah Mas, nanti saja kapan-kapan satunya lagi aku nggak tahan!"
"Heeee ... akhirnya kamu pintar juga Loka." Jody menarik tangannya dari balik pakaian Loka.
Sesuatu yang mungkin belum pernah terjamah, Di sentuh Jody yang sudah kawakan kontan saja Loka panas dingin dan meriang merasakan keanehan yang di terima tubuhnya.
Loka kelihatan pucat pasi, Jody merasa khawatir takut Loka pingsan dan takut Loka pasrah dan dirinya menuntut lebih saat nanti mereka sampai kost-kostan.
Jody tak mau melakukan semuanya, saat mereka belum halal melakukannya, karena akan merasa bersalah saat memanfaatkan kesempatan.
"Loka! kamu nggak apa-apa?"
"E-e-enggak kok, aku cuma mau ke kamar mandi Mas."
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏p