Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Anggun bak Model


__ADS_3

"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salaam,


"Mari silahkan duduk ada yang bisa di bantu?" Suara empuk Ameera mempersilahkan Benny yang datang langsung ke Vila Melati hanya sekedar silaturahmi antara tetangga sebelah. Sambil Benny mencari tahu informasi dan berusaha masuk celah di keluarga Vila Melati.


Ameera menyimpan alat tulisnya dan menutupkan bukunya, memandang Benny yang baru pertama kali mereka bertemu.


Benny mengajaknya bersalaman dan berkenalan, dengan menyodorkan tangannya tapi Ameera bersalaman dari jarak jauh dengan menyatukan kedua tangannya di dada.


Benny tertegun, perempuan cantik dengan begitu modis, belum pernah melihat perempuan dengan hijab modern lengkap yang begitu anggun, perawakan bak model dan artis begitu enak memandangnya.


"Silahkan duduk Pak, aku Ameera pengelola Vila Melati di sini." Ameera meraba dadanya dengan sebelah tangannya.


"Benny, pegawai dari hotel baru sebelahnya vila ini."


"Oh ya? senang bisa berkenalan dengan orang The Rich Hotel, itu kan namanya?"


"Iya, The Rich Hotel, mungkin diambil dari nama pemiliknya."


"Nama yang bagus! semoga Hotelnya berjalan dengan lancar dan baik." Ameera tersenyum menatap Benny.


"Saya hanya membawa misi dari pemilik hotel sebelah Bu Ameera, juga dengar khabar dari orang-orang kalau sekiranya vila ini mau di jual, apa itu benar? pemilik The Rich Hotel berminat membeli vila ini seandainya tadi itu, ingin di keluarkan oleh pemilik vila ini."


"Oh ya? perasaan kami dari pihak pemilik dan pengelola tak mengeluarkan dan menyebarkan berita kalau vila ini akan dijual, kami jadi tanda tanya Pak Benny!"

__ADS_1


"Oh, begitu ya? Tapi seandainya akan di jual Bos Richard sangat berminat dengan vila ini."


"Jadi Richard ya Bos kalian itu? sampaikan pada pemilik The Rich Hotel kalau kami dari pihak pengelola dan pemilik tak ada niat sedikitpun untuk menjual vila kami ini, dengan harga berapapun. Jadi jelas pernyataan ini Pak Benny dengar langsung dari ahli waris keluarga H. Marzuki, saya sendiri anaknya dan keluarga H. Marzuki sekali lagi tak ada niat menjual vila ini."


"Baiklah Bu Ameera, saya jadi jelas kalau dengar dari pengelola juga pemiliknya langsung."


"Ralat! aku bukan pemiliknya hanya pengelola, vila ini masih milik orangtuaku H. Marzuki, tetapi cukup pernyataan ku tadi mewakili dari pemilik vila ini."


"Oke Bu Ameera, bahasan tentang vila jelaslah sudah di dengar, maaf Bu Ameera sama orangtua maksud saya Pak Haji asli orang sini?" Benny bicara dengan hati-hati.


"Sepertinya Pak Benny ahli negosiasi juga ya, berusaha mencari celah untuk tahu keluargaku. Baiklah ke-dua orangtuaku asli sini masih keluarga dari pendiri Yayasan yang paling terkenal di daerah sini yaitu Al-Ikhlas, keluarga kami di bidang pendidikan juga ada usaha lain seperti vila ini, dan satu lagi perkebunan milik kedua orangtua saya perkebunan Pala dan Melinjo yang sekarang di kembangkan menjadi agrowisata masih dalam tahap pembenahan."


"Wah, saya beruntung bisa berkenalan dengan Bu Ameera anak dari pengusaha sukses juga."


"Tidak juga, jangan berlebihan kami orang biasa saja hanya punya usaha kecil-kecilan yang di kelola keluarga, vila kami hanya begini masih bangunan tempo dulu, tapi Alhamdulillah rame terus tiap weekend selalu penuh."


"Kalau saya boleh tahu, kenapa pemilik The Rich Hotel begitu tertarik dengan dengan vila kami ini? apa untuk pelebaran dan perluasan saja?"


"The Rich Hotel Puncak ini menjadi pusat dari semua hotel Bos Richard, tempat ngantor dan dia juga tinggal di sini juga, dalam pengajuan rapat beberapa bulan lalu manajer night club mengajukan perluasan klab malam itu karena di rasa kurang luas, berawal dari situ Bu Ameera."


"Begitu ya?"


"Bos kami bersikeras kalau bisa ingin memiliki nggak semua juga sebagian dari area vila ini."


"Saya jadi ingin bertemu dengan Bos Pak Benny itu, biar saya memberi pengertian kalau memungkinkan The Rich Hotel juga mau saya beli kalau di jual! tolong sampaikan seperti itu Pak Benny!"

__ADS_1


"Haaa ... maaf Bu Ameera jangan emosi, saya hanya menyampaikan saja."


"Saya tahu keinginan kalian Pak Benny tapi sepertinya salah sasaran, saya dan keluarga tak ada minat untuk menjual lahan vila ini, apalagi untuk di jadikan perluasan klab malam."


"Baiklah Bu Ameera, maafkan saya semoga kita tetap menjadi tetangga yang baik. Saya tunggu lho kalau Bu Ameera berkenan mengunjungi hotel kami."


"Sama-sama Pak Benny, maafkan saya juga, semoga suatu saat saya bisa berkunjung dan bertemu langsung dengan pemilik hotel itu."


"Dengan senang hati Bu Ameera semoga kita bisa sharing apa-apa tentang perhotelan dan usaha kita."


Ameera tersenyum mengangguk.


Benny bangkit dari duduknya membungkuk, dan mohon diri. Begitu juga Ameera berdiri dan berjalan mengantar Benny ke depan. Benny berjalan sampai hilang terhalang tembok gerbang depan dalam pandangan Ameera.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏



__ADS_2