Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Virgin


__ADS_3

Jody pulang dengan mengantar Loka ke kontrakannya, Mobilnya tidak bisa masuk ke gang sempit terpaksa di tinggalkan di pinggir jalan raya di depan toko yang tutup. Jody dan Loka berjalan bersisian, ingin rasanya Jody menggandeng tangan Loka, tapi semua malah serba salah, setelah mendengar pengakuan dan keterangan kalau Loka bukan seperti perempuan klab malam yang lainnya.


Di situ Jody harus mengerti, ikrar pertemanan yang di ucapkan di awal pertemuannya dengan Loka. Dimana harus saling menghargai karena itu adalah prinsip dasar seseorang.


Sampailah mereka di deretan kontrakan rumah petak yang terdiri dari beberapa pintu. Jody tertegun tak bisa membayangkan dirinya hidup di dalam satu ruangan yang hanya seukuran kamar mandi di rumahnya.


Kontrakan terdiri satu kamar tapi lumayan luas untuk di huni dua orang yang pada kenyataannya hanya di tinggali Loka sendiri.


Pintar juga Richard untuk otak mesumnya, ceweknya di kasih kontrakan formalitas tapi tinggalnya sama dia siang malam, yang tinggal di sini Loka temannya Annet, aneh memang.


"Masuk Jody, maaf tempatnya hanya begini." Loka menyimpan tasnya di atas tempat tidur.


"Bos mu pelit amat Loka, harusnya kontrak apartemen bukan kontrakan petak gini." Jody masuk dan langsung tiduran di tempat tidur.


Loka memandangnya dengan tanpa kata, hanya berdiri di dekat pintu keluar yang terbuka.


Jody bangun dan duduk, merasa bersalah.


"Oh, maaf Loka aku lelah jadi nggak sadar melihat tempat tidur aku jadi pengen tiduran heee ...."


"Aku selalu maklum Jody, apalagi profesi ku yang mungkin kurang beruntung di mata dan pandangan sebagian orang, mungkin juga di matamu. Sungguh ini adalah pekerjaan hobi ku sebelum aku mendapatkan tempat yang lebih baik lagi." Loka sedikit curhat.


"Kenapa kamu bisa sampai bekerja di sebuah klab malam? maaf, yang notabene adalah kumpulan orang-orang bebas dan hanya cari kesenangan? Jarang sekali orang di dalamnya dengan prinsip sepertimu itu Loka?"


"Aku ingin punya penghasilan Jody, tapi aku nggak punya kemampuan apapun selain nyanyi. Aku tahu profesi Annet juga penyanyi, walaupun sudah aku katakan tadi Annet hanya membungkus profesi aslinya, Annet melangkah terlalu jauh dengan cita-citanya."


"Maaf Loka, seandainya tadi di awal aku mengira profesi kamu sama aja seperti yang lain, tapi setelah aku mendengar semua yang kamu ucapkan aku begitu menghargai kamu."


"Terima kasih Jody, tak semua orang bisa langsung percaya dengan ucapanku, memang lingkungan yang penuh perjuangan, juga profesi yang sangat rentan dengan segala sesuatu yang bertentangan dengan prinsipku."


"Loka, aku bertanya padamu mungkin ini terlalu lancang juga, tetapi aku ingin tahu satu hal dari kamu. Jangan tersinggung dengan pertanyaan ku ini, karena kita telah bersahabat walaupun itu dimulai dari beberapa jam lalu." Jodi menatap wajah cantik Loka di terang lampu kamar yang tak terlalu terang.


"Bertanyalah Jody, apa yang kamu tanyakan?" Loka menerka kira-kira apa yang akan ditanyakan Jody pada dirinya.


"Apa kamu masih perawan?" Sejenak Loka terdiam sebelum menjawabnya, jarang sekali ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, di zaman sekarang mungkin seseorang mengatakan masih virgin atau perawan itu adalah sesuatu hal yang aneh bahkan bagi sebagian remaja dalam pergaulan tertentu tidak perawan itu adalah suatu kebanggaan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tanyakan itu Jody?" Loka menatap wajah tampan tapi kelihatan sudah begitu berpengalaman.


"Karena kamu hidup dan berkarir di lingkungan seperti itu, otomatis godaan dan tawaran menggiurkan pasti ada saja datang padamu, jujur Loka aku juga bukan orang baik, tapi aku berusaha jadi orang baik dan memperbaiki diri, juga mencari orang baik untuk teman hidupku."


"Aku masih perawan Jody, dalam arti belum pernah berhubungan badan dengan siapapun. Soal godaan dan tawaran yang menggiurkan itu jelas tidak sedikit, bahkan Annet sendiri menawarkan seandainya aku ingin berubah pikiran." Loka sedikit malu, tapi kenapa harus malu? bukankah itu kenyataannya?


"Loka, sampai kapan kamu mempertahankan semua itu."


"Aku tidak tahu Jody, mungkin sampai aku bertemu dengan seseorang yang akan berubah haluan hidupku. Mengajak aku berumah tangga mungkin aku akan persembahkan semua itu untuk seorang suami yang aku cintai."


"Aku harap jaga prinsip mu itu, dan semoga akan ada seseorang mengubah haluan hidupmu Loka."


"Terima kasih Jody, kamu memang baik."


"Oke Loka, karena telah terlalu larut aku pamit pulang dulu, nggak enak juga berlama-lama kita ada dalam satu ruangan hanya berdua, pandangan orang pasti lain walaupun kita tidak melakukan apa-apa."


Loka tersenyum dan mengangguk.


"Maaf, tadinya aku mau ajak kamu istirahat, dan bersenang-senang di kamar hotel, tapi setelah tahu siapa kamu dan kita ngobrol jauh aku jadi berpikir lain dan mengurungkan niatku."


"Nggak apa-apa Loka, senang berkenalan denganmu. Boleh kita besok-besok bertemu dan ngobrol lagi?"


"Boleh, kenapa enggak?"


Jodi mencabut dompetnya di saku belakang celana kanvas nya, lalu mengambil begitu banyak lembaran uang disimpan di samping meja TV.


"Aku hanya membayar terimakasih untuk waktu ngobrolnya Loka, jangan anggap apa-apa, juga jangan menolaknya."


"Jody, maaf aku tidak menjual waktu ngobrol kita, kenapa kamu membayarnya? bukankan kita sudah jadi teman?"


"Ssssssssst ... justru karena aku teman kamu, jadi aku begitu menghargai waktu kamu. Anggap saja kamu telah bernyanyi untukku."


Loka menggenggam uang yang di ambilnya di dekat TV.


"Jody! aku jadi merasa bersalah. Aku bukan seperti orang yang ada dalam angan dan harapanmu."

__ADS_1


"Kalau kamu tidak menerima uang itu, aku tak akan datang lagi ke klab malam Bos mu, dan berhenti menjadi penggemarmu!"


Jody melambaikan tangannya.


"Selamat malam Loka, selamat istirahat."


"Selamat malam juga Jody, hati-hati sudah malam."


Jody tersenyum, berjalan keluar di antar tatapan Loka yang juga tersenyum.


Satu pelajaran sangat berharga Jody dapatkan malam ini, yang tadinya dirinya ingin bersenang-senang ingin membawa piknik 'jagoan' kesayangannya setelah sekian lama bertahan dalam kesendirian.


Dari kemarin kemarin Jody hidup dalam aturan orangtuanya setelah gagal dan bercerai untuk ketiga kalinya. Masih bisa di tahan untuk mendapat simpatik orangtuannya, berusaha melepaskan juga membuang angan dan pikiran kotornya akan perempuan dengan mengalihkannya pada olah fisik dan nge-gym.


Tetapi kini Jody dihadapkan kepada kenyataan lain yang di rasa aneh tapi menggelitik dan menantang untuk di taklukan.


Bukan Jody namanya kalau tak sanggup mendapatkan perawan klab malam Bos Richard, tunggu saja tanggal mainnya.


Ada semangat di hati Jody, ingin lebih dekat lagi dengan gadis itu. Satu yang masih menjadi pertanyaannya kenapa dia masih perawan? tapi kerja di klab malam? cantik putih mulus begitu menarik hatinya, menarik bisa datang dan melihatnya lagi.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_1


__ADS_2