
"Zen! Dari mana saja semalaman nggak pulang?" ucap Tante Diana dengan nada tak suka kehilangan malam bersama Zen.
"Aku hanya cari angin saja dan menikmati suasana sambil cari peluang dan strategi baru kenapa memang?" jawab Zen dengan santai.
"Kamu habis ketemu mantan istrimu ya? Atau ketemu kekasihmu dulu yang kata Kamu waktu itu lagi mengandung Anakmu?"
Ya Aku memnag mrncari Annet dan bertemu hanya bertanya saja dan memang outraku sudah gede."
"Ah, sial! sampai harus semalam kah kalian bertemu?" ucap Tante Diana dengan nada cemburu.
"Eh, kok ngomongnya jadi begitu? Kenapa memang kalau Aku bertemu Ibu dari Anakku? salah?"
"Zen! Semalam Aku menunggumu ponsel tak bisa di hubungi! Jangan sampai Aku marah, Kamu harus mengerti kalau Aku juga butuh Kamu!"
"Tante, Aku hanya ingin bertemu Anakku selebihnya tak ada yang lain walau Aku merindukan Annet tapi Dia sudah menikah dan malam tadi malam terakhir Annet kerja di The Rich Hotel karena ingin total mengurus Anak dan itu permintaan suaminya."
"Begitu ya? lalu tak terjadi apa-apa semalaman Kamu tak pulang?" cecar Tante Diana dengan nada curiga dengan alasan Zen.
"Maksud Tante apa? Yang Aku pikirkan hanya bisnisku yang belum jalan dan Anak-anakku. Aku hanya ngobrol sebentar sama Aneet dan memang besok merencanakan Dia akan mempertemukan Anaknya denganku dan juga bersama suaminya kalau Tante pengen ikut juga Ayo mari Aku perkenalkan pada mereka biar bicaranya tidak seperti menuduh begitu. Aku begitu menghargai keputusan Annet yang ingin berumah tangga dengan benar Aku tidak boleh egois dan memaksakan keinginanku walaupun harapan terbesarku setelah keluar dari penjara Aku ingin memulai hidup bersamanya tetapi kenyataan berbicara lain Annet sudah berkeluarga dan istriku sudah menceraikan ku," ucap Zen mengerti kecemburuan Tante Diana.
"Baiklah Zen, Aku percaya tapi Aku tak mau kehilangan malam bersamamu Aku kedinginan dan cemburu Kamu pergi keluar dan ponsel tak bisa di hubungi!"
__ADS_1
"Buat apa Aku mencari di luar kalau di sini ada yang nyaman?"
"Ah, Zen Kamu bikin Aku cemburu saja!"
"Kapan modal itu bisa semuanya cair biar Aku bisa tetap ada di rumah dan mengendalikan semuanya dari sini?" ucap Zen sambil berjalan ke kamar dan membuka kancing kemejanya.
"Maunya Kamu kapan Zen? kirim barang yang akan di beli dulu duit tinggal pijit tombol semua bisa diatur, Aku suka semangatmu tapi tidak suka kebohonganmu."
Zen tersenyum melihat Tante Diana mengikutinya ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Tante Diana seperti baru melihat tubuh Zen yang begitu kekar dan sedang menganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Zen sengaja mencari pakaiannya di lemari itu di lama-lama sehingga Tante Diana yang mencarikannya.
"Tak usah mencari pakaian dulu buatku Tante, bukankan Tante menginginkan ini?" Zen menunjuk bawah perutnya yang sudah menggunung.
"Ah Zen, Aku tak memainkannya semalam saja begitu pening kepalaku!" Suara Tante Diana terdengar parau dan penuh damba dan langsung menyergapnya menuntaskan satu lagi penutup di badan Zen.
Dengan sempurna Zen memperlihatkan keperkasaannya yang sudah tegak membuat Tante Diana menelan ludahnya berkali kali melihat pemandangan yang aduhai maksimal dengan bulu-bulu yang begitu lebat sampai ke dadanya.
Sekilat Zen menarik pinggang Tante Diana merapat ke tubuhnya dan perlahan satu demi satu melepaskan semua penutupnya, dada yang begitu subur tersaji di hadapannya menantang Zen untuk segera membenamkan mukanya di belahan dan berlama lama di area hangat itu.
"Ah Zen, Aku bisa gila kalau Kamu tak pulang-pulang!" desah suara Tante Diana saat mulut Zen dengan rakus melahap kuncup kecoklatan dan sebelah tangannya meremasnya perlahan dalam posisi berdiri.
__ADS_1
"Zen, lakukan lebih Aku begitu menginginkannya pagi ini!"
Tanpa jawaban Zen membopong tubuh sintal yang begitu doyan bergoyang itu.
Sekali hentak tubuh mereka bersatu salam penyatuan terlarang, Tante Diana seperti kepedasan saat benda milik Zen yang begitu dikaguminya karena ukuran dan kekuatannya memasuki lorongnya. Zen dengan kuat menekan dan menghentak hentakkan dengan lincah membuat terlatih.
"Ah Zen, berapa modal awal yang harus Aku transfer Sayang?"
"Seratus juta dulu Tante, berangsur saja sambil Kita menikmati pendakian seperti ini."
"Aku suka Zen! sungguh Aku suka semua permainanmu dan junior mu memang begitu kuat bikin aku puas dan mengerang setiap malam."
"Hahaha ... Tante juga memang laur biasa juga perlawanannya Aku jadi merasa tertantang kalau belum membuat Tante terkulai karena nikmat!"
"Zen, Aku rela memberi semuanya padamu Sayang asal tubuhmu dan junior mu hanya untukku," bisik Tante dianna di sela sela menahan hentakan kuat yang sangat di sukanya.
Semua buat Tante
*******
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️
__ADS_1