
"Halo Benny, ya ampuuuuun ... habis waktu gue nunggu lo!" Richard begitu kesal sudah hampir jam sembilan Benny belum kelihatan batang hidungnya.
"I-iya Bos, aku Hanna sepertinya Abang nggak bisa kerja hari ini."
"Oh, Hanna? mana pengantin barunya satu lagi?"
"Sakit Bos."
"Sakit?"
"Nggak bisa bangun."
"Apa? nggak bisa bangun?"
Richard mengikuti kata-kata Hanna.
"Iya Bos, semalam terlalu memforsir diri, sampai tak terhitung entah berapa kali dia meminta, nggak ada puas puasnya, paginya nggak bisa bangun aku pelan-pelan bangunin badannya sakit semua katanya barusan bisa ke kamar mandi tapi sepertinya jalannya masih susah, aku memapahnya katanya sekujur tubuhnya sakit seperti habis marathon 10 k, jalan bisa walau tertatih sekarang lagi berendam air hangat."
"Haaaaaaaa .... haaaaaaaa .... Benny, Benny dasar lo nggak pengalaman banget, mestinya lo bilang dulu kalau mau nikah biar ikut nge-gym dulu sebagai pemanasan." Richard terpingkal-pingkal sendiri, tertawa dengan puasnya.
Hanna serba salah di ceritakan memalukan kalau nggak di ceritakan nggak punya alasan lainnya, mau tidak mau akhirnya cerita juga.
Richard terbahak sendiri dengan nikmatnya, terbanyang Si Benny buka koper pertama kali, matanya pasti seperti mata belalang melotot tak berkedip, melihat pemandangan yang baru di lihatnya, dan menyeruduk liar tak terkendali, memilih mana dulu yang paling enak, sudah kayak anak kecil di kasih mainan dan makanan kesukaannya.
Membayangkannya saja sudah lucu apalagi dengar langsung dari Benny, Richard berpikir mungkin dirinya juga akan seperti itu kalau lama puasa, tapi dirinya selalu mengimbanginya dengan berolahraga.
Dulu Benny juga rajin suka ikut nge-gym atau sekedar joging cucimata tapi ke sini sini jadi malas karena kesibukan.
__ADS_1
Richard tak sadar memutus sambungan telephon sama Hanna, sampai lupa tanya apa pedangnya Benny tidak lecet?
Richard berpikir sendiri, kalau hari ini Benny sampai nggak masuk dirinya harus bertemu Ameera bagaimanapun caranya
Semalam habis waktunya buat berkhayal, tak berpikir apapun selain tentang Ameera dan harapannya yang ingin Richard bangun bersama.
Tapi sampai saat ini Richard belum bisa menyatakan perasaan sukanya dan mungkin perasaan cintanya.
Richard mengambil ponselnya membuka satu nomor dengan gambar profil sangat cantik, Ameera. Hatinya selalu deg-degan setiap melihat atau akan berinteraksi sekedar menelephon nya.
Richard menimbang-nimbang ponselnya, sambungkan nggak ya? Ameera lagi ngapain jam segini? apa lagi sibuk?
Semua keraguannya kalah oleh suatu keinginan yang begitu besar, di dorong oleh rasa rindu dari datang dari dalam hati juga kangen segalanya akan sosok Ameera ingin melihat wajahnya ingin mendengar suaranya, ingin berlama-lama ngobrol cerita apa saja sambil memandang wajah cantiknya walaupun cuma itu membuat hati Richard bahagia.
Kasmaran tak bisa di bendung lagi tak perduli apapun baik pekerjaannya, keadaan hunian yang berantakan karena Hanna tak masuk kerja, sejak Richard marah marah lanjut kasus walkout Hanna sama Benny kemarin.
Richard ingin menyentuh Ameera dengan cara halal dan betapa itu semua akan terasa indah pada waktunya, impian terbesarnya saat ini hanya itu. Adakah hati Ameera merasakan hal yang sama seperti yang di rasa dirinya?
Richard menekan satu tombol dan langsung mendapat jawaban.
"Assalamualaikum Richard, selamat pagi menjelang siang, ada yang bisa di bantu?"
Yups ... deg! jantung Richard berdetak kencang, mendengar suara Ameera di ujung telephon.
Sejenak Richard bingung seperti terhipnotis suaranya mendadak hilang, kata-kata yang tadi sudah terkumpul begitu banyak tinggal membuncahkan sebagai kata yang indah dan sedikit gombal, tapi kenapa begitu sulit mengeluarkannya, semua seakan hilang lenyap entah kemana secara tiba-tiba.
"Halo! Rich masih di situ? ada apa?"
__ADS_1
"Halo Ameera cantik, aku sudah nggak ada di sini!"
"Maksudnya?"
"Aku sudah ada di dalam hatimu, heee ...."
"Ih, kok gitu? masa tiba-tiba main masuk saja nggak minta izin dulu?" Ameera terdengar tertawa renyah.
"Oh, mesti izin dulu ya? kalau izin dulu malah takut nggak dapat izin, izinnya nanti saja sudah kepalang nyaman."
Ameera tak bisa menyembunyikan hati dan perasaannya, selain sama deg-degan juga Ameera bisa melihat sorot lain di mata Richard saat mereka berjumpa, dan ngobrol bersama.
Hati Ameera seperti sama jatuh hati pada pandangan pertama, merasa tertarik dengan ketampanan Richard, dengan ilmu bisnisnya, juga dengan ilmu kesuksesannya.
"Curang deh!"
"Ya sudah aku ketemu kamu sekarang, kalau nggak kamu ke sini biar sekalian aku minta izin buat masuk di hatimu!" Richard merasa menemukan celah diantara obrolannya di telephon dengan Ameera.
"Biasanya yang mau izin yang datang!"
"Dengan senang hati Ameera, aku setiap saat akan datang padamu."
*****
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
__ADS_1