
"Hanna biar semua jelas ayo kita sekarang juga konsultasi sama orang yang tahu dan bisa memberi penjelasan pada kita." Benny setengah mendesak Hanna.
"Abang mau kalau kita ngomong dulu sama Kakakku?"
"Ayo, kenapa enggak?"
Benny sama Hanna keluar dan pamit sama Ibunya Benny, mereka menuju ke rumahnya Hanna yang di sebelahnya rumah Kakak laki-lakinya.
"Hanna aku sepertinya yakin dengan keputusan ini, karena aku merasa nggak kuat." Benny memperlihatkan mimik lucu.
"Abang kenapa?" Hanna merasa heran.
"Aku harus menikah sama kamu pokoknya, asal Kakakmu setuju besok kita menikah saja ya?"
"Kok cepet banget sih? bilang sama Kakakku belum, sama orangtua Abang juga belum gimana ini?" Hanna jadi bingung.
"Daripada kita kebablasan dan menimbulkan fitnah, kita menikah siri aja dulu, aku lagi menyelesaikan pembangunan rumah Hanna mungkin tinggal dua puluh persen lagi selesai, tapi aku kebelet pengen nikah secepatnya."
"Iya, aku mengerti Bang tapi Kakakku mengerti enggak?"
"Semoga saja mengerti!"
Hanna tersenyum, perkiraannya tak jauh meleset, kalau Benny benar-benar jatuh hati pada dirinya, sekali tembak langsung kena sasaran dan ngajak nikah.
Mereka sampai di rumah Hanna dan kebetulan Kakaknya Hanna juga ada. Benny yang sudah kenal sama Kakaknya Hanna merasa heran tiba-tiba di panggil seperti ada yang mau di bicarakan serius.
"Han, ambil minum buat tamunya kalau nggak di rumah sebelah sama makanannya." ucap Kakaknya Hanna di tujukan pada Hanna sendiri.
Hanna datang dengan minuman dan makanan kecil di piring. Lalu di simpan di meja sofa di hadapan Benny sama kakaknya.
Setelah berbasa basi sedikit akhirnya Benny mengutarakan niat yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kalau aku sih terserah yang mau di nikahinya yaitu adikku Hanna, sebagai Kakak aku hanya bisa mendukung cuman kenapa harus nikah siri dulu? apa karena Hanna sudah berstatus pernah berumahtangga tapi gagal?"
"Oh, bukan itu Bang, aku tidak melihat itu semua, aku tulus punya tujuan baik, alasan utama yaitu kami bertemu setiap hari dan malam, takut kami tidak bisa menahan diri, ya seperti inilah antisipasinya."
"Benny, Hanna, pernikahan siri itu sah di mata Agama, selama calon pengantin bisa menghadirkan wali, dua orang saksi dan melakukan ijab qabul maka pernikahan adalah sah di hadapan Tuhan dan agama. Memang seringkali nikah diri disalah-gunakan oleh beberapa pihak untuk keuntungan sendiri. Namun kembali lagi kepada personal masing-masing apabila tulus ingin menjalankan ibadah dan niat baik, serta semua syarat terpenuhi maka tidak ada yang salah dengan pernikahan ini." ucap kakaknya Hanna panjang lebar.
"Saya sama Hanna ingin menghindari fitnah juga Bang, karena ada kalanya seseorang mengalami masa dewasa dan tak bisa menahan diri. Seperti kami sudah menjalin cinta dengan menahan diri tapi belum pas waktu untuk merayakan secara resmi apa salahnya menikah siri dulu? nanti rumah sudah selesai dan jadi di bangun pasti kami jauh lebih mantap untuk menikah secara resmi." Benny nggak sabar mendengar persetujuan dan kata oke Kakaknya Hanna.
"Bisa di pahami Benny, Hanna, kalian memilih jalan praktis.
Menikah siri akan jauh lebih mudah karena tidak perlu mengumpulkan berkas-berkas persyaratan seperti menikah resmi. Kalian hanya perlu mendatangi tokoh agama yang dapat membantu kalian melaksanakan prosesi ijab qabul."
"Iya Bang, mengingat kesibukan kami berdua dan biaya yang harus di siapkan, sedang sekarang saya lagi di alokasikan dananya buat bangun rumah, jadi pilih yang praktis saja dulu, proses yang praktis tentu tidak mengurangi niat baik, biaya untuk nikah siri menjadi lebih murah. Pengantin juga tidak perlu mengadakan resepsi yang besar seperti kebanyakan pengantin yang menikah secara legal."
"Tapi kalian jangan mengabaikan kekurangan dari nikah siri itu.
Secara aspek sosial, seorang wanita yang menikah siri masih dianggap kurang baik. Hal ini dikarenakan pasangan tersebut belum memiliki ikatan perkawinan yang sah di hadapan negara. Mereka belum tercatat secara resmi sebagai suami-istri."
"Iya, Abang mengerti ini hanya sebagai peringatan untuk kalian yang akan menjalaninya.
Juga yang harus kalian pikirkan adalah status anak kalian nantinya. Anak yang lahir dari perkawinan secara siri hanya akan memiliki hubungan perdata dengan ibunya. Bahkan statusnya dianggap sebagai anak yang lahir diluar nikah. Kesulitan mendapatkan akte kelahiran juga akan dialami sehingga akan mempersulit sang anak ketika akan sekolah. Abang merestui tapi dengan syarat secepatnya meresmikan pernikahan kalian."
"Iya Bang, kami siap mempersiapkan tabungan untuk itu." Benny begitu bersemangat.
"Harus, karena selain ikatan tidak kuat karena tidak tercatat dengan resmi di KUA, ikatan pernikahan seakan-akan memang rentan dan memiliki pondasi yang lemah. Hal ini memang bergantung kepada mereka yang menjalaninya. Akan tetapi seringkali pihak wanita dirugikan dengan ikatan yang lemah seperti ini. Aku tidak mau hal lain terjadi lagi pada Hanna."
"Aku mengerti Bang, ini hanya keadaan belum memungkinkan saja buat kami, tapi kami seperti tak bisa nahan untuk segera menikah, Aku tahu pihak wanita tidak mendapatkan warisan atau harta gono gini, semua itu tidak akan terjadi dengan Hanna."
"Satu lagi bagaimana persetujuan orang tuamu Benny?"
"Mereka yang akan paling merasa senang seandainya aku sama Hanna jadi menikah."
__ADS_1
"Ingat satu hal Hanna, dan ingatkan nanti suamimu, jika sampai terjadi kematian atau perceraian, istri yang menjalani nikah siri akan sulit mendapatkan warisan atau harta gono gini dari pernikahannya. Hal ini disebabkan pernikahan mereka tidak dianggap sah dan belum tercatat."
"Iya Bang, setelah menikah kami langsung merencanakan menikah resmi."
"Jangan tunggu lebih lama lagi, sore ini ayo akan aku nikahkan kalian berdua di tempat sodara pemuka agama, kalian berdandan lah, kalau kalian sudah siap kenapa harus di tunda-tunda?"
"Apa? sekarang Bang?" Benny merasa gembira, sedang Hanna hanya melongo hati begitu menghangat.
"Iya! biar nanti malam kalian sudah resmi jadi suami istri, kamu Benny persiapkan maskawin sederhana buat calon istrimu!" ucap Kakaknya Hanna sambil berlalu mau berdandan.
"Hanna! apa kamu siap? kamu minta apa maskawin atau maharnya?" Benny menatap Hanna seakan tak percaya.
"Aku terserah Abang saja, asal jangan di hutang saja."
"Haaaa ... nggak Hanna, masa aku yang minta kita menikah dan kamu akan menyerahkan jiwa raga kamu maharnya di hutang?"
"Aku telah mempersiapkan sesuatu yang istimewa, tapi ada di rumahku. Aku pulang dulu ya, sayang kamu dandan yang cantik aku juga pulang dulu sekalian jemput Ibu bapakku."
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1