
Ameera pulang dengan senyum di bibirnya, candaan Richard benar-benar membuat dirinya merinding.
Sesuatu yang muncul di bawah perut Richard walau di tutupin selimut membuat Ameera malu.
Richard menyebutnya senjata kesayangan buat istrinya suatu saat.
Richard memang suka bercanda, apalagi bercanda ala orang dewasa, kadang membangkitkan rasa kesepian Ameera selama ini.
Apalagi saat mereka berkencan lewat telephon malam-malam kadang membuat Ameera susah tidur sendiri di kamarnya.
Pikirannya jadi kotor dan tak terbatas, terkadang Ameera suka bohong kalau Richard sudah bercandanya keterlaluan. Ameera minta selesai bicara mereka dengan alasan karena ngantuk. padahal Ameera merasa tersiksa sendiri dengan kata-kata sayang Richard yang sangat membuainya.
Ingin segera Ameera sampai rumahnya dan biasanya Richard sepersekian menit langsung meneleponnya, memastikan Ameera sudah sampai di kamarnya. Aneh memang!
Jatuh cinta berjuta rasanya, saling cinta beribu nikmatnya, dan saling sayang tak terbayang indahnya, mungkin itu yang lagi dialami Ameera dan Richard saat ini.
"Ameera, darimana kamu Nak? tadi Pak Bagas ke sini katanya kamu sakit kepala kelihatannya Pak Bagas begitu cemas, dia bertanya pada yibu apa kamu sudah sampai rumah apa belum? kamu darimana?" tanya Ibu Haji Salamah pada Ameera karena kata Pak Bagas Ameera dari proyek sudah pulang tapi sampai rumah sore begini.
"Iya aku sakit kepala di proyek tadi Bu, Aku pulang dan menengok Richard karena ada lima orang yang menyerangnya malam tadi sampai pingsan."
"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah gimana sekarang keadaannya?" tanya Ibu Haji Salamah begitu kaget.
"Semalam dibawa ke rumah sakit karena pingsan dan banyak luka luka-luka lebam dan luka gores tetapi Richard nggak mau dirawat di rumah sakit akhirnya paginya dibawa pulang, Ameera menengoknya di Hotel sebelah, Richard lagi istirahat di tempat tinggalnya."
Ameera siapa yang merawat dia? Ibu pengen menengoknya, biar Ibu bikinkan bubur dulu biar di bawa ke tempat Nak Richard nanti."
"Ibu tak usah khawatir Richard punya asisten pribadi yang biasa merawatnya yang tahu juga semua keperluan dan kebutuhannya, Ibu nggak usah repot-repot bikin bubur. Nanti malam orang tuanya juga akan tiba ke sini nggak apa-apa Richard sudah agak baikan kalau Ibu mau melihatnya nanti kita ke sana bersama-sama."
"Ameera kenapa semua ini harus terjadi? Ibu takut apa yang terjadi dengan Nak Richard itu buntut dari kejadian kemarin sore? buntut permasalahanmu dengan Nak Fathir yang merasa dirinya dianiaya kemarin sore itu." ucap Ibu Haji Salamah dengan cemas memandang Ameera putrinya.
Amerta juga nggak tahu Bu, tapi semua kasusnya telah diserahkan kepada polisi. Aku nggak tahu kalau memang itu adalah perbuatan Mas Fathir semuanya, cuma aku tak habis pikir dengan semuanya, kenapa Mas Fathir tega melakukan semua itu? bukankan permasalahan ini dia yang memulai?"
"Betul Nak, yang salah tak pernah merasa bersalah, selalu saja akan mencari celah untuk membalas dan mencelakakan orang lain. Mereka nggak pernah lelah mencelakai orang lain, karena dirinya merasa kecewa."
Bapak kemana Bu?
Tadi pergi sama Pak Bagas ke yayasan mau ada kunjungan pejabat katanya."
Oh, ya sudah dulu ya Bu, Ameera ke kamar dulu mau istirahat."
"Jangan lupa kita nanti tengok Nak Richard."
"Iya Bu."
Ameera masuk kamar, benar saja ponsel nya langsung berbunyi nada panggil Richard yang memilihnya.
"Halo, ya." jawab Ameera.
__ADS_1
"Kamu sudah sampai kamar sayang?"
"Sudah, bukannya istirahatnya malah telephon!"
"Aku kangen Ameera, aku nggak perduli apapun, dan siapapun yang menyerang ku karena aku juga pernah menyerang orang lain, Aku pasrah walau aku merasa itu adalah membela kamu yang aku cinta."
"Iya, aku juga sayang sama kamu, tapi cepat sembuh katanya mau melamar aku!"
"Ameera aku mau video call sama kamu tapi kamu tak pernah menerimanya dengan alasan nggak pakai baju atau alasan pakai tangtop doang, dengan alasan ini itu, padahal nggak apa-apa aku cuci mata sedikit, nanti juga kamu jadi milik aku."
"Hai, ngomongnya jangan mulai ngeres kamu itu lagi sakit harus istirahat minum obat biar cepat sembuh."
"Aku dua hari juga sembuh lihat saja nanti, apalagi kamu cium aku dan usap-usap pasti cepet sembuh."
"Jangan manja! sembuh itu pakai obat dan ada prosesnya bukan di usap usap, yang ada kalau di usap usap nanti di bilang aku mengundang maksiat."
"Aku nggak bilang gitu Ameera sayang, yang ada kamu itu mengundang kenikmatan buatku, aku nggak sabar pengen segera melamar kamu dan menentukan harinya, pasti detik demi detik aku tunggu dengan tidak sabar."
"Sembuh dulu, baru bicara yang lainnya."
"Tolong bilang sama Bapakmu jangan lama-lama dari kita lamaran, dua hari saja kita langsung sah ya Ameera, kamu minta apapun padaku sebagai mahar, dan minta mau bulan madu ke mana aku Richard suamimu akan mengabulkannya."
"Baru calon suami Bos! lagian siapa yang mau minta bulan madu jauh? Aku minta selesaikan vila kita di Agrowisata itu, kita bulan madu di sana, kamu boleh menyekap aku semau kamu nanti."
"Aaaaaaah .... Ameera aku nggak sabar!"
"Aku tak sabar Ameera!"
"Tak sabar pengen sembuh?"
"Bukan! aku mau yang lain!"
"Hai, kamu jangan ngaco Richard! istirahat biar cepat sembuh, sudah dulu ya aku mau mandi."
"Nggak mau, aku mau mencium kamu, mau memeluk kamu!"
"Cup! udah ya sudah aku cium!"
"Bukan begitu, kamu datang ke sini, aku kesepian di sini."
"Iya kan ada Hanna, ada Benny di sana, nanti akan datang juga orangtuamu, aku ke sana nanti sama Ibuku ya."
"Ameera aku sayang kamu!"
"Iya aku tahu, dasar manja!"
"Ameera aku cinta kamu!"
__ADS_1
"Itu sudah sering kamu katakan Richard sayang!"
"Ameera aku ingin melamarmu!"
"Sembuh dulu kamu nya, baru melamar aku."
"Ameera aku tak sabar ingin menikahi kamu."
"Iya, selesaikan dulu vila nya."
"Ameera, aku bisa stres lama-lama karena kamu!"
"Jangan stres dong, kalau kamu stres nggak jadi menikahi aku."
"Ameera, aku ingin tidur dengan mu, memelukmu semalaman, dan mencium kamu sepuasnya."
"Sama!"
Klik sambungan telephon di putus Ameera, Ameera matikan ponselnya, kalau diikuti takkan pernah ada kata selesai. Selalu saja begitu selalu Ameera yang mematikan dan memutus sambungan telephon, Richard tidak marah karena dirinya juga tahu pasti Ameera mau mandi sholat, makan dan lain-lainnya.
'Richard, aku juga menginginkan kamu jadi milikku, aku juga mencintaimu, kita sama sama saling sayang, dan sama-sama saling cinta berat, tadinya aku meminta waktu untuk sendiri dulu, tapi berdua dengan mu itu mungkin lebih baik.'
'Aku tak bisa bayangkan saat nanti kita sudah sah jadi suami istri, kamu sudah mengancam dari sekarang, membuat aku bergidik tapi senang dan menantang.'
Saat sendiri membayangkan kegagahan Richard, kadang Ameera malu sendiri, tapi begitu ingin segera menikmatinya, belaian, dan usapan sayang, ciuman lembutnya, juga pelikan hangatnya.
Ameera meraba bibirnya sendiri sambil memejamkan matanya, hangatnya bibir Richard saat begitu rakus mengulumnya, masih terasa denyutannya, dengan tangan yang begitu nakal kesana kemari meminta pegangan lebih yang selalu Ameera tepis.
tok tok tok
"Neng kata Ibu sudah ashar belum?" suara Bibi mengagetkan lamunan Ameera.
"I-iya Bi, aku mandi dulu!"
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1