
Dua bulan kemudian ....
"Bangun sayang, hari ini adalah hari yang kita nanti yaitu peresmian agrowisata impian kamu, yang selama ini kita bangun, kita rancang dan kita tata seunik mungkin, malah aku melibatkan Benny sama Hanna merekrut buat karyawan di sana." Richard mencium pundak Ameera yang tidur menyamping membelakanginya.
"Syukur Rich, aku percaya Benny sama Hanna pasti mereka mengerti keinginanku. Tapi rasanya kepalaku pening nggak karuan begini kuat nggak ya aku ke sana hari ini?" jawab Ameera sambil mengurut pelipisnya.
"Sepertinya kurang suntikan sayang, biasanya kamu senang main di gazebo serasa di alam terbuka kata kamu, mau aku tambah pagi ini?" Richard memeluk punggung Ameera yang belum berpakaian dari semalam. Tangan Richard dengan bebas bisa meraba dan mengelus dada Ameera dari belakang.
"Aku sakit kepala Rich. Buka mata saja rasanya berat banget."
"Dari kemarin belum sembuh? tiap bangun tidur kamu mengeluh saja, kalau begitu kita ke dokter dulu apa dokternya panggil ke sini saja?" Richard melepaskan pegangannya dan bangun duduk di tempat tidur
"Serius Rich, aku sakit kepala pening dan demam kalau pagi-pagi, seperti meriang saja rasanya."
"Tapi kalau malam oke-oke aja, apa kamu masuk angin ya? tiap malam nggak pakai pakaian? tapi kan aku peluk sama aja hangat." Richard mengusap-usap rambut Ameera dan pangkal lengannya, sesekali di ciumnya.
"Rasanya pagi ini parah banget nggak kuat bangun kepalaku pusing luar biasa, mual seperti mau muntah, kalau bisa panggil aja dokternya ke sini aku pengen periksa di sini," ucap Ameera sambil tetap memegang kepalanya dan memejamkan matanya.
"Ya ampun sayang? kok kamu jadi sakit begini? baiklah aku kabari Benny dulu karena dia yang menyimpan nomor dokternya" Richard mulai agak panik.
"Rich, tolong pakaianku, pakaian yang tertutup biar kalau nanti di periksa dokter aku sudah berpakaian juga sama kerudungnya."
"I-iya sayang nanti aku pilihkan."
__ADS_1
Richard melompat dari tempat tidur, memilih pakaian istrinya komplit dengan kerudungnya nggak tahu matching apa nggak.
Richard memandang istrinya berpakaian sampai selesai, Ameera begitu nggak tahan sesekali membuka matanya mungkin karena kepalanya begitu sakit.
"Apa kamu pernah mengalami sakit kepala hebat begini sebelumnya?" tanya Richard sambil menggenggam tangan Ameera.
"Belum, tapi nggak apa mungkin masuk angin, kemarin terlalu capek menyusun acara buat peresmian hari ini."
"Aku telephon Benny dulu ya." Richard mencium tangan Ameera dan melepaskannya.
Ameera hanya mengangguk sedikit senyum di paksakan melihat suaminya mengambil ponsel dan pergi ke luar menelephon di taman, di sadari Ameera dirinya masuk angin boleh jadi. Selama ini menikah hampir dua bulan tidur tak pernah pakai pakaian, Richard suaminya begitu suka begitu, mereka tidur dalam keadaan polos, walau underwear tetap pakai, alasan Richard kalau mau gampang juga nambah nya juga mudah, nggak usah buka pakai.
Ameera merasakan panas dalam perutnya, rasa mual seperti mabuk kendaraan tak bisa di hindari muntah ke lantai dari tempat tidurnya.
"Rich! Rich! owhek ... owhek ... owhek ....ooo, ooo."
Richard yang melihat istrinya lagi mengeluarkan muntahan panik banget.
"Astagfirullah, sayang. Kamu kenapa kok jadi sakit begini? sabar ya Benny lagi menghubungi dokter, tadi aku suruh jemput saja dokternya biar cepat sampai."
Richard berlari ke luar memanggil cleaning servis, yang baru satu dua yang hadir karena masih pagi.
"Rich ...." panggil Ameera lemah.
__ADS_1
"Iya sayang, mau apa? aku habis manggil orang buat bersihin muntahan kamu."
"Aku mau kumur-kumur."
"Oke, tunggu." Richard begitu sibuk mengambil air di cangkir dan wadah buat memuntahkannya.
Datang Hanna tergopoh-gopoh sambil memerintahkan dua orang membersihkan ubin.
"Ya ampuuuuun Bu Ameera sakitnya berlanjut, muntah segala? tapi semoga ini pertanda baik. Tolong satu orang ke kitchen ambilkan teh manis hangat biar Bu Ameera agak enakan," ucap Hanna pada salah satu cleaning servis.
Hanna memegang tangan dan kening Ameera yang terasa demam. Richard mematung melihat istrinya memejamkan matanya di pegang keningnya sama Hanna.
"Sebentar lagi dokter datang, nanti kalau sudah di periksa dokter biar aku bantu kerokin, lalu minum tolak angin hangat, biasanya suka mendingan."
"Aku nggak biasa di kerokin Hanna, rasanya geli juga sakit."
"Justru yang geli sama sakit sedikit itu akan enak nantinya Bu Ameera," canda Hanna di sambut senyum Richard.
"Ah kamu masih bercanda aja Hanna, geli sama sakit itu mah kesukaan kamu sama Pak Benny."
"Sudah ah, jadi ngelantur. Bukannya tiap malam Bu Ameera juga belum absen main geli-gelianya? Minum teh hangatnya biar enakan sedikit," ucap Hanna sambil menahan senyum.
Ameera meminum teh hangat sampai habis setengah gelas.
__ADS_1
Richard mendekat dan mengusap tangan Ameera.
"Sembuh ya sayang." Richard mencium kening Ameera yang memejamkan matanya kembali