
Dua kali sudah Jody membawa Loka ke rumahnya, yang pertama kurang mendapat sambutan baik mungkin kedua orang tuanya masih menguji dirinya benar apa tidak, serius atau tidak apa yang Jody bawa dan kenalkan kepada orang tuanya
Kali ini Jody merasa puas atas penerimaan orang tua dan saudaranya, rasanya semakin serius ingin meminang Loka membawanya pada kehidupan yang bahagia dan memberinya kebahagiaan.
Semakin bertambahnya dewasa usia dan pengalaman menjadikan Jody lebih hati-hati lagi dalam memilih calon istri dan seorang istri yang akan mendampinginya nanti.
Tiga mantan istrinya dengan tiga karakter yang berbeda cukup membuat Jody berpengalaman apalagi soal menaklukkan yang keempat Loka terasa begitu mudah, tetapi Jody tidak akan gegabah ingin semuanya begitu alami dan tak ingin menyentuh Loka duluan, Jody ingin mengawali rumah tangganya dengan cara yang benar.
Turun dari mobil Loka jadi agak diam tak banyak bicara, buka kunci dan langsung ke kamar mandi.
Jody tersenyum melihat calon istrinya begitu terburu-buru masuk ke kamar mandi.
"Kenapa sayang?" Jody langsung bertanya saat Loka keluar dari kamar mandi.
"Aku merasa datang bulan, tapi ternyata tidak."
"Loka jangan jadi pikiran, semua itu biasa bagi orang dewasa, nggak apa-apa."
"Sini duduk aku mau bicara serius sama kamu, sampaikan sama orangtuamu dan tanya kapan keluargaku bisa datang melamarmu?"
"Iya, Mas. Aku ingin secepatnya saja kita menikah, biar kita nggak usah belajar-belajar lagi seperti kayak barusan di mobil itu."
"Kok jadi kamu yang ngebet mau nikah? apa nggak salah ini? Oke Loka mungkin perasaan dewasa kamu mulai kamu rasakan, aku nggak akan kurang ajar dan berlebihan, hanya pelajaran pemanasan saja."
"Tapi aku mau merasakan yang lebih jauh lagi Mas, tidak menggantung seperti tadi!"
"Loka? kan kita belum nikah jadi belum boleh melakukan semua itu."
"Iya, aku tahu Mas, tapi Mas Jody jangan merangsang aku seperti tadi dong, aku jadi nggak tahan, merinding, meriang dan panas dingin jadinya."
"Kamu serius nggak tahan?"
"Iya, Mas aku seperti melayang dan nggak ingat apa-apa."
"Loka, lebih cepat lebih baik berarti kita sudah sama-sama ngebet banget nikah. Aku nanti pulang dari sini mengajukan pengunduran dirimu pada Bos Richard dan sekaligus aku akan menyampaikan kabar gembira ini kalau kita akan segera menikah."
"Mas, melakukan hubungan suami istri itu sakit nggak?"
"Sama sekali enggak Loka, kalau memang melakukan hubungan suami istri itu sakit semua orang tak akan nikah tapi sebaliknya melakukan hubungan suami istri itu adalah kenikmatan semua orang berlomba-lomba ingin menikah yang sudah menikah juga pengen nambah istri lagi karena enggak puas dengan satu istri."
"Mas, apa Mas Jody akan puas nanti denganku?"
"Pasti Loka, setiap suami pasti mendapatkan kepuasan dari istrinya, begitu juga seorang istri jangan malu meminta kalau menginginkannya."
Loka hanya tersenyum, mungkin membayangkan saat itu tiba atau membayangkan hal lain, yang pasti Jody begitu bahagia karena Loka sendiri yang menginginkan mereka segera menikah.
__ADS_1
"Ini kartu ATM, gunakan sesuai kebutuhanmu bukan keinginanmu, pokoknya kalau bingung ucapan ku gini aja, pakai kalau kamu butuh titik."
"Tapi aku belum jadi istrimu Mas."
"Hampiri Loka, kamu itu hampir jadi istriku kan sebentar lagi kita menikah, tinggal kamu bilang sama orang tua kamu orang tuaku datang dan kita sepakat menentukan tanggal jadi deh kita menikah."
"Mas!"
"Apalagi?"
Aku harus ...."
"Kenapa? apa minta pelajaran tambahan?" tanya Jody.
"Bukan! ngomongnya sama orangtuaku gimana nanti?"
"Ya Ampuuuuun ... Loka! tinggal ngomong apa adanya apa susahnya, kalau kamu itu sudah punya pacar yang sekarang ingin serius, ingin datang sebagai bukti keseriusan itu sama orangtuanya. Terus kapan bapak sama ibumu bersedia menerima kami dan bersedia bicara lebih jauh untuk pernikahan kita?"
"Aku malu dan nggak berani Mas."
"Terus jadinya gimana?"
"Mas Jody temani aku ngomongnya."
"Baiklah lalu Kak kapan kita ke rumah orang tuamu? biar aku saja yang ngomong juga sekalian menyampaikan semua keinginanku." ucap Jody meyakinkan Loka.
"Tapi aku minta upah ya, kan aku mau bantu kamu ngomong sama orangtuamu."
"Upah apaan aku nggak punya apa-apa?"
"Aku cuma mau pegang yang satu lagi sesuatu yang di pegang di dalam mobil tadi!"
Loka langsung mukanya bersemu merah.
"Aku nggak mau Mas." jawab Loka perlahan.
"Nggak apa-apa aku hanya bercanda sayang, kamu malam ini kerja nggak?"
"Kerja Mas."
"Ya sudah kita berangkatnya bareng nanti, sambil aku mau bertemu Bos Richard."
"Gimana temanmu Janeeta di pindah kerjanya betah katanya nggak?"
"Boro tiap hari dia curhat nelephon melulu, sudah jauh, garing katanya nggak ada sawerannya, sepertinya dia tidak betah kerja di sana karena Janeeta terbiasa kerja di sini dengan enak apalagi saat menjadi teman dekat Bos Richard segalanya begitu mudah bagi dia."
__ADS_1
Jody manggut.
"Mas duluan saja nggak apa-apa, aku mandi dulu lagian kan ini masih sore."
"Emang nggak boleh aku di sini? tadinya mau nge-gym tapi malas maunya deket kamu melulu, maunya gigit kamu."
"Buat apa Mas olahraga begitu capek-capek berat berat aku masih belum paham tujuan orang-orang olahraga seperti itu."
"Kamu akan merasakan manfaatnya setelah kita menikah nanti, dan kalau kamu sudah merasakan pasti kamu akan menyuruh aku untuk nge-gym dengan rutin."
"Maksudku olahraga kan banyak cabangnya tapi kenapa ada olahraga yang seperti itu?"
"Benar kamu tidak tahu manfaatnya?"
Loka hanya mengangguk mungkin benar adanya cewek seperti Loka di usianya yang sekarang tidak mengerti karena memang bukan dunia nya juga tidak terbiasa melakukannya, walaupun sekarang banyak juga yang nge-gym itu bukan didominasi kaum laki-laki tetapi untuk kebugaran perempuan juga sudah mulai melirik olahraga yang satu ini.
"Sini aku bisikin kalau memang kamu tidak tahu."
Jody menarik Loka dan membisikkan sesuatu di telinganya, bukannya mengerti Loka malah mengerutkan dahinya.
"Loka apa kamu mencintaiku?"
Loka mengangguk perlahan sambil matanya menatap Jody yang tak percaya kalau mereka kini jadi pacaran, dan akan serius ke jenjang rumah tangga. Berawal dari kenalan di klub malam ngobrol-ngobrol saat itu dirinya sama Loka dikenalkan sama teman dekat Bos Richard Janeeta. Ngobrol sampai malam diantar pulang dan jadilah mereka berkenalan, cocok ngobrol sampai saat ini.
Jody merebahkan badannya dan menyimpan kepalanya di pangkuan Loka, sebelah kakinya menutup pintu dan mulailah kenakalan Jody selanjutnya.
"Masa jangan ke situ-situ ah ...."
"Sedikit saja."
"Nanti Mas jadi nggak tahan!"
"Sampai sini, harus kita tahan" Jody menunjuk dada Loka yang sedikit mengintip keluar dari pengamannya karena kelebihan kapasitasnya.
Loka untuk keduakalinya tak bisa menolaknya, saat tangan nakal Jody mulai piknik di area itu.
******
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
__ADS_1
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏