
"Aku tak habis pikir Zen apa yang Kamu inginkan sehingga sampai begini? Urusannya jadi panjang nanti! apalagi Kamu baru saja bebas bersyarat kenapa tak berpikir dengan baik apa yang Kamu inginkan? Aku beri segalanya tapi Kamu nggak ngerti keinginanku!" Tante Diana kesal dan marah mendapatkan Zen dalam keadaan babak belur kayak habis tinju di bawa temannya ke rumah Tante Diana.
Zen diam merasa Dirinya salah.
Tak sedikitpun bicara atau sekedar membela Diri membiarkan luka dan lebam ditubuhnya di bersihkan Tante diana di dalam kamar.
"Zen Aku punya rencana besar untuk ke depannya, kenapa Kamu bikin masalah apa yang membuat kamu berduel kayak Anak SD?" sungut Tante Diana.
"Masalah harga diri!"
"Harga diri yang mana? Apa dengan berantem bisa naik harga dirimu? Aku rasa semua hanya sia-sia, urusan duit yang Kamu tuntut dari Bos mu dulu Si Richard? Dia bukan orang bodoh apalagi Kamu keluar bekerja dari perusahaannya dengan cela dan permasalahan melanggar hukum. Walau menuntut bagaimanapun Kamu tidak akan menang dan kini Kamu dendam pada seorang kepercayaan Richard sampai begini apa untungnya?"
Tante Diana berusaha membersihkan semua luka di tubuh kekar Zen sambil tetap ngomel.
"Kalau begini tetap harus Aku yang turun tangan minimal bertemu Richard dan bernegosiasi supaya kasus mu tidak berlanjut dan berdamai secara kekeluargaan, semoga saja Si Richard masih bisa berdamai dengan Aku."
"Aku tadinya merasa akan berhasil menuntut sedikit balas jasa yang pernah Aku berikan kepada perusahaan itu tapi Si brengsek Benny benar-benar menyebalkan menghalangi dan pengaruh Richard sepertinya membuat Aku ingin memberinya pelajaran." Zen merasa kesal sama yang namanya Benny.
"Sudahlah tempatmu di sini bersamaku, kurang apa Kamu hidup bersamaku Zen?" Tante Diana mengusap dada bidang yang banyak ditumbuhi bulu itu.
__ADS_1
"Aku punya Anak yang ingin masa depannya lebih baik dan tak membenciku," ujar Zen seperti membela diri.
"Baik, menikah denganku semua Anakmu akan jadi tanggunganku dan masalahmu selesai!"
"Maksud Tante?" Zen mau bangun tapi tidur lagi sambil meringis.
"Aku ingin Kita saling percaya setelah kasus mu selesai Kita menikah, apa Kamu siap?" Tante Diana berbisik di muka Zen hanya berjarak inchi dari wajahnya.
"Aku siap Tante eh Mom kapanpun juga!" Zen tak berpikir panjang lagi dalam pikirannya satu harapannya dirinya tak usah memikirkan lagi soal apapun termasuk kasusnya yang baru saja terjadi soal duel sama Benny. Minimal dirinya tidak akan memikirkan masalah apapun walaupun masa depan bersama Tante Diana masih abu-abu dan tidak jelas tetapi kini dirinya bisa punya tempat tinggal yang tetap bisa punya modal usaha dan bisa meneruskan hidup di sisa kehancuran dan kegagalan di waktu ke belakang.
"Aku tahu Kamu pasti Mau, bodoh kalau jadi orang terpilih menolakku."
"Buka kaosmu biar Aku bersihkan semuanya!"
Zen menurut walau sambil meringis dan Zen sekalian membuka celana boxer nya.
"Kenapa di buka juga?"
"Kalau-kalau mau di periksa juga boleh, dan test apa masih sempurna kan Kita mau menikah?"
__ADS_1
"Pinter juga Kamu! Aku selalu tak puas makanya mau sepenuhnya Aku yang memiliki ini!" Tante Diana mendekatkan Junior Zen ke mulutnya.
Zen semakin meringis saat juniornya memenuhi mulut Tante Diana.
"Dah ah, cepet sembuh nggak berguna kalau begini keadaan tubuhmu lebam semua."
"Tapi yang itu aman kan?" Zen menunjuk bawah perutnya yang lagi tegak sempurna kesukaan Tante Diana yang begitu maksimal saat ini.
"Aman, tapi tubuh mu tak bisa buat main dan di gerakkan!"
"Paling tiga hari!"
"Harusnya satu hari jangan lama-lama!"
"Sekarang juga bisa Mom, carilah posisi nyaman!"
"Itu salah satu kenapa Aku suka Kamu Zen, selalu bisa mengerti dan menyenangkan Aku saat kodisi apapun!"
*******
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️