Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Pengantin jangan capek-capek


__ADS_3

"Bu Ameera tahu kasus yang lagi hangat sekarang di The Rich Hotel?" Hanna membuka percakapannya sama Bos barunya, sambil melirik Ameera di sampingnya di sela-sela fokus ke jalan, mengendalikan mengendarai mobil membawa Ameera ke Agrowisata yang pembangunannya melewati masa-masa akhir.


"Enggak Hanna, emang ada apa? aku belum banyak tanya pada suamiku apapun yang menyangkut pekerjaan dan usahanya," jawab Ameera datar.


"Di kira Bu Ameera sama Bos Richard nggak keluar dulu, tapi ternyata siang ini pada keluar, Bos Richard ke kantornya Bu Ameera ke proyek pembangunan Wisata, makanya aku tanya barangkali Bu Ameera tahu ada apa dengan klab malam yang di kelola Pak Zen? sepertinya ada masalah serius."


"Apa Pak Benny suamimu tak pernah ngobrol soal apapun pekerjaan dan masalah yang sekarang ada?" Ameera bertanya lagi.


"Nggak, kami sepakat tak membahas soal pekerjaan di rumah, kalau di rumah kami milik masing-masing, sejenak melupakan masalah pekerjaan, waktu hanya untuk berduaan."


jawab Hanna jujur pada Ameera.


"Cieee ... kalian sepertinya pasangan romantis yang asyik juga rupanya, tapi memang seharusnya seperti itu, kita tidak boleh mencampurkan urusan keluarga urusan rumah tangga dan urusan pribadi dengan pekerjaan minimal kita harus bisa memilah memilih dan menempatkan pada tempatnya, mungkin aku juga sama suamiku akan mencontoh kalian."


"Kalau Bu Ameera ngapain harus bekerja? semua sudah lebih dari cukup, kurang apalagi? tinggal tunggu suami tiap hari pulang kerja, aset berjalan dari Pak Richard juga tak terhingga belum dari Bu Ameera sendiri, tiap hari nggak keluar kamar juga nggak masalah."


"Hanna, hidup tak cukup hanya seperti itu, hidup itu harus dinamis dengan bekerja sebagai kegiatannya dan melatih diri menjadi mandiri dan memberi manfaat buat orang lain. Aku biasa bekerja sejak masih lajang membantu orangtua di vila juga di yayasan atau di usaha Bapak lainnya."

__ADS_1


"Saya jadi kagum sama Bu Ameera, masih masa bulan madu, dan masih wangi bunga melati sudah turun mengontrol pekerjaan, jangan lama-lama ah kerjanya saya sendiri merasakan awal-awal menikah gimana rasanya berpisah walau hanya kerja, bawaannya pengen berduaan saja."


"Ah kamu, kan nanti juga ada waktunya. Kita bisa puas-puasin bersama lagi."


Hanna tertawa kecil sambil memarkir mobil yang di kendarai nya di halaman vila di sambut senyum Ameera.


"Katanya pengalaman pertama kalian begitu seru ya Hanna?" selidik Ameera sambil membuka pintu mobil dan keluar.


"Kata siapa Bu Ameera? waduh pasti cowok-cowok itu tak bertanggungjawab dan tukang gossip juga rupanya."


"Sungguh memalukan, tapi itu pengalaman kami Bu Ameera yang sama-sama kebelet nikah."


"Iya Hanna, sama pasti pengalaman pertama akan menjadi pengalaman indah kita."


"Eh, Bu Ameera mau pakai payung tidak jalan-jalannya? di mobil ada kalau mau pakai."


"Nggak Hanna, aku akan menemui mandor dan Pak Bagas barangkali ada, hanya menampung kekurangan dan bertanya sesuatu, Hanna ikut sama aku ya."

__ADS_1


"Baik Bu Ameera."


Ameera mengontrol dengan berkeliling diikuti Hanna, melihat hasil pekerjaan dan fasilitas yang sudah jadi dan juga mengamati semua yang belum jadi dan yang lagi dikerjakan.


Ameera merasa puas dan bangga pada suaminya Richard dan pada Bapaknya yang menggagas semua ini, kini Agrowisata perkebunan Pala dan Melinjo telah terbentang begitu asri dengan trek ke semua objek telah terpampang. Kurang lebih sampai beres sebulan lagi sudah bisa dibuka untuk umum dengan fasilitas, mushola, trek menjelajah di perkebunan Pala dan Melinjo, kuliner, taman, spot foto, sawah sebagai edukasi pertanian, pemancingan, perahu, sekoci karakter, area camping, aula pertemuan, kantor, mini market, flying fox, danau, kolam renang dan banyak lagi.


Ameera tertegun memandang semuanya kalau dikerjakan dengan modal tak terkira begitu berharganya tempat ini dan akan mendatangkan keuntungan yang bukan sedikit, itu prediksi Ameera.


Ameera memandang takjub dengan semuanya, semua di luar perparkiran nya, tempat yang di sulap menjadi tempat wisata alam yang begitu eksotik.


Ameera akan merasa betah tinggal di sini, di vila mahar perkawinannya, tapi ada tempat ternyaman yaitu di kamar mewah Richard dan vila ini untuk ganti suasana saat dirinya sama Richard suntuk dan ingin nuansa baru.


"Pengantin jangan capek-capek dulu, nanti saya yang di omelan Pak Richard, Bu Ameera istirahat dulu biar saya panggilkan pelaksana proyek ke sini apa Bu Ameera yang ke sana?" suara nyaring Hanna begitu jelas dari jarak agak jauh.


"Aku saja yang ke sana Hanna, sekalian mau ngobrol ngobrol nggak apa-apa. Paling sebentar lagi suamiku menjemput ke sini."


Hanna berjalan menghampiri dan membantu Ameera turun dari undakan, menyodorkan tangannya biar Ameera tak terpeleset.

__ADS_1


__ADS_2