Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Tepar


__ADS_3

"Sayang ingatkan aku ada rapat penting habis ashar nanti ya." ucap Richard sambil masuk ke kamar mandi.


"Iya, tapi jangan tidur nanti kebablasan. Kita makan di sini saja Rich?" tanya Ameera.


"Aku biasa makan di sini nggak apa kan? nanti Hanna atau asistennya akan mengirim makanan kesini, tapi aku lupa tanya kamu sayang maunya makan apa?" jawab Richard dari dalam kamar mandi yang tak di tutup.


"Nggak apa-apa makanan semua aku suka, apalagi sekarang lapar terus."


"Ya sudah, sebentar lagi pasti datang." sahut Richard sambil keluar dari kamar mandi sudah ganti pakaian memakai celana pendek rumahan dan kaos tanpa lengan.


Richard duduk di samping Ameera, merebahkan badannya dengan menaruh kepalanya di pangkuan Ameera.


"Rich, nanti malam tidur di rumahku ya." ucap Ameera sambil membelai rambut Richard yang tiduran memeluk pinggangnya.


"Besok aja sayang, aku nggak bebas kalau di rumahmu, nanti malam kedua kita, aku nggak mau melewatkannya, aku mau bebas di sini, di kursi taman belum, di kolam renang belum, di gazebo belum di kamar mandi juga belum."


"Maksudnya belum apaan?" Ameera pura-pura tak mengerti.


"Posisi enak kita sayang!"


"Nggak mau! sakit tahu. Yang paling nyaman ya di tempat tidur atau di sini di sofa empuk."


"Sakit apanya? cari posisi paling enak sayang, nggak usah selalu tiduran, gaya apapun juga pasti mengasyikkan."


Ameera diam, tapi dalam hatinya ingin merasakan. Bel berbunyi mengagetkan Ameera yang otaknya lagi jalan-jalan tak berarah. Yang antar makanan datang. Richard bangun mengambil troli dorong meja makanan dan mengucapkan terimakasih.


Richard menarik meja makan dari dalam dinding, kalau tidak digunakan masuk ke dalam. Tapi kalau mau digunakan ya ditarik seperti ini jadi menghemat tempat.


Ameera memindahkan sebagian makanan ke meja dan membuka piring, menyentong nasi menyodorkan pada suaminya biar lauknya memilih sendiri.

__ADS_1


"Kamu tuh makan yang banyak biar kuat menghadapi transferan kenikmatan nanti." canda Richard sambil mencium pundak Ameera.


"Aku selalu banyak kalau makan, padahal tadi pagi sarapan dimsum tiga porsi."


"Nggak apa-apa, siapa tahu kamu sudah buat berdua makannya, ada yang meminta nutrisi di dalam perutmu sayang."


"Kan baru semalam di tanamnya?"


"Tapi siapa tahu malam tadi yang akan jadi."


"Semoga saja."


"Jadi siang, sama malam selanjutnya tinggal menyiram saja."


"Dah ah, makan dulu jangan ngeres dulu otaknya, nanti makannya jadi hilang selera pikirannya sudah ke sana aja!"


Selesai makan mereka santai di gazebo menikmati angin dan pemandangan kolam renang dan taman asri yang begitu terawat.


Saat berduaan tak bisa tangan Richard diam, selalu mencari celah menerobos titik tertentu yang di sukanya. Ameera membiarkannya.


"Rich bukankan sore nanti kamu ada rapat?"


"Iya, jam empat saja aku undur, aku pengen tidur dulu sama kamu sayang, mau di mana? kita belum merasakan main siang hari rasanya pasti nikmat." ucap Richard membuka satu demi satu kancing baju Ameera.


"Tadi kan sudah." bisik Ameera menutupi bagian dadanya dengan pakaiannya


"Itu pagi sayang! sekarang siang lain lagi, ayolah tinggal bilang mau di mana?"


"Di sini saja."

__ADS_1


"Yakin mau di sini?"


Ameera mengangguk, sambil meraba dada Richard, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya mereka berpelukan.


Dada mereka yang beradu tanpa pelindung menghadirkan panas dan gairah, ciuman dan belaian menambah rangsangan keduanya.


"Rich!"


"Hemght ..."


Mereka benar-benar menikmati kebersamaan, tak ingin melewatkan setiap kesempatan.


Siang malam tak ada kenyang nya malah semakin haus dan menagih, rasa suka keduanya menenggelamkan semua rasa dalam satu pernyataan harus di selesaikan.


Perayaaan cinta kasih berdua meleburkan keinginan jadi hasrat yang selalu meronta, memberi dan menerima itu nyatanya, saling menikmati dalam balutan kasih sayang.


Bisikan sayang begitu membuai mereka, sampai merasa puas memacu gaya dan gerak dalam gelegak yang selalu panas.


"Rich, lama banget? aku pegal nih, ganti posisi ya!"


"Masih enak banget sayang. Boleh, tapi aku mau lebih lama lagi."


Richard terus memperlihatkan kemapuan tingkat tingginya, memacu senjatanya yang terasa sesak tapi menghadirkan sensasi yang luar biasa pada adrenalin nya, serasa menaklukan suatu tantangan yang terasa sulit, tapi harus selesai sebelum Ameera kewalahan.


Sampai pada satu titik penyelesaian puncak, kenikmatan mereka rasakan dalam capek luar biasa, mereka terlentang di karpet lembut dengan pakaian dan bantal pemanis gazebo berserakan, serasa di alam terbuka angin menerpa tubuh mereka yang sama-sama polos.


Ameera begitu kelelahan hanya mampu mengambil pakaiannya dan mengenakannya asal, Richard tepar setelah mengenakan celana boxer nya, memeluk punggung Ameera masih dalam keringat yang membanjiri tiap pori-pori nya.


Mengatur nafas sambil memejamkan matanya

__ADS_1


__ADS_2