Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Belum menginginkan


__ADS_3

"Zen! Zen! Zen! ...." teriak Annet di pintu ruangan Zen seperti orang yang panik dan begitu cemas juga kelihatan emosi.


"Ada apa sayang? masuk jangan teriak begitu, seperti di hutan saja." jawab Zen menyambut Janeeta di pintu ruangannya.


Janeeta masuk dengan muka di tekuk beberapa lipat. Lalu duduk di sofa tanpa di suruh, Zen menutup pintu lalu menghampiri dan langsung memeluk Annet, tapi Annet menepisnya.


Zen merasa heran melihat sikap Annet tak biasanya seperti itu. Annet menatap Zen dengan pandangan sulit diartikan.


"Ada apa, mari kita bicara sayang." Lunak Zen mengajak Annet, bicara tak mengerti apa yang sedang di pikirkan orang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi kehidupannya.


"Kamu sembarangan banget, begitu ceroboh, nih lihat aku telat bulan dan sudah aku cek aku hamil Zen! kenapa kamu lakukan itu? kapan kamu lupa pakai pengaman?" Janeeta bicara begitu tak ada jedanya, sambil mengambil testpack dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja.


Sejenak Zen tertegun timbul juga keraguan, diantara dua pilihan sulit memberi jawaban yang seharusnya, tapi Annet selama ini intens dekat dengan dirinya bahkan tak kehilangan malam selalu dan tak pernah bosan mereka selalu mengisi malam panas mereka, sedang siang saat Zen pulang apa Annet pernah berhubungan dengan orang lain? itu yang Zen tak bisa tebak.


Annet kalau siang Zen pikir pasti ada di apartemen milikknya dan tak begitu beretika rasanya bertanya itu hasil hubungan dengan siapa? sedang selama ini Annet hanya dekat dengan dirinya.


Tapi orang seperti Annet bisakah di percaya? walaupun begitu Zen begitu membutuhkannya dan Annet adalah orang yang tahu rahasia usaha gelapnya.


Annet salah satu orang yang diberi tahu usaha ilegalnya, dan Zen juga merasa mencintainya tak bisa Zen juga menyakitinya terlebih saat mengaku hamil pada dirinya.

__ADS_1


"Aku lupa, maaf sayang entah kapan aku juga tak ingat, mungkin saat kita ngantuk berat, lantas kamu marah sama aku? mau mu apa sekarang, marah-marah? mau minta pertanggungjawabanku atau apa?" Zen menatap muka cantik Annet yang berlinang airmata dengan seksama.


"Zen! kamu tahu aku tak mau hamil dengan siapapun dalam waktu sekarang ini, jelas aku menyalahkanmu." jawab Annet tak menatap wajah Zen.


"Tak bisa begitu masa hanya aku yang di salahkan? apa dalam hal ini kamu juga tidak berperan? Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, aku akan menikahi kamu kapanpun kamu mau."


"Itu sama saja dengan mengungkung kebebasanku, aku belum siap Zen, aku masih mau bebas dan aku jujur punya kekasih yang jauh sedang berlayar, diantara kita tidak ada kesepakatan akan serius"


"Jadikan sekarang sesuatu yang serius kalau memang itu benih dariku, pelihara dengan baik aku akan membiayainya, jangan dulu menyalahkan orang lain itu hasil hubungan kita jangan di sesali."


"Aku belum siap, aku tak bisa Zen!"


"Aku tak mau menikah dengan mu Zen, kamu sudah punya anak istri."


"Bukankah itu sudah kamu ketahui sejak awal? apa kalau benih Richard yang ada dalam perutmu kamu akan senang?"


Janeeta diam mungkin akan lain lagi ceritanya seandainya benih orang lain yang ada dalam perutnya, Annet berpikir seandainya dirinya menikahpun tak ingin menjadi istri kedua.


"Silahkan mau mu seperti apa?" ucap Zen dengan sedikit merasa bersalah. Janeeta menutup mukanya dengan kedua belah tangannya ada airmata di kelopak mata indahnya.

__ADS_1


Hatinya begitu gamang dan serba salah, dilema dalam mengambil keputusan. Apa kata Jefry nanti, dengan Jefry Annet sudah merencanakan masa depan yang lebih baik, Pada Richard harapannya kandas tak bertepi seperti buih yang tak bisa menjadi sesuatu yang bisa di pegang dalam genggamannya.


Selalu mencadangkan opsi kedua seandainya harapannya pada Richard tak berhasil mungkin akan setia dengan Jefry. Dengan Zen tak sedikitpun perencanaan apapun selain kesenangannya dan cuan tujuannya.


Tapi apa mau dikata, Annet malah hamil hasil hubungan dengan Zen tanpa Annet harapkan dan diluar ekspektasinya.


"Satu yang aku tawarkan aku akan bertanggung jawab Annet, tapi kalau itu kamu mau. Tapi kalau kamu tidak mau aku harus tahu penyelesaian mu akan seperti apa? karena ada kontribusi yang melibatkan aku dalam masalahmu sekarang."


"Apa kamu semudah itu mau bertanggung jawab Zen?"


"Itu hanya satu penawaran yang dirasa lebih baik, aku akan menikahimu walaupun secara siri karena kan kamu tahu aku sudah punya anak dan istri tapi kalau kamu mau tidak usah khawatir aku akan mencukupimu silakan apartemen itu menjadi milikmu semua kebutuhanmu jangan kamu ragu, malah kalau kita sah jadi suami istri aku begitu senang."


Annet memandang Zen tak percaya dengan fakta dirinya sekarang, harus hamil anak Zen dan harus menikah menjadi istri keduanya itu sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya tak ada sedikitpun bayangan kejadiannya akan seperti ini.


Pupus sudah harapannya mendekati dan memasuki kehidupan Richard, dan apa yang harus di sampaikan pada pacarnya Jefry? akankan dia menerima?


Jefry orang yang begitu banyak berkorban untuk Annet bahkan sebagian uang yang ada di rekeningnya uang Jefry, rencana Jefri membangun masa depan bersama Annet semua kini tinggal harapan kosong sedangkan fakta di sini Annet hamil benih orang lain.


Annet terkadang dirinya juga mengakui ceroboh tak selalu memperhatikan sebelum berhubungan intim dengan Zen apa Zen sudah safety atau belum?

__ADS_1


__ADS_2