
"Zen!"
"Apa sayang?"
"Kita bicara serius kali ini, jangan seperti kemarin-kemarin semua pembicaraan kita putus nggak berjudul, aku harusnya seperti apa?" ucap Annet sambil menyibakkan selimut nya.
"Ya, harusnya kita menikah, nggak usah kerja lagi, tinggal di sini, pelan-pelan aku akan meminta pengertian istriku, kamu nggak usah mikirin yang lain, soal Richard, soal pacar kamu yang jauh itu, pikirkan janin di dalam perutmu, lagian Richard besok mau menikah semua usai sudah, aku ke undang hanya staf terbatas saja dan hanya tamu tertentu yang diundang." ucap Zen sambil membuka gorden kaca kamar apartemen nya. Zen bangun duluan dan sudah keluar dari kamar mandi.
Annet terhenyak, menatap kosong se-hampa harapannya yang kandas di tengah jalan sebelum melakukan strategi apapun untuk memenangkan hati Richard, Richard akan pergi dari kehidupannya, yang ada dalam harapannya harusnya bersama dirinya, tapi semua tak sesuai harapannya. Pikiran Annet jauh mengembara pada perjalanan nasibnya, terbayang juga sahabatnya Loka telah hengkang dari dunia nyanyi yang ternyata suaminya adalah seorang direktur perusahaan besar, apa sih istimewanya Loka?
Tapi kenapa nasibnya begitu baik dan beruntung? seperti perempuan yang akan di nikahi Richard, kenapa Richard begitu tertarik dengan perempuan itu apa istimewanya apa kecantikannya melebihi kecantikan aku?
Loka sibuk membandingkan dirinya dengan sahabatnya Loka yang dirasa beruntung tanpa kelebihan apa-apa di banding dirinya, juga pada perempuan yang akan di nikahi Richard, begitu beruntungnya dia apa kelebihannya? kenapa Richard begitu suka dan tertarik hingga menjadikannya seorang istri?
Ah! semua begitu tak adil! harusnya aku yang ada di posisi mereka!
Faktanya sekarang, aku malah seperti ini? uang memang banyak di tangannya, tapi kenapa dirinya harus hamil dan mengandung benih Zen yang sudah beristri dan punya anak?
"Zen apa semudah itu kita bisa menikah?" tanya Annet lagi sambil menatap Zen yang lagi berpakaian tanpa mandi.
__ADS_1
"Lantas apa masalahnya?"
"Istri juga anakmu, akan seperti apa jadinya? juga Ibuku aku tak bisa bayangkan kecewanya, pada Jefry apa sebaiknya yang aku sampaikan?" Annet bicara seakan semua jalannya begitu sulit.
"Istriku mungkin tak akan bisa menerima, tapi aku akan berusaha, kalau sama Ibumu kita bicara bersama apapun penerimaannya itu resiko kita. Soal ke pacar kamu itu urusanmu, bicara baik-baik kembalikan semua uangnya, beres!" jawab Zen begitu praktis melihat masalah yang di rasa Annet begitu besar.
"Kalau menerima Jefry masih mending, kalau dia pulang dan mencari aku dia tak terima kata putus nanti gimana?"
"Itu masalah nanti, katakan yang sebenarnya dulu, mana ada cowok yang mau terima pacarnya sudah hamil sama orang lain." jawab Zen enteng saja.
"Zen! Jefry berbeda dia terlalu mencintaiku, semua memungkinkan kalau dia tak terima aku putuskan."
"Tapi setidaknya kamu coba dulu apa tanggapan dia?"
"Aku pulang dulu ya, kamu baik-baik saja di sini."
"Zen! tak bisakah kamu bersamaku satu hari saja?"
"Annet, semalaman kan kita sudah bersama-sama, aku harap kamu tahu posisiku, aku seorang suami dan seorang Bapak aku harus pulang."
__ADS_1
"Tak adakah alasan kamu untuk bisa sehari saja bersamaku?"
"Annet jangan mengobral kesedihan dan harap, aku tak biasa, kita jalani apa adanya dulu mungkin nanti aku akan usahakan tapi aku harus membuat alasan yang bisa di mengerti mereka."
"Lantas apa yang akan di sampaikan pada istrimu tentang aku?"
"Aku masih berpikir, baiknya seperti apa."
Zen menghampiri Annet yang berkaca-kaca, memeluknya dan menciumnya. Annet memeluk Zen begitu erat seakan tak ingin di tinggalkan, Zen mengerti tak bicara apa-apa hanya mengusap dan membelai Annet dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Mandi, habis itu jalan-jalan, malam kita bertemu lagi." hibur Zen sambil tersenyum.
Annet tersenyum mencoba menegarkan dirinya, mengangguk saat Zen melepaskan pelukannya.
Ada titik air mata yang Annet biarkan jatuh saat Zen keluar dari kamarnya, Annet melihat punggung Zen berlalu di balik pintu.
Hatinya begitu sepi, harus melewati harinya seorang diri, mau bangun juga rasanya begitu malas, terbayang melewati hari-hari kehamilannya nanti kalau sudah besar.
Terkadang Annet berpikir mungkin kalau di gugurkan kandungan ini semua beres, tak perlu Ibunya tahu, Jefry pun tak akan tahu, dirinya bisa bebas melenggang kembali menjalani rutinitasnya.
__ADS_1
Namun ketakutan selalu menyergapnya, banyak kasus orang yang berakhir dengan menggugurkan kandungan, Annet begitu takut dan membuang jauh pikiran itu, walau sekali-kali muncul di benaknya.
Kini setelah dirinya dan Zen tahu benih yang ada di perutnya adalah milik Zen, setiap berhubungan mereka tak memakai pelindung lagi, mereka tambah bebas melakukan hubungan seolah sudah sah satu sama lain saling memiliki.