
Ameera masuk kamarnya dengan perasaan yang begitu berbunga dadanya serasa mau meledak karena merasa bahagia dan perasaan cintanya pada Richard.
Kalau anak TK mungkin tempat tidur pasti jadi trampolin buat loncat-loncat, senyum manis menghiasi bibir cantik Ameera membayangkan semua kejadian sore ini berawal dari dari pemaksaan Fathir yang melampiaskan rasa putus asanya, lalu insiden adu jotos antara Richard dan Fathir yang berakhir dengan bahagia.
Ah, Richard kamu memang pahlawan buatku, kamu memenangkan dengan baik momen yang tak diharapakan tadi sore. Meskipun kemeja mu robek di tarik Fathir dan malah memperlihatkan keperkasaan mu dengan perut sixpack kotak-kotaknya.
Wajah Richard, perawakan tinggi tegapnya dan perlakuan yang begitu romantis telah menyihir perasaan Ameera, Richard telah membuat Ameera jatuh cinta yang sebenarnya.
Pelukannya, ciumannya, belaiannya semua membuat Ameera begitu melayang tak karuan, menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan belaian juga usapan. Kenyamanan dan kemapanan menjanjikan satu kebahagiaan yang tak terungkap, Ameera melihat ada ketulusan di mata elang Richard.
Ya, mata elang Richard membuat Ameera selalu malu dan memerah pipinya, mata yang seperti menelanjangi seluruh badan Ameera yang tinggi langsing bak model ternama.
Mata Richard selalu nakal melihat dan mengagumi Ameera, Ameera sadar diri, memang dirinya begitu mempesona dan itu di tunjukkan hanya buat Richard seorang, membuat Richard selalu menelan saliva nya sendiri.
Wajah Richard yang rupawan tak mudah begitu saja untuk dilupakan, begitu dekat seperti cermin di hati Ameera entah kenapa.
'Kenapa aku jatuh cinta begitu cepat Richard? apa yang tidak membuat tertarik dari diri kamu Richard?' semuanya begitu seperti magnet yang menarik hati Ameera untuk mengikuti perasaannya sendiri.'
'Semuanya begitu menarik dan sangat ideal seorang laki-laki dewasa. Senyumnya begitu menggoda dan menggairahkan'
Ameera tersenyum, saat mengingat Richard adalah saat yang membahagiakan hatinya, membayangkan Richard membuat Ameera begitu susah tidur. Dan saat ber-telephon ria adalah saat yang di tunggunya, mendengar suara Richard membuat Ameera tidur dengan tersenyum.
Ameera melirik ponselnya yang hanya satu nomor Richard yang ada di situ, belum berdering, melirik lagi dan lagi tapi ponsel itu hanya diam tak ada pergerakan karena sebuah pemberitahuan notifikasi panggilan atau chat.
'Richard, ayolah telephon! aku kangen, walaupun besok juga kita bertemu.' Kata hati Ameera begitu mendamba bisa ber-telephon melepaskan semua kerinduannya.
Tapi Richard belum juga menelephon, bahkan sampai malam merangkak. Ameera menjadi cemas sendiri, hatinya risau dan khawatir.
Ameera mencoba menelepon tetapi nada panggilnya tidak seperti biasa. semakin bimbang saja hati Ameera takut Richard terjadi apa-apa.
Ameera belum bisa tidur sampai menjelang jam 23.00 malam, apa orang ini ketiduran? atau Richard ada perlu? bukankan mereka baru mendapat restu dari orangtua Ameera? belum pernah satu malam pun Ameera tak mendengar sapaan sayang dari Richard, setiap malam mereka selalu bercumbu dengan kata-kata cinta dan bercanda tentang perasaan mereka, sejak satu ponsel canggih yang Richard kasih hanya satu nomor dirinya.
__ADS_1
Ameera lelah menelephon dan menunggu Richard dengan kata-kata manisnya. Akhirnya ketiduran dalam penantian buaian kata manis dari Richard yang absen di malam ini.
'Richard! apa yang terjadi? katanya begitu banyak yang ingin kamu katakan?'
Bangun pagi Ameera di kejutkan dengan suara telephon, reflek Ameera meraih ponselnya.
'Benny? ada apa?' bathin Ameera penuh tanda tanya, tak biasanya Benny menelephon apalagi jam jam segini, sekilat Ameera mengambil ponsel yang berbunyi.
"Ya, ada apa Pak Benny?"
"Bu Ameera, semalam Pak Richard kecelakaan jadi saya baru bisa mengabarkan sekarang karena panik dan tak sempat"
"Astagfirullahaladzim, Ya Allah Richard? terus gimana sekarang? kecelakaan apa?" Ameera bertanya begitu panik.
"Pak Richard di serang empat orang tak dikenal, dia begitu kewalahan meladeni orang yang menyerangnya, entah apa motifnya perasaan dia tidak punya musuh dalam pergaulan dan bisnisnya." jawab Benny begitu mengagetkan Ameera.
"Pak Benny, sekarang Richard ada ada di mana?" Ameera begitu cemas, pantesan semalam di tunggu telephonnya tak kunjung datang.
"Astaghfirullahaladzim, kenapa jadi begini? siap mereka yang menyerang itu Pak Benny kira kira?" Ameera merasa itu ada kaitan dengan kejadian sore kemarin, mungkin Mas Fathir di balik semua itu, Ameera menyanyangkan kejadian yang menimpa Richard.
"Aku tidak bisa mengira-ngira Bu Ameera, tapi semua sudah diserahkan kepada yang berwajib semua dalam masa penelitian banyak rekaman Cctv-nya cuman tidak jelas karena jauh."
"Sekarang gimana kondisinya?"
"Alhamdulillah, semalam sudah siuman aku tungguin sama Hanna di situ, Bu Ameera kalau mau ke sini boleh, atau kalau bisa nanti saat Pak Richard sudah pulang saja, Pak Richard selalu memanggil nama Bu Ameera, kalau bisa datanglah karena Richard meminta untuk bisa dirawat di tempat tinggalnya."
"Baiklah Pak Benny saya akan segera ke sana, tapi saya punya janji dulu sama kontraktor yang harus saya temui hari ini, tadinya rencana agenda hari ini mau bertemu sama Pak Richard tapi karena sesuatu terjadi, saya menemui dulu kontraktor."
"Baik Bu Ameera, saya bisa bernafas lega sekarang, melihat kondisi Pak Richard sudah lebih baik, tadinya saya menyarankan untuk tetap dirawat saja dulu tetapi Pak Richard bersikukuh tetap ingin dia rawat jalan karena menurutnya lebih nyaman di tempat tinggalnya."
"Ya sudah terimakasih Pak Benny telah mengabari saya biar nanti saya menelephon Pak Benny dulu apa sudah pulang apa masih di rumahsakit."
__ADS_1
"Oke Bu Ameera, sebentar lagi saya akan urus administrasi dan jemput Richard biar bisa dibawa ke tempat tinggalnya dan dia bisa istirahat dengan tenang."
Ameera duduk dengan lemas di tepi tempat tidurnya, mengamati gambar Richard yang tersenyum memamerkan ketampanannya.
Mengusap gambar yang tetap tersenyum di hadapan Ameera.
Rasanya ingin terbang sekarang langsung ke rumah sakit dan menenangkan hati Richard, mengusapnya dengan lembut dan melayani segala kebutuhannya.
'Mas Fathir! apa kamu di balik semua ini? bukankah kita sudah sepakat kalau kita akan berpisah secara damai tapi kenapa kamu berubah pikiran secara tiba-tiba seakan tak rela semuanya berakhir?'
Ameera tak habis pikir dengan semua perubahan yang diperlihatkan Fathir akhir-akhir ini padahal masa iddah habis dari kemarin-kemarin tetapi Fathir bersikeras ingin membatalkan talak yang diucapkan sendiri.
Ameera bukan orang bodoh yang bisa dibohongi dengan segala macam iming-iming dan perubahan sikap baik Fathir, cukup Ameera merasakan kebohongan dan penghianatan yang begitu menyakitkan dan menohok hatinya.
Tadinya Ameera begitu tak ingin dekat dengan siapapun pasca berpisah dengan mantan suaminya, tapi pesona Richard membuat berubah segalanya.
Hati Ameera terpanah sejak pandangan pertama mereka bertemu, begitu juga Richard sanggup melewati perubahan kelam masa lalunya yang begitu hitam.
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1