
"Hanna, Aku harus jujur padamu kali ini." Benny menyapa Hanna langsung dengan perkataan yang tak di pahami Hanna.
"Apa itu Bang?" Hanna memandang Benny yang berdiri di samping meja kerjanya.
Pagi itu belum ada orang lain di kantor Itu selain mereka berdua.
"Aku mencintaimu Hanna!"
Sejenak Hanna tertegun sambil menatap tak percaya pria simpatik berkacamata di hadapannya, Benny yang selalu Hanna panggil dengan sebutan Abang itu tanpa diduga tanpa ada sinyal sedikitpun dengan tiba-tiba mengucapkan rasa suka pada dirinya.
"Kamu jangan kaget dan bengong aja, jawab apa aku salah?" dengan pandangan harap-harap cemas sambil menatap Hanna.
"Oh, eh I-iya Bang, aku hanya kaget aja kok tiba-tiba begitu?"
"Aku nggak tiba-tiba, aku sudah lama punya rasa ini, tapi aku takut mentok dan melihat respon kamu padaku dulu. Daripada jadi beban di hati apapun itu aku ucapkan aja sekarang."
Hanna diam dan menunduk.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa Bang, tapi kan Abang tahu statusku seperti apa?"
"Memang kenapa? apa karena kamu seorang janda aku nggak boleh mencintai kamu? Hanna, aku tulus mencintai kamu tanpa embel-embel apapun, mau janda perawan itu bukan masalah buatku, aku hanya ingin kita punya masa depan, biarkan masa lalu memberi pelajaran berharga buat kita." Benny bicara agak panjang.
Benny meraih tangan Hanna yang masih duduk di kursi kerjanya, menariknya berdiri hingga mereka berhadap hadapan dan Hanna bersandar di dinding.
"Katakan, kalau kamu juga mencintaiku Hanna!"
Benny memepetnya hingga Hanna tak bisa menolak dengan gejolak hatinya.
"Apa kamu mau, aku ajak serius?"
Hanna mengangguk perlahan, memang dirinya juga tak bisa menolak pesona Benny dengan segala pembawaannya.
Mungkin Hanna juga sudah jatuh cinta duluan sebelum Benny menyatakan perasaannya saat ini.
Perlahan Benny mencium kedua jemari Hanna yang berkeringat dingin walau itu masih pagi. Hanna tak mampu berkata apa-apa lagi selain diam menatap Benny dan senyum tersungging di bibirnya.
Lalu dengan perlahan Benny meraih dagu Hanna dan mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak lagi, bibir mereka saling berpagutan dalam kehangatan pagi.
Seperti kemarau yang lama tidak tersiram air hujan, kini datang saatnya mereka saling berbagi rasa dalam satu ucapan kata yang baru mereka sepakati. Dan sentuhan pertama lewat ciuman yang mereka rasakan tanpa mereka sadari ada di mana
Benny begitu menikmati ciuman pertamanya, begitu juga Hanna sampai-sampai mereka melupakan kalau tempat mereka berada sekarang adalah ruangan kerja, di mana mereka sehari-hari saling bertemu saling bertatap muka, bertegur sapa setiap saat sehingga rasa itu tumbuh subur di hati mereka.
"Maaf Hanna, aku mengungkapkan perasaan di tempat seperti ini, karena keseharian kita ada di sini."
__ADS_1
"Nggak apa-apa Bang, kita memang seringnya berada di sini jadi hati kita terpaut di sini."
Benny tersenyum menatap wajah cantik Hanna, mengusap pipinya dan mendekatkan kembali wajahnya dan mereka berciuman kembali, seperti menagih ingin di ulangnya lagi.
"Wow ... rupanya ada affair di ruangan ini, gue yakin Benny, di depan gue lo alim, tapi di belakang gue sama saja sepertinya kamu tukang serobot, pagi-pagi gini sudah nyosor."
Hanna mendorong dada Benny menjauh dari badannya, muka Hanna merona merah, lalu duduk kembali di meja kerjanya.
Benny bersikap lebih tenang, berdehem dan menghampiri Richard yang baru masuk memergoki dirinya lagi berciuman sama Hanna.
"Aku hanya membuktikan satu teori Bos."
"Ngomong apa lagi lo? jangan berdalih apa-apa, gue tampol lo!semua sudah jelas lo juga suka cewek berarti!"
"Nah itu yang aku mau perjelas, teori pertama seringnya bertemu bersahabat, bertatap muka, ngobrol dan saling cerita itu akan mendatangkan rasa suka, buktinya aku sama Hanna, Bos juga terapkan cara itu karena ada pepatah 'tak kenal maka tak sayang' jelas kan?"
"Iya kali ini gue nurut sama lo!"
Richard menghampiri Hanna di mejanya dan menatap muka Hanna dari dekat, seperti sedang meneliti sesuatu membuat Hana menjadi jengah semakin salah tingkah.
"Apaan Bos lihat orang se-begitunya?"
"Aku hanya ingin membuktikan satu teori." Richard menirukan gaya dan ucapan Benny tadi.
Benny terkekeh dan Hanna menjadi semakin merona wajahnya.
"Melihat muka lo yang lagi jatuh cinta dan kejatuhan cinta." ucapan Richard kontan membuat wajah Hanna memerah.
"Apa sih Bos?"
"Karena gue nggak kasih contoh jelek dengan bermesraan di kantor jadi gue tegaskan di larang mesum di sini, oke? selain gue nggak ada pasangan, nggak enak sama yang lain."
Benny kelihatan terkekeh sendiri sambil mendekati meja Hanna, mengusap-usap punggung Hanna sambil nyengir kuda.
"Maafkan kelakuan kami yang jatuh cinta Bos, semoga Bos bisa memakluminya." Benny agak malu karena ketahuan langsung sama Bosnya.
"Suka cewek juga lo ternyata?" Richard meledek Benny.
"Kita baru jadian Bos, serius!"
"Emang dari kemarin-kemarin kalian kemana? kenapa baru sekarang saling jatuh cinta?"
"Kemarin-kemarin aku takut di tolak, tapi ternyata aku salah, heee ...."
"Kalau mau mesum cari kamar sana, jangan di kantor gue, nanti gue ngeces gimana?"
__ADS_1
"Nggak lah Bos, itu karena tadi belum ada orang, lagian kita hanya yang ringan-ringan saja."
"Emang kalian bisa nahan kalau sudah di mulai?"
"Haruskah bisa lah, nanti juga akan ada saatnya, kalau kita sudah sah."
"Buktikan ucapanmu Benny, gue pengen lihat lo sama Hanna serius dan jadi suami istri, sebenarnya gue sudah lama melihat tingkah kalian berdua tapi gue pura-pura aja."
"Masa sih Bos?" Hanna seperti tidak percaya.
"Aku juga mau melihat Bos serius menjalani perubahan, oke hari ini kita mulai dengan agenda apa?"
"Lo serius sudah ciumannya?"
"Nanti malam di sambung lagi, kan sekarang waktunya kerja buat bekal nikah."
"Gue akan kasih hadiah kalian berdua yang istimewa jika kalian sampai serius dan menikah."
"Di kasih nggak di kasih hadiah juga aku akan serius Bos, tinggal Bos yang harus serius sekarang."
"Gue juga serius, coba telephon Ameera apa dia sibuk hari ini apa enggak, kalau senggang aku mau melihat area lokasi Agrowisata itu."
"Ehemght ... baik Bos!" sambil berdehem Benny menggoda Bosnya, Richard melotot memandang Benny.
Benny menelepon Ameera, dihadapan Richard, dengan seksama tak ingin ketinggalan menangkap apa yang diucapkan Benny Richard seperti seorang tukang gunjing yang ingin tahu apa yang di ucapkan Ameera lawan bicara Benny di telephon.
Richard berubah jadi seperti ABG yang baru kenal cinta, serba ingin tahu dan ingin jelas apa yang di dengarnya.
Keinginan bertemu dengan Ameera, melihat wajah cantiknya, melihat senyumnya membuat Richard tak ingin melakukan apa-apa.
Yang di inginkan nya hanya bertemu, ngobrol dan bisa menatap wajah teduhnya yang begitu menyejukkan hati.
Richard akui ini perasaan yang aneh, tak biasanya seperti ini.
*****
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
JUDUL : ROMANSA BIAS DAN ZEE
KARYA : BUBU.id
Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.
Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.
__ADS_1
"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"