Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Konyol Jody


__ADS_3

"Apa pekerjaanmu Nak Jody? berapa penghasilan mu? sanggup kasih makan anak Bapak Pitaloka sama anak kalian nanti?" Tanya Bapaknya Loka sesaat Jody mengatakan niatnya serius ingin lanjut mempersunting Loka pujaan hatinya.


Dada Jody berdegup kencang seumur-umur menikah sudah tiga kali keempat kalau jadi sekarang sama Loka baru di tanya penghasilan.


Antara jujur dan merendah saja itu pilihan yang sulit buat Jody, tapi kalaupun jujur belum tentu Bapaknya Loka percaya. Jody menanggapi semua pertanyaan bapaknya Loka dengan santai saja.


"Saya hanya kerja pabrik Pak, tapi semoga gaji saya cukup buat makan Loka sama anak kami nanti, asal Loka nya aja jangan makan terlalu banyak dan minta yang mewah lauk dan lain-lainnya takut sebulan malah punya hutang, dan aku jadi nombok pasti kasbon melulu, pekerjaanku jadi terancam."


"Semoga saja Loka bisa mengerti keadaan dan kondisi suaminya nanti, syukur kamu kerja di pabrik, asalnya ada tetangga tukang ojek nggak tau serius atau iseng yang meminta kepada Bapak biar Loka menjadi istrinya. Tapi Bapak merasa tukang ojek penghasilannya tidak pasti, tidak seperti kamu yang kerja di pabrik mungkin tiap bulannya akan pasti kamu mendapat gaji kalau kamu juga rajin masuk kerjanya."


"Iya Pak, jadi saingan saya itu tukang ojek Pak?" Jody ingin ngakak tapi tak mungkin di depan Bapaknya Loka yang kumisnya segede tanggul saluran irigasi.


'Parah banget gue kali ini, tapi menangnya Loka yang lugu dan cantik belum terjamah sama sekali masih belantara tutupan.'


"Sebenarnya banyak yang suka sama kecantikan Loka, ada tukang bakso keliling yang selalu menawarkan bakso gratis pada keluarga Bapak, Ibunya begitu senang tapi bukan orang sini dia perantau Bapak kurang setuju, Takutnya suatu saat dia sudah bosan di sini dia pengen pulang kampung membawa Loka jauh, jadi Bapak sama Ibu merasa kehilangan. Walaupun mungkin penghasilan tukang bakso itu menjanjikan juga, bahkan mungkin melebihi karyawan pabrik."


Jody manggut-manggut. Betapa lucu semua ini, dan Jody ingin banget nanti cerita sama sahabatnya Richard pasti Richard guling-guling tertawa sampai keluar air mata.


"Yang masih baru tukang potong ayam di pasar, suka juga sama Loka tapi Ibunya merasa nggak suka karena sehari harinya bawa pisau dan takut sadis katanya."


Jody manggut-manggut lagi. Masya Allah saingan gue ternyata ada tiga, tukang ojek, tukang bakso keliling, sama tukang potong ayam sayur di pasar, dan syukurnya Jody yang paling di setujui keluarga Loka.


"Tapi Bapak setuju banget sama kamu Nak Jody yang pekerja pabrik, punya gaji jelas, Jadi Bapak merasa tentram jika satu saat melepaskan Loka menikah sama kamu."


"Alhamdulillah saya yang kepilih Pak, saya mau secepatnya menikah sama Loka, biar saya ada yang masakin bekal kalau mau kerja."


"Bawa orangtuamu ke sini, biar Bapak sama ibu bisa kenalan, dan ngobrol serius mencari tanggal dan hari baik."


"Baik Pak, apa syarat yang Bapak minta saat keluarga saya melamar anak Bapak Pitaloka?"

__ADS_1


"Bapak tidak minta apapun Nak Jody, semampunya Nak Jody saja, Bapak maklum gaji pegawai pabrik mungkin pas buat sebulan hidup, apa Nak Jody punya tabungan?"


"Ada Pak, semoga cukup buat selamatan saat saya sama Loka nikah nanti, Insya Allah sudah saya tabung selama sepuluh tahun, tapi tolong jangan beli ayam di orang yang pernah suka sama Loka ya, takut masih ada rasa dan dia bisa bikin ulah."


"Baik Nak Jody nanti Bapak sampaikan sama Ibu biar cari tukang ayam yang lain, Bapak tambah simpatik sama Nak Jody, ternyata selain kamu ganteng calon menantu Bapak yang sangat serius mau melamar Loka, apalagi kamu rajin sekali nabung sampai sepuluh tahun tidak diambil, walupun Bapak tahu pasti selama sepuluh tahun itu tak seberapa, tapi Bapak bangga padamu."


"Pak, mau selamatan nikahnya seperti apa nanti?"


"Melamar saja belum Nak Jody, satu-satu saja dulu, sekarang Nak Jody baru bilang sama Bapak kalau Nak Jody suka sama Loka dan Loka juga suka sama Nak Jody, Bapak restui. Selanjutnya bawa orangtuamu melamar ke sini baru tentuin tanggal dan hari menikah, menikah itu banyak biaya ini dan itunya. Jadi Nak Jody harus siap-siap kehilangan tabungan selama 10 tahun itu, karena Bapak sama Ibu mungkin tidak bisa banyak menambah biaya karena Bapak masih punya tanggungan adik-adiknya Loka yang masih pada sekolah.


"Iya Pak, berapa ya kira kira biaya Nikah jaman sekarang? apa Loka mau menurut kemampuanku? aku takut dia berpaling saat tahu serah nanti tak sesuai harapan Bapak!"


"Loka anaknya nggak neko-neko, Tenang saja Bapak bisa bujuk dia, karena Bapak sudah setuju sama Nak Jody ini, dia nrimo apa adanya, sederhana banget Nak Jody seperti sederhananya kehidupan keluarga kami, pokoknya jangan sampai habis nikah kalian punya hutang, kasihan kalian jadi punya beban jadi nggak tentram bulan madunya."


"Iya Pak justru itu, aku pengennya tentram bulan madunya, dan nggak punya hutang. Makanya aku selalu mikir cukup nggak ya uangku yang di tabung lama itu?"


"Gini saja Nak Jody, Nak Jody kan pihak laki-laki jadi pihak laki-laki yang harus bawa serah saat melamar dan serah itu akan kami pergunakan saat selamatan nikah dan untuk biaya nikah itu sendiri. Nanti Bapak yang atur seberapapun keluarga Nak Jody ngasihnya akan Bapak jadi jadikan dan pas pasin jangan sampai punya utang."


"Nak Jody bawa mobil, itu mobil sewaan ya?"


"Oh, i-iya Pak saya sewa sama teman, biar kelihatan keren, itu nggak akan mengganggu tabungan saya buat serah nanti, itu pakai uang lembur sampai pagi saya Pak."


"Alhamdulillah, calon menantu Bapak rajin lembur juga rupanya, pokoknya Bapak semakin simpatik sama Nak Jody. Bapak semakin setuju kalau Nak Jody jadi menantu Bapak."


"Makasih Pak, semoga saya tambah rajin lembur saat nanti sudah menikah sama Loka."


"Ish! kalau sudah nikah justru jangan banyak lembur di pabrik lalu kapan kamu bikin cucunya buat Bapak?"


"Iya, maksud aku lembur di kasur Pak, saya nggak akan lembur di pabrik karena kasihan Loka tinggal di kontrakan sendiri."

__ADS_1


"Bagus, kamu memang pandai mengatur diri."


"Makasih Pak."


"Nak Jody bisakah sewa mobil lagi saat nanti mau selamatan? biar Ibunya ke pasar belanja pakai mobil, takut banyak yang harus di belinya."


"Oh, boleh berapa hari Pak? biar saya lembur dulu buat sewa mobilnya."


"Oh alah, jadi ngerepotin ya kalau begitu."


"Nggak apa-apa Pak, demi lembur tiap malam sama Loka nanti, jadi saya sebelum nikah harus lembur di pabrik dulu."


"Itu kalau nggak ngerepotin Nak Jody, kalau di rasa berat jangan biar ibu belanja naik ojek saja."


"Jangan naik ojek! takutnya Ibu naik ojek sama orang yang suka sama Loka jadi dia sakit hati Loka menikah sama saya."


"Terserah Nak Jody saja lah kalau sanggup silahkan tapi jangan memaksakan ya."


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2