Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Tembakan Richard


__ADS_3

"Hai Ameera!"


"Assalamualaikum Richard."


"Eh, Waalaikum salaam. Maaf aku terlalu senang sampai lupa kasih salam."


"Mari silahkan duduk, ada apa? masih pagi sudah ganggu orang kerja aja!" Ameera memandang Richard mencari kesungguhan di balik bola mata tajam itu. Sedikit bercanda menenangkan hatinya sendiri yang bergetar sejak awal Richard datang.


"Aku memang sukanya begitu Ameera, mengganggu dan mengusik orang, tapi nggak ke semua orang karena semua ada sebab akibat." Richard duduk tepat di hadapan Ameera.


Ameera tersenyum, mengerti arah bicaranya Richard, tapi Ameera pengen tahu sampai di mana keberanian Richard mengungkapkan perasaannya, apakah akan terjadi hari ini? dia berhasil mengucapkan atau sekedar gombal saja? menurut Ameera Richard beraninya hanya di telephon saja.


"Apa sebab akibat yang di maksud?" Ameera menyimpan air minum di hadapan Richard. Dua botol air mineral tersedia di meja.


"Sebab kamu cantik, menarik, semua pembawaan kamu, cara bicara kamu, cara ngobrol kamu, senyum kamu, wawasan kamu, semuanya telah melumpuhkan hatiku Ameera, akibatnya aku tak berdaya habis waktuku memikirkan kamu, berharap satu rasa bisa kamu berikan sebagai balasan dari akibat yang kamu tebar, pesona kamu begitu dalam mengisi hati ini." Richard menunjuk dadanya.


Ameera tak bisa menjawab, hatinya juga sama seperti tak berdaya menerima ungkapan perasaan yang begitu dalam dari Richard, begitu serius mengatakan langsung pada pokok permasalahan tanpa tedeng aling-aling.


Itulah ungkapan cinta saat sudah dewasa langsung pada intinya tidak berbelit tidak mengandung kata puitis dan rekaan kata yang sulit di mengerti.


"Richard, apa sudah kamu pikirkan semuanya? apa tidak terlalu cepat semua ini?" Suara Ameera seperti tercekat di tenggorokannya walaupun agak terbata Ameera masih bisa lancar bicara.


"Tidak Ameera! aku tidak suka menunda apapun, aku lebih suka menerima konsekuensi dari apa yang aku katakan, jujur aku sukanya begini, suka aku katakan! kamu menolak tolong pikirkan lagi!" ada nada bercanda di akhir kalimat Richard.


Ameera kembali diam, tak menyangka sedikitpun kalau hari ini hari yang masih begitu belum siang, dirinya telah menerima pernyataan satu hati yang begitu jujur dan blak-blakan.

__ADS_1


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.


Richard menahan tangan Ameera dan tetap menggenggamnya sampai suara batuk-batuk kecil begitu jelas mengagetkan mereka.


Richard sadar dengan kesalahannya, sontak duduk dengan reflek di samping Ameera.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salaam Pak Bagas." Ameera agak malu.

__ADS_1


"Maaf saya mengganggu, karena ada kiriman maket yang harus kita diskusikan lagi, kebetulan juga sudah ada Pak Richard di sini jadi kita bisa langsung pada persoalannya."


"Baik Pak Bagas, sangat kebetulan sekali, mungkin ini adalah hari baik kita dan semoga akan menjadi hari-harian lebih baik kedepannya."


"Bu Ameera bisa minta Mang Jaka menyediakan satu meja?"


"Oh Boleh." Ameera kelihatan masih gugup.


Ameera langsung memanggil Mang Jaka yang sedang santai duduk di luar, langsung memberikan perintah sesuai yang diinginkan oleh Pak Bagas.


Richard tersenyum, hatinya lagi berbunga dan bahagia, cintanya di terima dengan mulus sama Ameera, juga satu kebetulan yang memang sangat kebetulan sekali Pak Bagas datang saat dirinya lagi menggenggam tangan Ameera. Satu tontonan yang ingin Richard perlihatkan kepada Pak Bagas kalau dirinya telah memenangkan hati Ameera selain memenangkan proyeknya yang akan dijalankan bersama-sama yang akan lebih mendekatkan dirinya sama Ameera.


Richard tahu, Pak Haji Marzuki seperti mendekatkan Ameera dengan Pak Bagas karena awalnya sudah cocok sampai pada akhirnya hadir dirinya di tengah-tengah mereka. Tanpa pemaksaan kedua belah pihak Ameera dengan dirinya sama-sama jatuh cinta, Itu kenyataannya, Richard selalu jadi pemenang!


******


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️



Judul : Kembali Cantik Si Gadis Cacat


Napen : Emy


Alice pernah mengalami kecelakaan, hingga membuat sebagian wajahnya terluka.

__ADS_1


Semenjak saat itu, dia harus menerima cacian dan hinaan dari semya orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan secara sepihak karena wajah buruknya.


Namun diam-diam ada pria yang selalu membantu Alice. Bagaimanakah percintaan Alice selanjutnya? Apakah pria itu akan menampakkan diri dan membantu Alice mengubah takdirnya?


__ADS_2