
"Benny, mau rapat keluarga gue jam berapa nanti, kalau bisa malam saja biar sudah tenang semuanya, tinggal ngecek barang bawaan serah saja kan? kalau ada yang kurang besok sehari lagi masih ada waktu." ucap Richard mulai serius.
"Iya siap Bos, dari kemarin-kemarin aku pulang larut malam terus, makanya belum sempat menemui orang tua Bos sama keluarga lainnya." jawab Benny sesudah menyeruput kopi di cangkirnya.
"Kok, kamu bisa pulang sampai selarut itu Ben? emang ada apa sebenarnya di The Rich Hotel yang klab malamnya dikelola manajer Zen?" tanya Richard belum tahu dengan jelas semua masalahnya.
"Waduh, sepertinya panjang ceritanya Bos kalau menurutku nanti sajalah habis Bos resepsi ceritanya biar tidak menjadi beban pikiran, sekarang bablas saja jangan dulu di pikirkan. Bos bebaskan saja dulu jangan mikirin pekerjaan dan masalah karena masih dalam tahap pengintaian, biar aku yang tangani, ada hal penting yaitu pernikahan Bos."
"Kalau itu yang terbaik menurut lo gue ikutin, tapi jangan sampai semua itu menjadi beban lo juga." jawab Richard sambil menarik napas panjang.
"Tenang saja pokoknya calon pengantin yang sudah berat ke ujung mah, pikirkan yang indah-indah, menikah itu harus bahagia, dan memang sesuatu yang sakral jadikan dan niatkan seumur hidup satu kali saja sampai maut menjemput kita, yang kita nikahi hari itu itulah jodoh kita seumur hidup tak akan pernah habis satu juga Bos, malah tambah legit." Benny memotivasi Richard
"Betul Ben, tak akan menemui ujung kepuasan kalau tidak dikendalikan oleh kita dengan rasa syukuri dengan nikmatnya saling mencintai, semoga gue bisa menjaga hati dan perasaan Ameera yang gue cintai dan semoga Ameera juga ikhlas menerima gue apa adanya." ucap Richard datar.
"Pasti, Bos. Aku tak meragukan Ameera, segala tindakannya penuh dengan pertimbangan orang yang mengerti akan aturan selalu punya pertimbangan lebih bijaksana dari kita dalam segala hal dalam menyikapi segala masalah. Mungkin Ameera memilih Bos bukan tanpa pertimbangan sudah dipertimbangkan matang-matang akan seperti apa kedepannya, aku suka cara pandang Bu Ameera." Benny menyatakan kekaguman pada Ameera.
"Oke Benny, jadi sekarang kita nggak usah ngebahas tentang pekerjaan dulu, biarin lo aja yang tangani semuanya gue mau menemui orang tua sama keluarga karena belum gue temuin."
"Silahkan, aku sebagai panitia dari pihak keluarga laki-laki akan mengecek semua persiapan dulu mungkin koordinasi juga sama Hanna, biar semua bisa sejalan dengan keluarga Ameera."
"Sebenarnya gue nggak mau banyak-banyak tamu, makanya dari pihak gue cuma sebar undangan yang penting penting saja, tapi keluarga Ameera sepertinya nggak sejalan dengan keinginan dan harapan gue, tapi biarin saja malah kata Ameera menikah itu harus di kabarkan ke semua sanak famili biar orang tahu jadi banyak yang mendoakan itu lebih baik."
Richard bicara lagi di pintu keluar.
"Memang begitu. Tapi soal tamu itu harusnya keinginan sebelum cetak undangan Bos, bukannya lusa mau menikah baru bicara."
__ADS_1
"Nggak apa yang penting khidmat dan sakralnya."
"Betul Bos! saya permisi mau jalanin agenda dulu."
Benny keluar duluan di susul Richard.
Richard kembali ke tempat tinggalnya dan masih ada Hanna juga sama tim kerjanya.
"Bos kira-kira baiknya meja rias itu di taruh di mana ya? aku sudah menghubungi agen langganan semua pengadaan Hotel nanti di kirim gambarnya biar Bos yang pilih sendiri."
"Biasanya di mana? gue malah nggak tahu."
"Biasanya di kamar tidur, tapi kamar tidur Bos beda."
"Baik Bos, tapi berhentilah ngobrol yang sangat pribadi, memalukan!" gerutu Hanna.
"Tapi semua cowok sangat senang Hanna, buktinya suami lo tuh belum bosan-bosan sampai sekarang malah tambah legit katanya!"
"Dasar laki-laki, emang dodol apa? segala di obrolkan, padahal itu kegiatannya sendiri."
"Hanna kasih tahu Ameera resepnya biar bisa kayak dodol legit, juga greng kayak lo!"
"Bukannya cowok yang biasanya punya resep? cewek itu kuat beberapa babak juga nggak usah pakai resep, tapi cowoknya tangguh nggak? huh ... jangan-jangan semua hanya bisanya ngomong doang. Aslinya tape melehoy!"
"Kata Benny lo yang lebih hot!"
__ADS_1
"Apa? dasar keterlaluan, awas ya jual orang aja sendirinya yang sok gagah, semangat empat lima kemampuan tahu! sama saja kayak Bos satu ini!"
"Kok jadi ke gue marahnya sih?"
"Iya sama satu frekuensi kalau soal ************! suka di ubek-ubek, seneng juga di ceritain!"
"Haaaaaaaa ...."
"Cie cie yang mau jadi pengantin seneng banget kedengarannya, Kak Richard kata Mama pastikan hari ini sama besok nggak kemana-mana, katanya pengantin pamali keluar rumah."
Andrea masuk melihat Kakaknya lagi ngobrol sama Hanna.
"Boleh kali kalau nggak jauh-jauh perginya?" jawab Richard.
"Emang Kakak mau ke mana?"
"Paling ke rumah Ameera."
"Huh! ya nggak bisa lah, sabar dua hari lagi ketiganya Kakak jadi suaminya."
"Tapi gue pasti bisa ketemu Ameera lihat saja nanti!"
"Maksa banget, nggak sabar amat sih Kak?"
"Kalau bisa Andrea, kalau nggak ya gue diam."
__ADS_1