
"Ah Papa! Aku tidak suka di bopong begini biarkan Aku bangun dan berjalan sendiri ke kamar mandi!" teriak Ameera saat Richard membopong dengan ringannya masuk bareng ke kamar mandi.
Dengan terkekeh Richard tetap saja melakukannya. Walau sama suaminya sendiri Ameera tetap merasa malu kalau harus tanpa busana di hadapan suaminya kalau bukan saat berhubungan intim.
"Aku takut Pap, takut jatuh!"
"Bersamaku aman Sayang diam lah nanti Richie bangun. Pokoknya cepat-cepat Kita mandi takut orang tuaku datang ke sini," ucap Richard sambil menurunkan Ameera.
"Eh Papa tadi ke sini sama siapa?"
"Sama Benny..." jawab Richard santai.
"Lho sekarang Pak Benny nya ke mana?" Ameera keheranan karena memang dari tadi mereka asyik saja tak berpikir siapapun juga apapun.
"Benny lebih mengerti ya balik lah ke Hotel mungkin lagi cari cara baikan sama Istrinya kata Benny berantem terus karena selama ini Hanna ditinggal-tinggal habis Aku nggak ada temen dan mau ditemani."
__ADS_1
"Ya ampun Pap, Kamu ini sungguh tega pada rumahtangga orang!" Ameera menatap Richard dan berhenti sesaat dari kegiatan mandinya.
"Gimana lagi terpaksa Aku nggak ada teman dan maunya Benny yang kuanggap paling mengerti kalau Aku sendiri nggak bisa harus ada teman ngobrol! apalagi Benny bisa jadi saksi kalau selama ini Aku bisa di percaya tak ke mana-mana selama di tinggal pergi!" ucap Richard menerangkan alasannya memang begitu ketergantungan dengan Benny yang dianggap sudah seperti saudara sendiri.
"Ayo mandi cepet nanti telpon Pak Benny! kasihan semoga bisa meyakinkan Hanna."
"Nggak usah, Benny sudah tahu kalau Aku sudah menemukan sarang ternyaman!" senyum Richard membuat Ameera menyipratkan air ke tubuh kekarnya.
"Jadi Aku hanya Papa anggap sarang? ah terlalu!" Ameera mengambil handuk dan melap rambutnya lalu mengenakan piyama mandi lagi.
"Hahaha ... memang Mama sarang senjataku! bidadari yang paling Aku cinta." Richard terkekeh sendiri dan menghalangi Ameera yang mau keluar duluan.
"Ya sudah Aku mandi dulu ya ...." Kalau bicara dan alasan Richie Richard selalu kalah dan mengalah merasa prioritasnya kini adalah putranya setelah Ameera Istrinya.
"Aih Sayang Richie bangun ya Sayang? di mana ini?" Ameera menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya sambil mengajak bicara putranya Richie yang sudah bangun.
__ADS_1
Richie yang aktif mulai mengenal sentuhan apalagi Bayi zaman sekarang sudah kenal bau tangan dan maunya di pangkuan mungkin karena nyaman.
Richie yang usianya belum dua bulan mulai menggerak gerakkan kaki dan tangannya sepertinya mau menangis karena haus.
"Pap Sayang Itu Richie nangis pangku, Aku mau sholat dulu kan Papa dari datang belum menyentuhnya karena bobok!" Ameera yang melihat suaminya keluar kamar mandi mengangguk.
Dengan senangnya Richard memangku dan menciumi Bayi yang mulai berubah masa pertumbuhannya. Richie berhenti menangis Richard seperti tak ingin melepaskan buah hatinya yang merasa nyaman di pangkuannya.
"Sayang Kakek Nenek ada di sini, nanti ketemu ya mereka sudah kangen banget sama Richie ...." Richard menimbang Richie kecil di pangkuannya
Ameera tersenyum sambil melipat kain bekas sholat mendengar pembicaraan Richard sama putranya.
Richie yang anteng di pangkuan papanya seperti merasakan ikatan bathin diantara keduanya.
Richard yang diawal tak pernah berpikir seorang Anak tetapi kini semua berbeda setelah di hadapannya hadir darah dagingnya sendiri buah cintanya dengan Ameera menjadikan prinsipnya berubah haluan. Kini Anak adalah segalanya seperti memiliki sesuatu yang tak ternilai dari apa yang di milikinya.
__ADS_1
*******
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️