
Ameera merapikan dasi suaminya yang kelihatan begitu tampan dengan stelan pakaian dinas kantornya.
Keduanya lalu duduk di meja makan mini mulai dengan sarapannya yang diantar Hanna dan pegawai lainnya.
Richard orangnya begitu pemilih kalau sudah cocok dengan satu makanan misalnya menu pagi seperti itu terus saja sampai bosan, dan nanti menemukan lagi sesuatu yang baru dan dirasa enak terus saja seperti itu menu makannya mudah ditebak jadinya.
Ameera membikin susu khusus Ibu hamil sebagai tambahan nutrisi kehamilannya dan itu wajib meminumnya dihadapan Richard.
Tak banyak yang di makan Ameera kalau sarapan cukup susu dan sereal kesukaannya, dan Richard minum kopi mix dengan kue-kue kecil, atau dimsum, juga bakpao daging kesukaannya.
"Kok sedikit makannya Sayang? bukankah yang Kamu makan buat dua orang?" ucap Richard sambil menatap wajah Ameera yang semalam sampai pagi habis di jelajahinya.
"Cepet kenyang Mas kalau makan sudah hamil besar begini, tapi cepet lapar juga," jawab Ameera memandang wajah suaminya yang sudah membayang banyak bulu kasar yang tumbuh dan menunggu di kerokan.
"Gimana jadi nggak USG nya?"
"Jadi dong, kan Mas sudah janji padaku," jawab Ameera kelihatan senang.
"Baiklah, tapi siangan dikit ya Aku kondisikan dulu di kantor baru ke dokter," ucap Richard sambil meminum minumannya.
Ameera mengangguk dengan senyuman.
Ameera melepas suaminya di pintu dengan ciuman dan pelukan walau Richard pergi ke kantornya dalam hitungan langkah saja tapi begitulah Richard memperlakukan dan memperlihatkan rasa sayangnya pada Ameera.
Semua hal yang berurusan dengan Ameera akan kalah dan mengalah seperti saat ini Ameera menginginkan USG untuk janinnya yang asalnya mereka sepakat tidak akan meng-USG karena akan menjadi kejutan menyenangkan bagi mereka nantinya.
__ADS_1
Bagi Ameera lebih dulu tahu kelamin Anaknya nanti akan lebih memudahkan mencari peralatan bayinya nanti mungkin dari warna atau jenis pakaian yang akan dibelinya sebagai persiapan menanti kelahiran buah hati mereka. Akhirnya Richard kalah juga.
Semenjak Ameera hamil Richard sepertinya tidak betah berada di manapun selain di dekat Ameera di manapun Ameera berada.
Selain kekhawatiran yang semakin protektif Richard menjadi semakin bawel saja takut Ameera keberatan mengerjakan sesuatu, takut Ameera tidak hati-hati dan jatuh takut Ameera mengerjakan hal di luar batas kemampuannya takut Ameera perlu bantuan dan lain sebagainya.
Satu yang selalu menjadi pertentangan nya kalau Ameera mau menginap di rumah orangtuanya, Richard merasa malas hanya karena tak bebas itu alasannya, mau ini itu malu sama mertuanya dan harus bangun pagi-pagi mengikuti Haji Marzuki ke mushola.
Richard belum rela menghabiskan waktu kesukaannya kelonan sampai waktu shubuh hampir habis.
Ameera selalu meyakinkan kalau di rumah orangtuanya juga bebas melakukan apapun toh itu kamar pribadinya tapi Richard tetap saja merasa keberatan dengan Alasan tidak bebas melakukan kegiatan suami istri.
Kadang Ameera tersenyum tuntutan tinggi suaminya akan hal yang satu itu, memang tak ada kata bosannya meminta siang kalau ada kesempatan dan malam selalu asah dan kokang terus.
Ameera senang-senang saja selama semua di lakukan dengan enak malah membuatnya ketularan juga jadi suka main dan belum bisa tidur kalau belum kegiatan yang satu itu.
Ameera berdandan di depan cermin megahnya masih dengan piyama mandinya, meneliti wajahnya yang pucat dan gemuk kini karena kehamilannya.
Pintu di ketuk mungkin Hanna atau anak buahnya yang ingin membereskan bekas sarapan dirinya sama Richard.
"Masuk saja!"
"Pagi Bumil cantik!" sapa Hanna sambil masuk.
"Pagi juga Hanna, sudah sarapan belum sarapan dulu lah biar kuat menghadapai suamimu!" ucap Ameera sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku sudah sarapan omelan tadi pagi Bu Ameera," jawab Hanna sambil tertawa.
"Kenapa? kok sarapan omelan bukankah tiap pagi adalah hal yang paling menyenangkan bagi setiap pasangan suami istri?" tanya Ameera sambil melirik Hanna yang masuk langsung membereskan tempat makan.
"Nggak ngomel gimana Bu, sudah siang malah nemplok aja nggak mau lepas giliran sudah siang minta tambahan kalau bangun keringatan enak mandi katanya, maksudku kenapa nggak dari tadi kalau mau naik pesawat? Jangan nunggu waktu mepet kebiasaan itu!" ujar Hanna menceritakan kisah paginya bersama Benny.
Ameera tertawa, lucu saja mendengar kepolosan Hanna saat bercerita tentang masalah rumah tangganya. Bukan masalah ekonomi keuangan atau Anak yang menjadi persoalan mereka tetapi yang selalu menjadi cekcok di antara keduanya soal main dan main yang ada saja permasalahan bagi mereka.
"Hanna, Hanna... di nikmati dong jangan malah ngomel. Jadi kapan Kamu bisa menikmatinya? banyak di luar sana orang-orang menginginkan hubungan resmi dan bisa menikmati dengan tanpa beban seperti kita ini, Kita kapan saja waktunya bisa kapan mau tinggal padukan aja kok malah repot sendiri?" tukas Ameera masih saja dengan senyumnya.
"Hai Bu Ameera, kok Bu Ameera sepertinya menikmati banget sih? Apa pernah ada kekesalan sama Pak Richard misalnya seperti Kita lagi malas melayani mau bangun terus suami menahannya meminta lagi meminta lagi gimana tuh?" Hanna balik tanya sma Ameera.
"Aku nggak pernah kesal sama suamiku Hanna. Aku selalu siap siaga kapanpun suamiku mau dan memintanya, Aku menikmatinya selama Aku merasa enjoy ayo aja!" jawab Ameera jujur dan apa adanya.
"Busyet! itu sama doyannya berarti. Kalau Aku kadang bete Bu Ameera jadi malas kalau nggak mood hubungan, berbagai gaya tapi belum hamil juga. Mungkin itu ya penyebabnya Aku suka kesal sama suamiku?"
"Hanna, kalian berdua sehat-sehat kelihatannya, jangan terbebani saat melakukan hubungan biasa saja datar dan nikmati jangan lantas ada kata kapan jadinya? perasaan seperti itu malah yang membuat kita merasa tertekan tidak bebas. Seperti Aku aja bebas akhirnya ada juga nih hasilnya," sahut Ameera sambil membelai perutnya.
"Hamil besar begitu masih saja di suntik Bu?" tanya Hanna maksud bercanda dan menggoda Ameera.
"Sensasinya luar biasa Hanna kalau lagi hamil begini, Aku sama Richard masih belum kelewat tiap malamnya dan bebas nambah pula tapi kalau pegel suami harus bisa mengerti dan lebih dominan cari posisi enak dan aman," sahut Ameera, kalau bicara soal yang satu itu tanpa malu Ameera berbagi tips pada Hanna walau di luar penampilannya Ameera tidak mencerminkan seseorang yang terbuka dalam bicara blak-blakan soal **** dan hubungan suami istri.
Hanna tersenyum, memang kuncinya menikmati tanpa beban tapi dirinya sama Benny begitu sulit untuk merealisasikannya. Selalu saja ada percekcokan sebelum dan sesudah berhubungan suami istri terkadang Hanna yang capek kadang Hanna lagi mau Benny nya sudah ngorok duluan.
*******
__ADS_1
Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️