Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Kemarahan Ameera


__ADS_3

Ameera megatupkan rahangnya keluar dari huniannya tanpa menutup pintu dalam perkiraannya Richard suaminya masih ada di kantornya ingin Ameera segera menunjuk hidungnya yang selalu bermuka manis di hadapannya tak tahu di belakangnya begitu menusuk dan membohongi dirinya.


Kata-katanya semua dusta dan manisnya sikap juga lembutnya perlakuannya hanya manipulasi saja dan penuh kebohongan.


Seperti melayang Ameera berjalan menuju Kantor suaminya dengan menjinjing laptop. Di tengah jalan bersimpangan dengan Hanna yang Ameera tatap dengan sorot mata amarah siap menumpahkan segara emosinya. Tatapan penuh perayaan tapi Ameera tak bertanya apapun cukup dirinya melihat semuanya barusan di rumah huniannya.


Hanna gelagapan dan terlihat gugup saat melihat Ameera keluar dari huniannya


"Oh, eh Bu Ameera? gimana sudah seh..."


"Minggir!"


Jleb! Hanna tak bicara lagi dan minggir seperti lemas di pinggiran tembok Hotel. Hanna menyadari Ameera tahu semuanya dan sekarang sedang murka


Brak! Ameera menendang pintu kantor Richard suaminya. Terlihat Richard lagi berpelukan dengan Janeeta yang datang meminta kerja lagi di klab malam hotelnya.


Karena Richard mengizinkan dengan beberapa syarat Janeeta atau Annet berterima kasih banyak kepada Richard dan bahkan berusaha melupakan masa lalu mereka dikarenakan Annet begitu butuh dengan pekerjaan ini dan Annet dengan spontan pemeluk Richard sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan hati Richard yang menerimanya kembali sebagai penyanyi di klub malam The Rich.


Richard spontan mendorong Annet dan mau menghampiri Ameera karena tergesa dan panik kakinya tersangkut kaki meja kerjanya dan jatuh terjerembab di hadapan Ameera.

__ADS_1


Dengan perasaan amarah Ameera tak sedikitpun bicara hanya menatap Annet yang kelihatan merasa bersalah dan juga Richard yang mengaduh kesakitan persis seperti kejadian waktu di butik saat mereka bertemu mau fitting baju pengantin beberapa tahun lalu Ameera membanting laptop dengan sekuat tenaganya di samping Richard semua hancur berantakan menjadi bagian kecil dari bagian laptop yang pecah dan copot dari tempatnya lalu Ameera keluar tanpa permisi di luar terlihat Hanna juga Benny yang sama paniknya.


Ameera tak bertanya apapun, pada siapapun hanya menatap dan menunjuk muka Benny yang berusaha menghalanginya.


"Minggir! kalian berdua sama gilanya!" ucap Ameera di hadapan Benny dan Hanna.


Ameera berjalan pulang dengan amarah yang memuncak dan berjalan seperti begitu lambat padahal langkahnya panjang panjang.


Sampai rumah Ameera menghidupkan mobilnya. membereskan pakaian ke dalam koper dan tas besar semua pakaian Richie dan semua perlengkapan diangkut dimasukkan ke dalam bagasi mobil Bibi yang lagi mendorong-dorong Richie menghampirinya dan kelihatan Ameera beres-beres seperti tidak ada persiapan sebelumnya Kalau Neng Ameera mau pindahan.


Setelah masuk semua barang lalu Ameera mengajak Bibi naik mobil membawa Richie sekalian dalam gendongan Bibi.


"Baik Neng, tapi ke mana Kita?"


"Jalan jalan saja nanti juga tahu kalau sudah sampai."


"Pak Richard nggak diajak Neng?"


"Jangan sebut namanya di hadapanku! Aku sudah membencinya!"

__ADS_1


"Oh alah..."


Ameera menjalankan mobilnya dengan perlahan dan sampai jalan raya belok kanan lalau berjalan dengan sedikit ngebut.


Bibi hanya diam saja sambil memeluk Richie di belakang Ameera dan setelah jauh Ameera membelokkan mobilnya ke komplek sekolahan dan satu bangunan Yayasan Al Ikhlas milik Orangtuanya.


Ameera memarkir mobilnya dan turun duluan meninggalkan Bibi dan Richie di dalam mobil.


Yang pertama ditemui adalah Bapaknya begitu kaget karena tadi mereka bareng berangkat dari rumah sebelumnya tapi sekarang kayak mau pindahan mengikutinya. Setelah Ameera bicara lama Ameera berbicara kadang seperti bertengkar kadang juga terlihat diam-diaman mungkin sambil mereka berpikir apa ini yang terbaik karena menurut Ameera yang terbaik saat ini adalah menghindari Richard sebelum dirinya tahu dan mendapat jawaban dari semua permasalahan yang dirinya lihat di depan mata kepalanya sendiri di dalam kamar rumahnya di dalam kantornya juga Ameera sama sekali tidak membayangkan apa yang terjadi dengan suaminya selama ini?


"Ameera, kalau keputusanmu seperti itu Bapak hanya bisa menghargainya dan mengikuti keinginanmu kalau dirasa itu ya memang yang terbaik silakan tinggal di sini untuk sementara hanya untuk menenangkan diri dan kalau menurut Bapak bukan jalan keluar terbaik menghindari suamimu tetapi semua harus diselesaikan bagaimanapun pahitnya tetapi Bapak bisa apa seandainya Nak Richard nanti mencari mu?" ucap Haji Marzuki dengan bijaksana.


"Sampaikan tidak tahu apa-apa karena ini adalah urusan Rumah tanggaku Aku yang Akan menyelesaikannya dengan Richard seperti apa nanti jadinya tapi mungkin suatu waktu Aku akan berkonsultasi dengan Bapak juga Ibu Aku tidak akan mengambil keputusan sendiri dan tidak akan menganggap keputusanku itu adalah yang terbaik harus yang terbaik juga untuk keluarga dilihat dari maslahat dan manfaatnya." Ameera memberi alasan pada Bapaknya.


"Baiklah Anakku ajak Bibi sama cucu Bapak masuk nanti di persiapkan kamarnya sama penjaga."


********


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2