Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Annet yang kian bimbang


__ADS_3

"Zen gimana sudah dari undangan sore tadi?" ucap Annet sambil merangkul dan duduk di paha Zen.


"Sudah tapi tak bertemu Bos Richard, mereka sudah pergi duluan nggak balik lagi ke tempat resepsi, kata orang tua keduanya mereka istirahat karena kecapean dan orang tua mereka memintakan maaf kepada semua tamu undangan yang masih hadir sampai sore hari." jawab Zen sambil mengelus perut Annet yang masih rata.


Annet diam, membayangkan Richard kini telah menikah, dan akan menggauli istrinya sendiri akan seperti apa permainannya, Annet telah merasakan semuanya, begitu tak bisa di lupakan.


Mungkin seperti ini rasanya, seperti Annet. Pernah menikmati tapi tak bisa memiliki, harapan tinggal harapan kandas bersama mimpinya yang tak bertepi, seperti angin menerbangkan dedaunan yang gugur. Pernah nempel di satu dahan tapi kini lepas entah kemana hilang di terpa musim dan angin.


Semua tinggal masa lalu di tengah sesak ambisi yang belum tersampaikan, apalagi terealisasi, semua zonk tak bersisa sedikitpun celah untuk bisa memasukinya.


"Kamu nggak jadi jalan-jalan, nggak kemana-mana hari ini?" tanya Zen lagi sambil mencium leher Annet. Suara Zen begitu mengagetkan Annet yang sedang melamun.


"Aku hanya menunggu kamu Zen." jawab Annet sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Zen.


"Kenapa tak keluar? di sini kan suntuk, jenuh, kamu bisa belanja apapun." sergah Zen sambil mengelus dada Annet yang menyembul keluar menantang untuk di jamah.


"Aku tadi menelephon Jefry, Zen. Seperti yang aku duga dia tidak terima aku putuskan sepihak, marah dan mengancam aku sama kamu Zen, aku begitu takut dan khawatir, takut semua omongannya bukan sekedar gertakan saja."


"Apa kamu berterus terang?"

__ADS_1


Sudah aku katakan kalau aku sekarang hamil. Tapi dia nggak mau mengerti malah dia mengatakan akan pulang secepatnya akan menyelesaikan semuanya, aku mengkhawatirkan kamu Zen!"


ucap Annet di pelukan Zen.


"Tenang saja sayang kamu aman di sini, ada aku. Semua akan baik-baik saja."


"Zen, Jefry itu orangnya nekad, kamu harus berhati-hati apapun bisa dia lakukan juga pada siapapun, aku juga merasa takut karena aku merasa kita yang salah berkhianat di belakang dia."


"Tapi aku juga suka sama kamu Annet, walau aku sudah punya anak istri, aku juga tak mau begitu saja melepaskan kamu, tak akan!"


"Kapan kita bicara sama Ibuku? Apa kamu sudah bicara sama istrimu?" tanya Annet penuh selidik.


Rumah tangga yang begitu adem ayem tanpa masalah, walau Zen banyak berbohong soal usaha dan profesi pada istrinya.


Sikap dan tanggapan istrinya belum Zen bisa prediksi, akan seperti apa nantinya, Zen juga belum siap dengan keputusan istrinya apa tanggapannya A atau B?


Seperti dilemanya Annet saat ini, Jefri ataupun Zen bukan tujuannya tapi Richard. Ya, Richard sang flamboyan, tapi dirinya malah terjebak di dua laki laki yang bukan targetnya.


Pilihan pada Zen yang sudah punya anak istri? tak akan semulus itu rumahtangganya nanti, jelas itu. Annet hanya bagian dari kesenangan Zen dan Zen juga hanya pemuas hasrat Annet saja saat sendiri dalam frustasi dan di tinggal Jefry.

__ADS_1


Pilihan pada Jefry apalagi sesuatu yang nggak mungkin, dirinya kini mengandung anak orang lain, walaupun ada sedikit rasa cinta pada Jefry tetapi Annet mengesampingkan semua itu kemungkinan Jefry nggak bisa menerima kehamilannya.


"Aku akan bilang sama Ibuku, kalau kamu sudah mendapat jawaban dari istrimu Zen, minimal kamu sudah ngomong dan berterus-terang," ucap Annet sambil mengusap usap dada Zen.


Zen hanya diam, haruskah dirinya berterus-terang pada istrinya? apa tidak lebih baik menikahi Annet dulu? urusan istrinya murka atau ini itu akan jadi urusannya nanti.


Zen sedikitpun tak berniat memberitahukan semua hubungan dan selingkuhnya pada sang istri, karena tak punya balasan apapun untuk mengatakannya, Zen mengakui dirinya salah telak telah mengingkari janji setia juga janji pernikahannya.


Zen hanya menunggu Annet dan kandungannya besar lalu menuntut dirinya untuk menikahinya tanpa memberitahukan pada istrinya terlebih dahulu.


"Zen, apa kamu serius padaku? jadi kapan aku dapat jawaban kalau kamu sudah memberitahukan pada istrimu?"


"Menikah dulu juga nggak apa-apa Annet, aku tahu janin di dalam perutmu adalah milikku, nggak usah pikirkan sikap istriku karena itu urusanku, kita bilang sama Ibumu kita menikah sudah selesai," jawab Zen begitu gampang menanggapi semua masalahnya.


"Zen memang segampang itu?" ketus Annet.


"Ngapain di bikin sulit? bukan suatu yang sulit kok, bilang sama Ibumu, paling Ibumu marah tapi kalau tahu perutmu akan membesar pasti akan merestuinya. Sama istriku nanti aku akan bilang kalau kita sudah nikah paling memberi dua pilihan padaku dan istriku juga pasti penuh pertimbangan, kalau sudah ada anak diantara aku dan dia."


Zen bicara seolah begitu ringan masalah mereka, Annet membiarkan Zen membelai setiap lekuk tubuhnya. Seolah itu candu yang membuat Zen begitu tak bisa lepas dari pelukan Annet.

__ADS_1


"Sekarang beri aku kenikmatan dan kehangatan, aku begitu kangen malam ini, besok malam kita bicara ke rumah Ibumu."


__ADS_2