
Dua hari telah berlalu Richard selalu uring-uringan seperti malas apapun juga, hanya tiduran dan tiduran sambil memeluk Ameera.
Hanya kata ajakan dari Ameera yang di tunggunya, selain itu tak ada yang menarik hatinya.
Detik demi detik di tunggunya yang terasa begitu panjang dirasakan Richard.
Sorenya, sehabis Ameera mandi menanyakan mau tidur di mana malam ini, Richard hanya menyerahkan pada Ameera tanpa gairah mau tidur di manapun, mau di sini rumahnya Ameera lagi, mau di vila mereka atau di huniannya, Richard menjawab terserah.
"Kita sudah tidur di vila, tapi malah di jaga Mang Jaka, aku nggak enak masa tidur di jaga?
tidur di sini lagi kamu merasa nggak enak dan belum terbiasa, malu aja bawaannya." ucap Ameera sehabis mandi sore itu melihat Richard masih malas-malasan di tempat tidurnya sambil memeluk guling. Seharian hanya menahan hasratnya mengusut kan seprai tanpa berolahraga.
Menanti istri yang datang bulan begini rasanya, seperti menanti yang begitu lama tak kunjung datang, apalagi ini di awal pernikahan mereka yang di cita-citakan dan yang diharapkan kenyataannya begitu lain, memang tak sesuai dengan ekspektasi semua di kira Richard tidak akan ada hambatan tetapi semua malah menguji kesabarannya.
Semua bikin frustasi saja bagi Richard, begini salah begitu juga salah. Semua jadi serba salah dan itu benar-benar di perhatikan Ameera.
"Aku bukan malas tidurnya di mana-mana juga sayang, tapi nggak bisa bertahannya itu, kamu bisa merasa juga bukan?"
"Iya Rich sayang aku juga merasakan, aku juga sama manusia normal, aku sudah selesai sekarang. Lihat aku sudah bersih sudah mandi tapi aku mau tidur malam ini di tempat kamu itu, boleh? sepertinya menyenangkan tempatnya." tutur Ameera tersenyum menanti reaksi suaminya.
"Ameera? apa betul? kenapa nggak sekarang aja obati dulu dong keinginanku satu kali saja aku minta mau di sini sayang." Richard bangun mengunci pintu dan langsung memeluk Ameera."
__ADS_1
"Rich! jangan. Sebentar lagi maghrib nggak boleh melakukan di waktu sempit, aku baru saja mandi, masa mau sholat maghrib dan isya harus mandi lagi?" sergah Ameera sambil menarik Richard duduk di tepi tempat tidur.
"Ya ampuuuuun ... Ameera? lalu kapan bolehnya? kenapa sih, ayolah satu kali saja kita langgar?"
"Rich, tidur dan segala macam yang kita kerjakan itu ada aturannya, habis Isya baru kita bisa tenang itu waktu yang sangat ideal sampai menjelang subuh, habis subuh waktu menjelang siang begitu panjang kalau mau, dan habis sholat Dzuhur aku undang kamu lagi sampai menjelang ashar. Jadi begitu banyak waktu kenapa harus melanggar? dan kalau kita melanggar itu jelas akan merepotkan kita juga."
"Apa sih repot nya sayang tinggal mandi?"
"Rich, aku tahu kamu sayang aku, aku baru mandi, kalau mandi lagi apalagi keramas aku takut masuk angin mau malam mandi keramas dua kali lagi, aku mohon nanti ya! aku tak mau terburu-buru melakukannya, sekarang kamu mandi dandan seganteng mungkin karena kita akan melewatkannya malam ini, aku kangen kamu sayang," goda Ameera mengusap pipi Richard dan mencolek bibirnya.
"Baiklah sayang, aku mandi sekarang." Richard meloncat dari duduk bersila di tempat tidur dan keluar kamar menuju kamar mandi.
Ameera keluar kamar setelah berdandan, hanya belum mengenakan kerudungnya. Ibunya Haji Salamah merasa heran melihat putrinya sudah begitu rapi.
"Mau kemana? jangan bilang mau jalan-jalan, sebentar lagi juga maghrib, pergantian hari dari terang ke gelap jangan berada di luar rumah."
"Nggak Bu, aku mau pergi sehabis maghrib. Aku sama Rich mau ke hotel, aku mau menginap di sana di tempat Richard." Ameera bicara langsung pada Ibunya.
"Pergilah Ibu tak keberatan, kalian sudah jadi suami istri semua telah melegakan hati Ibu sama Bapak, tak ada kecemasan lagi di hati Ibu sama Bapakmu kini." tutur Ibu Salamah sambil menatap wajah putrinya.
"Iya, Bu. Rich mengajak aku ke tempatnya, aku menghargai ajakannya mungkin di sini juga dia masih merasa canggung dan perlu adaptasi." jawab Ameera memberi alasan.
__ADS_1
"Ibu mengerti, tak bisa menahan kalian untuk tinggal di manapun, ikutilah keinginan suamimu karena itu yang terbaik."
"Iya Bu, Ameera mengerti."
"Walau belum terbiasa lama-lama juga akan biasa, tapi kalau di sini yang senang Bapaknya jadi ada teman ngobrol dan ke mushola bersama." canda Ibu Haji salamah.
"Iya, Bu. Richard pasti akan membiasakan diri dengan kebiasaan keluarga kita."
"Makan dulu di sini berjamaah, habis isya saja ke sananya."
"Iya Bu, aku bilang dulu sama Richard."
Ameera balik ke kamarnya, Richard sudah berpakaian rapi, lagi menyisir rambutnya sambil bercermin.
"Rich, kata Ibu kita makan dulu di sini, baru kita bisa ke tempatmu habis isya. Kamu ke mushola magrib dulu sama Bapak lalu makan, aku siapkan ya."
"Oke, biar kita ke sana langsung tidur. Aku tidak lapar sebenarnya sayang, aku hanya ingin kamu!" Richard mengusap pipi Ameera.
"Rich, kamu dari pagi belum makan yang bener, makan nanti ya, aku nggak mau kamu pingsan nanti malam."
"Siap nyonya Richard! aku pasti makan."
__ADS_1