Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Pertemuan nggak sengaja.


__ADS_3

Richard mengusap mukanya yang sudah mulai tumbuh bulu-bulu di mukanya, menyadari dirinya lupa mengurus dirinya sendiri, mengurungkan niat memasuki mobilnya dan berubah haluan mau santai masuk ke barber shop langganannya untuk mencukur rambut dan membersihkan muka nya.


Baru saja mau melangkah satu sosok begitu di kenalnya keluar dari mobil dan satu orang lagi perempuan yang sama dandanannya. Richard langsung mengenalinya.


Begitu modis dan enak di pandang mata, sosok tinggi cantik walau dengan pakaian serba tertutup dan panjang tapi tetap kelihatan luwes dan menyejukkan hati.


Ameera memang cantik merubah cara pandang Richard, Richard pun tak mengerti entah dari sudut mana dirinya merasa suka dengan pembawaan Ameera, apa dari cara ngobrolnya? apa pintarnya? apa senyumny? apa cantiknya? entahlah.


Ameera ... sama siapa ya? seorang perempuan entah siapa, sama cantiknya hampir sama perawakannya.


Richard agak menghindar takut ada yang masih keluar dari dalam mobil takutnya seorang laki-laki yang mengiringi mereka tetapi setelah ditunggu beberapa saat mereka keluar dari mobil hanya berdua. Richard lega hatinya Ameera hanya berdua.


Richard mengambil langkah cepat menikung berjalan balik berputar ke belakang, berharap dengan mengambil jalan berputar agar mereka bisa bertemu berpapasan berhadapan seakan tidak sengaja. Otak Richard berjalan mulus soal taktik yang begituan.


Selain otak bisnis yang mumpuni di dirinya, otak taktik dan teknik juga nggak bisa di kalahkan siapapun temannya, itu diakui temannya terutama Jody teman playboy nya.


"Bu Ameera? iya kan Bu Ameera?" Richard menunjuk ke arah Ameera yang terkejut di hadapannya, sapaan Richard otomatis menahan langkahnya.


"Pak Richard? iya saya Ameera dan ini adik saya Aliyah." Ameera mengenalkan adiknya sambil merengkuh bahu Aliyah.


Aliyah melakukan salam jauh dari dada dan tersenyum mengangguk menatap Richard, lalu memandang Ameera seakan meminta penjelasan dengan mengangkat kedua alisnya.


"Ini Pak Richard pemilik The Rich Hotel tetangga vila kita Al, Kakak pernah datang ke hotelnya dan ngobrol banyak soal hotel dan lain-lainnya, membalas kunjungan Pak Benny utusan The Rich Hotel yang waktu itu mengunjungi vila kita." Ameera memberi penjelasan kepada adiknya Aliyah.


"Oh, ini yang namanya Pak Rich itu? di kira sudah tua seperti bapak-bapak, tak tahunya masih muda." Aliyah bicara jujur mengungkapkan salah perkiraannya.


"Hush! kami ini bicara apa?"

__ADS_1


Richard tersenyum memandang Kakak beradik di hadapannya.


"Pak Richard sendiri saja? mau kemana apa dari mana kok keluar Mall nggak bawa apa-apa?" Ameera bertanya dengan tersenyum. Memandang muka simpatik blasteran tinggi tegap di hadapannya.


"Oh, saya habis ketemu klien, saya memang sendiri belum punya teman, Bu Ameera sendiri kenapa malah pergi sama adiknya, kemana pendampingnya?" Richard malah balik bertanya dan penuh selidik pada Ameera.


Ameera bersemu merah, tapi bisa menguasai dirinya.


"Sa-saya juga status sendiri lagi." Ameera menjawab agak terbata.


"Oh, eh gimana kalau kita ngobrolnya di sana mau nggak? pokoknya jangan nolak aku yang akan traktir kalian, ayo! daripada di sini menghalangi jalan" Tanpa sadar Richard menarik tangan Ameera sebelum mendapatkan jawaban Ameera sudah mengikuti Richard yang menuntunnya memegang pergelangan tangannya dengan erat. Aliyah mengikutinya.


"Eh, Pak Richard maaf tangan saya tolong lepaskan!" Ameera setengah memaksa melepaskan tangannya dengan bantuan tangan kirinya setelah sampai di meja tempat makan dengan sajian makanan siap saji.


"Oh ya ampuuuuun ... maaf Bu Ameera saya sampai nggak sadar takut Bu Ameera menolak tadi itu, sakit ya tangannya?" Richard merasa bersalah melihat Ameera mengusap usap pergelangan tangannya yang agak kemerahan.


Richard menarik dua kursi satu buat Ameera satu lagi buat Aliyah.


"Silahkan duduk!" Richard bergaya menirukan pemain matador dengan satu tangan mempersilahkan dan sebelah tangannya di bawah punggungnya di belakang.


Ameera dan Aliyah merasa tersanjung, hanya mengangguk dan tersenyum.


Lalu Richard sendiri duduk di kursi yang ada di hadapannya di sebelah Ameera.


Seperti terkena hipnotis dengan serba tiba-tibaannya perlakuan Richard, Ameera sama Aliyah menurut saja, memang mereka mau makan pergi keluar jadi ya sekalian saja.


"Kalian mau belanja? pokoknya sekarang makan dulu belanjanya nanti saja, soalnya kebiasaan kaum perempuan kalau sudah belanja pasti lupa waktu, kalau makan dulu nanti belanjanya bisa tenang."

__ADS_1


Ameera tersenyum, sekilas memandang wajah tampan blasteran tinggi gede Richard, dadanya terasa menghangat.


"Bu Ameera nggak keberatan kan makan sama saya di sini? juga siapa tadi nama adiknya?" Richard pura-pura lupa nama Aliyah, padahal ingat, Richard hanya ingin memandang Ameera saat bicara yang kelihatan sangat manis dan menawan.


"Aliyah, nggak apa-apa saya sama Aliyah merasa bosan, mau keluar cari makanan sambil jalan-jalan, akhirnya merepotkan Pak Richard." Ameera bicara sopan.


"Merepotkan? nggak banget. Semua orang pasti merasa senang kalau pun bisa direpotkan oleh makhluk-makhluk cantik seperti kalian heee ... maaf saya suka bercanda."


"Ah, Pak Richard suka berlebihan."


"Kebetulan sama saya juga lagi suntuk di kantor, di telephon teman ketemu di sini, sudah ngobrolnya dia pamit mau pulang eh malah saya... ketemu Bu Ameera di sini, senang banget bisa makan bareng."


Aliyah merasa bersyukur melihat perubahan Kakaknya Ameera yang mulai bisa tersenyum lepas bahkan tertawa.


Bisa bersosialisasi dengan siapa saja mau membuka diri dan bisa keluar di tengah terpuruknya permasalahan rumah tangganya yang membuat keluarganya merasa khawatir.


Bahkan sudah datang ke hotelnya Pak Richard yang membuat perkenalan mereka menjadi lebih akrab.


Tadinya semua keluarga merasa khawatir takut Ameera tidak bisa keluar dari permasalahannya, menutup diri dan mengurung diri tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Aliyah yakin kakaknya bukan orang bodoh yang tidak bisa bangkit dari permasalahannya.


Terbukti Ameera bisa tersenyum bisa tertawa bisa ngobrol dengan orang luar bahkan dengan laki-laki yang belum begitu lama dikenalnya.


Semoga ini awal yang bagus dijalani Ameera bisa menata dirinya kembali bisa melakukan kegiatan yang positif yang pasti bisa melupakan semua kegagalan rumahtangganya yang kelam.


*****


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2