Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Tak biasanya


__ADS_3

"Gue makan siang dulu di kamar, nanti kita lanjutin diskusi kita, soal penawaran kerjasama Bu Ameera."


"Oke siap, Bos nggak jadi pecat aku kan?"


"Gue tampol lo baru tahu rasa! otak gue mumet, gue perlu refresh sebentar."


"Tapi bukan karena Bu Ameera kan?"


"Lo ngomong lagi gue jedotin kepala lo ke tembok Benny!"


"Haaaaaaaa ... ampun, baiklah aku makan duluan ke kantin."


Benny beranjak keluar ruangan Richard setengah terbirit-birit, jauh di lubuk hatinya merasa lega dirinya telah menyempilkan sedikit pesan di pertemuan antara Bu Ameera dengan Richard atasannya.


Benny sendiri ingin merubah tata kehidupan Richard dari yang sekarang dijalaninya untuk beranjak ke arah yang lebih baik lagi, hanya itu harapannya.


Walaupun itu begitu jauh dirasa Benny, tapi harapan selalu ada entah sampai kapan Bos Richard akan menjalani kehidupan seperti yang lebih baik lagi.


Sangat disayangkan berlimpah materi dan harta kekayaan, kemewahan Richard malah tenggelam dalam kehidupan yang kotor dan hina jauh dari jalur agama, jauh dari aturan agama. Dirinya juga bukan orang suci bukan orang yang benar tetapi setidaknya tidak menjalani kehidupan seperti Bos Richard yang hidup dengan bebas tanpa aturan.


Ingin rasanya sejak dulu Benny memberikan masukan tetapi kesempatan selalu tidak ada, tetapi kali ini ada jalan kenapa tidak Benny memberikan sedikit prinsipnya? kenapa dirinya sampai saat ini tidak pernah bermain perempuan? di depan ataupun belakang Richard, karena semata ingin menjadi pertanyaan Richard dan pemikiran Richard.


Benny ingin kehidupan sahabatnya itu berjalan seperti orang-orang pada umumnya, hidup normal punya keluarga dan hidup dengan tentram.


*****


Kamar hunian Richard.


"Halo sayang Rich! tebakanku berarti benar, makan siang pasti pulang ke sini."


"Halo Annet, aku penat banget, otakku mumet dan badanku letih."


"Wow, sejak kapan kamu lembek gini Rich? biasanya semangat sama stamina mu tetap strong setiap waktu."

__ADS_1


"Aku lagi banyak pekerjaan semua begitu menyita perhatianku, banyak program baru yang aku ingin merealisasikan tetapi belum menemukan jalan keluar juga. Banyak masukan dari manajer manajer hotel dan klab malam untuk menambah segala macam kelengkapan."


"Mau aku pijatin?" Annet manja memeluk sebelah lengan Richard.


"Boleh sayang, mungkin dengan cara begitu bisa meregangkan otot-otot tubuhku" Annet mulai mengusap dada Richard.


"Kamu bisa mengandalkan aku dalam hal ini. Karena itu aku berada di sini. Meregangkan juga menegangkan sesuatu di tubuhmu Rich!" Annet begitu luwes menjalani profesinya.


Richard tersenyum mengecup bibir Annet yang basah menantang, pijatan Annet telah beralih area, dan gesekan dada tak ber-pengaman di punggung Richard yang tak lagi berpakaian mau tidak mau membangkitkan gairahnya.


"Aku capek Annet, tapi kamu begitu menantang dan menggodaku, sehingga aku nggak tahan kalau nggak makan kamu sebagai pembuka makan siang ku." Tangan Richard mulai berkelana piknik sesukanya.


"Mau di mana?" Annet membuka kemejanya yang sudah setengahnya kancingnya terbuka.


"Aku mau di gazebo pojok itu"


"Oke, kita lakukan di manapun nyamannya."


Richard merengkuh bahu Annet yang hanya mengenakan underwear bawahan dan Richard hanya mengenakan celana boxer.


Richard menggigit satu pengaman dan di berikan pada Annet untuk memasangnya. Tapi bukan Annet kalau tak mencicipi dulu pembuka makan siangnya dengan melahap sesuatu yang sangat menantangnya di bawah perut Richard.


Richard tersenyum melihat pelayanan Annet yang sangat maksimal untuk memuaskan dirinya, Rich sangat suka dan senang di manja seperti ini, hingga sampai Richard mengerang panjang dan Annet pun terkulai dalam pelukan Richard dengan nafas yang begitu sulit untuk di normal kan.


Richard masih terlentang menatap langit-langit gazebo taman huniannya. Angin yang semilir di siang hari membuat Richard ngantuk kecapean.


Annet sudah bangun, mungkin mau berenang.


"Tidak juga, sebenarnya ini hal sangat biasa, tapi seharusnya Pak Richard tahu atau mungkin belum mempelajari kalau kita bukan mahramnya. Maaf saya sudah tahu nama Pak Richard dari Pak Benny."


Kata kata Ameera begitu empuk dan sangat terngiang di telinganya saat mengatakan kalau dirinya bukan mahramnya.


Sekarang Richard tahu apa itu mahram, orang yang tidak boleh di nikahi karena suatu pertalian darah, berarti begitu bersih dan suci seorang Ameera? yang menyentuh dia hanya laki-laki yang ada pertalian darah dengan dia seperti Bapaknya, Adik Kakak laki-lakinya dan lainnya.

__ADS_1


Begitu terjaga seorang Ameera, dia menerapkan aturan yang memang benar di pahami nya, bersumber dari hal yang benar yaitu agamanya.


Wajah Ameera melayang-layang tersenyum di langit-langit gazebo nya, seperti meledek kebodohannya akan ketidaktahuan pengetahuan agama yang selama ini tidak Richard sentuh.


Antara tidur dan kecapaian, Richard memejamkan matanya, seperti melihat titik kesedihan seorang Ameera dengan segala ketidaktahuannya.


Satu tetes air jatuh menyadarkan Richard dari lamunannya. Annet berada di atas kepalanya dengan rambut dan badan basah habis berenang.


Richard terperanjat dan mengusap dadanya, duduk dalam kekagetan yang luar biasa. Annet pun terkejut dan memegang bahu Richard.


"Rich, ada apa? kok seperti kaget banget?" Annet ikut terkejut.


Richard memandang Annet dari ujung kaki hingga ujung kepala yang basah dengan isi yang menyembul sebagian keluar pada over load dari tempatnya, pemandangan yang begitu indah nyata di depan mata tapi tak bisa membuat Richard tertarik untuk kedua kalinya.


Tanpa sepatah kata Richard beranjak masuk ruangan utamanya lalu menuju kamar mandi.


Meninggalkan Annet yang keheranan sendiri, masih duduk di gazebo dalam keadaan basah.


*****


Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like, vote dan beri hadiah ya! happy reading🙏❤️



Blurb :


"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.


"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"


"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.


"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"

__ADS_1


(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)


__ADS_2