Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Obsesi nakal Ameera


__ADS_3

'Kamu jangan main-main kamu itu di mana?' tanya Richard menelephon Andrea sambil melempar tubuhnya ke tempat tidur.


'Aku di rumahnya Kak Ameera tadi aku di jemput Aliyah pulang dia kuliah.'


'Hah? gue boleh nggak ke situ? coba ganti teleponnya jadi video call, gue pengen lihat Ameera.'


Terdengar suara Andrea mungkin sambil memberikan ponselnya sama Ameera.


"Kak Ameera, nih ada yang mau bicara."


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan yang mengaku dirinya paling ganteng!"


"Bilang aku lagi sibuk, nggak mau di ganggu, dan aku nggak mau bicara dulu nanti dia geer sendiri."


Andrea senyum-senyum sendiri mendengar jawaban Ameera.


"Andrea, fokuskan camera nya pada dia biar aku yang bicara." Andrea menaruh menyenderkan ponselnya di hadapan Ameera. Mau tidak mau Ameera bicara juga walaupun tak melihat wajah Richard di layar ponsel.


"Ameera! aku kangen dan aku juga tahu kamu juga pasti sama kangen padaku Ameera, boleh aku kesana sekarang?"


"Aku nggak, biasa saja!"


"Jangan bohong!"


"Tadi kan kita baru bertemu, ngapain bohong juga ngapain nelephon?" jawab Ameera ketus.


"Aku pengen lihat muka cemberut kamu, tapi bikin aku kangen, sumpah!"


"Aku nggak terima sumpah."


"Ya sudah terima aku ya, sekarang ake sana."


"Maksa!"

__ADS_1


"Kalau nggak di paksa kamu nya nggak akan ngerti."


"Silahkan saja mau ke sini tapi aku mau istirahat."


"Jutek banget sih jadi cewek, ramah kek dikit nanti aku cium."


Ameera tak menjawab dan membuang muka dari arah camera ponsel. Sesaat hening tak ada yang bicara.


"Tapi aku mau menjemput Andrea Ameera." pelan suara Richard.


"Alasan!"


"Memang."


"Oke aku mengalah, kalau kamu belum kangen sama aku biar nggak ketemu sekarang, tapi akan aku telephon tiap setengah jam sekali."


"Apa-apaan sih Richard?"


"Emang kenapa? nggak boleh?"


"Nggak!" Ameera mematikan ponsel Andrea dan berjalan ke arah Andrea dan Aliyah yang lagi makan cemilan sambil ngobrol dihalaman belakang. Menyodorkan ponsel pada Andrea.


"Sepertinya cocok nih buat doping berantem sama Kakakmu Andrea." jawab Ameera bercanda. Sambil duduk gabung sama Andrea juga Aliyah.


"Kenapa sih Kak harus berantem segala? mending menikmati kebersamaan daripada berantem, masalahnya apa sih katanya saling sayang, saling cinta jadi kapan dong mesranya?" sindir Aliyah sambil menatap Ameera Kakaknya.


"Terkadang untuk bisa mesra pasangan itu memang harus berantem Aliyah! itu tandanya dinamis dan nggak monoton, kalau segala seiring seirama nggak ada perbedaan dan konflik damai itu namanya nggak ada perang dunia satu dan dua." jawab Ameera sekenanya.


"Aku cuma nggak ngerti katanya saling cinta tapi ujung-ujungnya berantem berpisah bercerai aneh memang nggak ada yang bisa mengalah padahal itu demi cinta mereka." Aliyah memberikan pendapatnya, Andrea hanya senyum-senyum saja.


"itu menikmati cinta namanya Aliyah, jangan heran karena bagi sebagian orang berantem itu adalah bumbu dari cinta itu sendiri."


"Bukankan bumbu cinta itu cemburu Kak?" cecar Aliyah sambil menikmati cemilan pedasnya.


"Cemburu itu biangnya, ujung-ujungnya pasti berantem sama saja kan? kalian pada punya pacar nggak?" tanya Ameera memandang dua gadis di depan dan sampingnya.

__ADS_1


"Aku pacaran, tapi belum pernah berantem kok." jawab Aliyah jujur.


"Harus diperiksa kesehatan hubungan kamu itu Dek! kalau kamu nggak pernah berantem!"


"Ah, Kakak! masa gitu sih?"


"Emang begitu!"


"Kamu Andrea?"


"Aku pacaran tapi baru putus, sekarang status sedang mencari pengganti dan mencari yang serius, ganteng dan juga baik heee ...." jawab Andrea sambil diakhiri ketawa.


Mereka semua tertawa termasuk Ameera.


Ameera masih tersenyum mendengar jawaban Andrea yang sama polosnya seperti Aliyah, mungkin dirinya pada usia seperti itu juga tidak banyak berpikir dalam mencari pasangan hanya sekedar seorang pacar.


Tapi seiring kedewasaan apalagi dirinya sudah pernah gagal dalam rumah tangga menjadi lebih seleksi dan yang dikedepankan adalah kedewasaan dan tanggungjawab siapapun orangnya yang akan menjadi jodohnya harus panggilan hatinya yang bicara, merasa harus cocok dengan hatinya dan penilaian yang lain menjadi belakangan.


Richard adalah pilihan hatinya, walau tidak terlalu tahu masa lalunya seperti apa, buruk atau indah. Tetapi Ameera begitu terjerat pesonanya hingga dirinya tak kuasa untuk bisa melepaskan jerat-jerat benang itu, Ameera jatuh cinta pada pandangan pertama.


Walau Ameera mengakui pasti banyak orang yang tergila-gila sama Richard, dirinya juga tak bisa melepaskan diri dari daya pikat sang flamboyan blasteran itu.


Terkadang Ameera begitu merinding saat sedikit berkhayal liar imajinasinya tentang Richard. Mengingat betapa kekar tubuh dan perawakan Richard saat merengkuhnya, menciptakan kenyamanan bagi Ameera.


Ameera tak bisa berbohong pada dirinya sendiri, kalau dirinya juga sama seperti wanita yang lainya punya obsesi nakal akan pasangan idealnya.


******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2