
"Rich, bangun! aku sakit pinggang, perasaan perutku semakin berat saja," ucap Ameera sambil menggoyangkan lengan Richard yang tidur pulas di sampingnya.
Richard membuka mata dan mengucek nya, lalu mencium perut buncit istrinya dengan sayang.
"Ya sayang, kenapa kamu, mana yang sakit? apa mau lahiran? tapi kata dokter ini baru delapan bulan waktu kemarin di periksa, apa nanti kita periksa lagi?" jawab Richard cemas. Langsung mengusap perut Ameera dan mencium keningnya.
"Aku nggak suka lihat kamu tidur! aku pengen di usap-usap!" Ameera cemberut.
"Oh, ngomong dong ... mau di sayang? lebih dari di usap-usap juga boleh. Ini Mamanya apa bayinya di dalam yang manja nih? Lupa, semalam kamu nggak pegang burung aku ya? jadi paginya merajuk Papa tahu pasti itu penyebabnya, tapi tetap di suntik kan walau pelan-pelan?" Richard mengusap-usap perut istrinya, lalu menyasar ke daerah lain kemana tangannya suka.
"Ah kamu otaknya hanya main aja, nih anakmu mau disayang." sungut Ameera mengusap perutnya yang semakin gede saja dan tidur menyamping menghadap Richard.
"Punya Papa juga mau di sayang, semalam nggak di pegangin Mama jadi kedinginan mencari tempat ternyaman nya."
"Aku ngantuk banget, habis Papa ambil jatah malam langsung lep aja tidur."
"Iya, sampai nggak sempat selimutan. Ingat malam dingin banget, tapi kamu pulas banget tidurnya sayang." Richard mengusap membelai rambut Ameera.
__ADS_1
"Mau di tengok lagi pagi ini sayang, boleh ya? kata dokter juga boleh berhubungan suami istri kapanpun kalian mau asal nyaman hati-hati, malah buat memperlancar persalinan nanti," ucap Richard pada perut Ameera seakan bicara pada orang di hadapannya.
"Boleh aja, tapi kamu nyaman nggak dengan kondisi aku seperti ini?" Ameera bertanya pada Richard.
"Enak banget sayang, kan kita punya teknik bercinta kala istri hamil besar, aku menikmatinya malah sensasinya luar biasa, aku bisa menyenangkan istriku sekaligus menengok buah hati kita, tuh lihat pasti gagah seperti Papanya," ucap Richard sambil mencium perut Ameera bagian bawah.
"Aku geli saat bayi ini kontraksi Rich, tiap pagi semakin kencang saja gerakannya."
"Kalau lebih bawah lagi geli nggak?" tanya Richard sambil menurunkan lagi kepalanya lebih bawah.
"Itu tempat kesukaan kamu, senang banget berlama-lama di situ." jawab Ameera sambil meringis.
"Nanti kita ke dokter lagi ya, benar ada keluhan di pinggang kamu sayang?" Richard membelai kepala Ameera dan menggesekkan dadanya yang berbulu di muka Ameera
"Iya, tapi mungkin seiring beban semakin berat di perutku Rich."
"Nggak apa-apa kita konsultasi saja nanti, tapi kuat ya sekarang Papa tengok?" Richard merayu dengan mencium pipi Ameera, keinginannya selalu bangkit tiap pagi.
__ADS_1
"Tanya aja sana sama yang di dalam." jawab Ameera merasa lucu dengan tingkah Richard yang semakin kelihatan manjanya.
"Boleh dong Papa! soalnya Mama kedinginan pagi ini? harus olahraga sedikit, juga suplemen dan tambahan vitamin buat Mama tersayang," ucap Richard bertanya dan di jawab sendiri, lalu merambah dada Ameera yang semakin membesar seiring dengan kehamilannya yang akan mencapai puncaknya bulan depan.
Richard begitu senang berlama-lama di area itu, mencium mengelus dan menyesapnya tanpa bosan kuncup coklat muda yang semakin keluar.
Mereka menuntaskan kesenangan dan kenikmatan pagi dengan hentakan perlahan Richard dengan irama yang sangat hati-hati, tapi begitu di rasa tetap saja enak walau hasilnya sudah kelihatan di perut Ameera, Richard selalu memintanya dengan rayuan dan cumbu sayangnya, hingga Ameera begitu tak sanggup menolaknya, semua di nikmati tanpa bosan.
Saling menerima dan memberi sebagai ungkapan kasih sayang yang tiada terbatas, jawaban senyum Ameera saat Richard meminta jatah malam-malam nya, kadang pagi dan siang juga selalu menyempatkan mencharger senjata miliknya yang selalu ingin memperlihatkan keperkasaannya, Richard begitu senang tak ada penolakan dari istrinya setiap kali dirinya menagih burungnya minta di sayang, keduanya menyadari mereka doyan main.
Richard mengerti kesehatan Ameera adalah yang utama, sebatas nggak merasakan apa-apa mereka menjalani saja.
Kesempurnaan berumah tangga mereka rasakan, tak ada yang melarang kapanpun mereka mau, dan mereka melakukannya dengan tanpa beban karena mereka halal, bahkan Ameera menjalani semua itu dengan niat ibadah selain memuaskan suaminya juga kesenangannya.
"Rasa-rasa sayang apa sakit nggak segini?" bisik Richard di telinga Ameera dengan nafas ngos-ngosan memburu dan begitu tersengal.
"Enggak kok sayang, entah kenapa aku hamil sudah gede gini tapi masih merasakan nikmat aja saat berhubungan." Ameera menghalangi tubuh Richard yang bergerak di atasnya dengan tangannya takut terlalu menekan pada perutnya.
__ADS_1
"Itulah kelebihan permainanku sayang, selalu enak dan bikin kecanduan, aku ingin mencetak makhluk cantik dan ganteng di rahimmu seperti Papa sama Mamanya."