Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Akal-akalan Richard


__ADS_3

Di tengah jalan Richard menghentikan Benny yang sedang menyetir mobil.


"Masya Allah Benny, Aku lupa kalau kamu itu harus ke hotel yang ada di kota hari ini, Aku sudah janji sama manajer di sana kalau kamu saja yang datang hari ini ke sana, mungkin dia lagi nunggu sekarang, jadi sekarang kamu ke sana saja biar aku yang meneruskan bawa mobil, naik angkot saja ke hotel dulu biar cepat kalau nggak temui dulu Hanna bicara sama dia urusannya apa."


ucap Richard dengan tiba-tiba.


'Akal bulus apalagi ini? pintar banget si Bos cari alasan' pikir Benny.


Benny membuka sabuk pengaman, dan mengerem tangan.


"Sudah gitu aja Bos? memang sudah di sampaikan semuanya pada Hanna?"


"Sudah tadi pagi, tapi aku lupa menyampaikan sama kamu, ajak juga Hanna nggak apa-apa."


Ameera tak berkata apapun, hanya sedikit heran kenapa semua serba mendadak, apa benar yang di ucapkan Richard pada Benny atau alasan saja, Richard mau berduaan saja? Ameera sedikit curiga tapi diam saja karena masih ada Benny.


'Kalau memang Benny berhalangan kenapa perjalanan ke proyek di lanjutkan? bukankah Benny tadinya yang ingin tahu dan melihat proyek itu? Ameera baru kepikiran sekarang.


"Bu Ameera tolong duduknya pindah ke depan." Richard memberi perintah sambil dirinya juga turun mau pindah ke jok kemudi.


Richard membuka pintu bagi Ameera dan menyodorkan tangannya, Ameera menyambutnya, Richard tersenyum penuh kemenangan.


Richard bicara sebentar sama Benny sebelum masuk ke mobil, entah apa yang di bicarakannya hanya terlihat Benny menganggukan kepala lalu menyetop angkot dan berlalu duluan.


Richard masuk ke mobil dan duduk di samping Ameera.


"Kamu pintar banget cari alasan Rich!" ucap Ameera.


"Harus pintar memang sayang, seperti kamu yang begitu pintar menebak hatiku, kita jadi berduaan bisa ketemu, jalan bareng. Sekarang mau ke mana?" Richard tangannya menangkap tangan Ameera. Ameera hanya diam tangannya di genggam Richard dan Richard menatapnya dalam-dalam sehingga Ameera merasa malu.


"Sebenarnya begini juga duduk ngobrol di mobil aku senang banget Ameera, aku kangen banget dari semalam aku kurang tidur gara-gara kamu!" Richard tersenyum sambil melirik Ameera yang hanya diam, tangan Richard masih menggenggam sebelah tangan Ameera.


"Aku kangen Ameera, setidaknya katakan sesuatu padaku!" ucap Richard lagi.

__ADS_1


"Apa yang harus aku katakan? A-aku seperti kehilangan kata-kata saat berada di dekatmu hanya itu, Richard."


"Ameera, jujur aku baru merasakan jatuh cinta yang seperti ini, aku tidak tahu akan seperti apa tapi hatiku tak bisa dipungkiri aku menginginkan kamu jadi milikku, mengajakmu untuk menjadi istriku, dan langkah awal aku begitu serius ingin terbuka pada kedua orang tua kita tentang hubungan ini, jadi kapan semua jawaban itu bisa kudapatkan?" Richard meremas jemari Ameera.


Ameera hatinya menghangat. Penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran mengharumkan setiap sudut dalam hatinya, merasa tersanjung merasa menjadi orang yang berarti, dicintai sama orang yang cintanya.


"Rich, aku hanya bisa kasih kamu jawaban sabar, semua ada saatnya, beri aku waktu untuk fokus dulu sama pekerjaan proyek kita dan juga selama masa iddah belum selesai mustahil kita akan bisa bersatu dalam ikatan resmi, karena semua itu tidak baik dan tidak di benarkan bagi seorang perempuan."


"Aku cinta kamu Ameera! aku selalu akan sabar mengikuti aturan dan keinginanmu, walau aku begitu nggak sabar ingin segera membawa kamu dan mengenalkan pada kedua orang tuaku dan juga saudaraku. Aku tak bisa bayangkan bahagianya mereka." Richard bicara sambil menatap wajah cantik yang menjadi bayangannya kini.


"Richard jujur aku juga mencintaimu, aku tak bisa membantah dan menolak hatiku sendiri kalau aku jatuh hati pada pandangan pertama waktu kita bertemu." jawab Ameera, merona kedua pipinya.


"Ameera, cinta seperti apa yang harus aku berikan padamu? rasanya aku bukan orang yang akan mampu membahagiakan kamu, tapi hatiku juga begitu kuat terpaku tak bisa berpaling lagi, jadi aku akan berusaha memberi cinta yang paling baik untukmu."


"Aku tidak menuntut apapun darimu Richard, cukup kita saling mencintai apa adanya, tanpa masa lalu, juga tanpa sisa cinta yang lain diantara kita, hanya ada aku kamu dan cinta kita, masa depan yang kita perjuangkan saat ini, itu keinginanku. Kita jalani dengan niat yang baik, bersama kita jaga perasaan kita, kita rajut harapan kita dan semoga suatu saat kita bisa mewujudkan semua rasa kita ini dalam satu ikatan yang halal."


"Ah, Ameera begitu tenang saat dekat denganmu, kamu begitu sempurna dimataku menyempurnakan setiap waktu cinta di hati ini, membulatkan tekad dan akan berusaha untuk bisa wujudkan semua impian bersatu kita. Aamiin Ameera!"


Sejenak hening ... Richard dan Ameera sibuk dengan hati mereka.


Begitu berharganya seorang Amira dimata Richard, sanggup memalingkan hatinya sanggup merubah prinsipnya sanggup membawa dirinya masuk pada kehidupan Ameera, dan mengikuti segala aturan.


"Ameera maaf, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


"Apa itu Rich?"


"Bolehkah aku menyentuhmu, lebih dari menggenggam tanganmu ini? aku hanya ingin mengekspresikan rasa sayang dan perasaanku saja, agar kamu tahu betapa besar cintaku padamu."


Ameera tersenyum, dan melepaskan tangannya dari genggaman Richard.


"Rich, keinginan semua orang seperti itu, termasuk aku! sekali lagi termasuk aku! tapi kalau kita mengikuti keinginan berarti kita tidak bisa membedakan mana sesuatu yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, aku juga sama Richard manusia biasa punya keinginan punya rasa tetapi kita sama-sama sabar apa salahnya? kita lakukan sekarang ataupun nanti jawabannya hanya kepuasan saja yang hanya sesaat, kenapa kita tidak melatih sabar dan ikhlas menjalaninya seandainya itu pilihan yang harus kita jalani?" Ameera tersenyum memandang dalam laki-laki di sampingnya.


"Maafkan aku Ameera."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Semua orang berhak mengekspresikan segala rasa karena itu adalah hak kita dicintai dan mencintai, tetapi kenapa kita harus melanggar aturan? padahal akan ada saatnya kita bebas melakukannya. Semua yang kita lakukan dengan melanggar aturan tidak akan ada kata puas, tetapi kalau kita lakukan tanpa beban saat kita telah sah menjadi suami istri itu akan kita lalui dengan rasa syukur dan ikhlas saling mencintai dengan tulus."


Richard terpekur dalam kesadaran tiap kata-kata yang dikeluarkan Ameera selalu kena di hatinya, selalu memberikan pengakuan kepada hatinya yang terdalam kalau dirinya begitu banyak dosa dan begitu ingin keluar dari semua permasalahannya.


"Ameera apa aku terlalu egois?"


"Kenapa bicara begitu?"


"Karena belum lama kita jadian aku terlalu banyak permintaan sama kamu."


"Tapi tidak semua permintaan aku kabulkan kan?"


"Ameera!"


Tangan Richard menyentuh sebelah pipi halus Ameera, Ameera menangkapnya, mencium tangan itu dan membimbingnya menepatkan tangan Richard di stir mobil.


"Kita ke proyek Rich!"


"Baiklah."


******


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2