Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Pulang


__ADS_3

Sebuah mobil memasuki pelataran rumah yang begitu asri rimbun dan luas, seorang sopir turun duluan dan membukakan pintu bagi seseorang yang duduk di belakang jok mobil.


Seorang perempuan berkacamata coklat dengan busana muslim lengkap selendang yang di jadikan penutup dada dan pundaknya, begitu modis turun dengan tas senada dengan pakaiannya.


Seorang Ibu dan Bapak-bapak keluar rumah saat deru mobil memasuki pelataran halaman depannya, tergopoh-gopoh menyambut kedatangan putri mereka yang baru datang di jemput sopir keluarganya di terminal Baranang Bintang Kota Hujan.


Di jemput dari terminal bus kedatangan dan keberangkatan terminal luar kota, antar kota antar propinsi.


Perjalanan semalaman membuat Ameera merasa lelah tapi semua terobati saat bertemu dengan keluarganya dan semua orang tercintanya, Pak H. Marzuki Bapaknya, Ibu Hj. Salamah Ibunya dan Aliyah Hidayati Marzuki adik perempuan satu-satunya yang masih kuliah baru semester dua.


Ameera membuka kacamatanya, saat melihat Ibunya menyambutnya sambil menangis. Memeluknya melepas kangen setelah kurang lebih dua tahun setengah mereka berpisah. Dan hanya berkomunikasi lewat telephon video call lewat ponsel.


Lelah habis menempuh jarak antara kota Surabaya Jawa Timur dengan kota Bogor Jawa Barat, di jalanan umum adalah — 781.02 km atau 484.23 mil. Jarak yang lumayan sangat jauh untuk perjalanan darat. Untuk melintasi jarak ini dengan kecepatan kendaraan rata-rata 80 km / jam membutuhkan — 8.3 jam atau 495.8 menit.


Dengan kemacetan dan hambatan tak terduga lainnya, juga waktu istirahat di perjalanan Ameera sampai rumah kurang lebih dua belas jam.


Semua rasa capek dan lelah hilang sudah, berganti dengan kebahagiaan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Rumah masa kecil dan tempat kelahirannya, juga memori dan kenangan masa lalunya Ameera ada disini.


Ameera juga menangis di pelukan Ibunya, rasa sedih begitu bergelayut di dalam hatinya, entah karena dirinya gagal mengikuti keinginan orangtuanya untuk membina rumah tangga yang bahagia sesuai harapan kedua orangtuanya, entah menyesal dan menyalahkan kedua orangtuanya karena Ameera menurut saat Ameera di pertemukan dengan anak seorang sahabat lama Bapaknya yaitu Fathir Fadhil Hikmawan yang kemudian mereka mau di nikahkan.


Dua tahun setengah lebih Ameera menikah dengan Fathir, awalnya mereka begitu bahagia dan hidup bersama dalam ikatan rumahtangga pada umumnya, walau belum kelihatan tanda-tanda kalau Amira mengandung dan akan memiliki buah cinta mereka.


Ameera harus mengubur masa depan dan cita-citanya untuk menjadi seorang dosen lulusan luar negeri karena semua keburu di perkenalkan orangtuanya dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi suaminya.


Dua tahun setengah Ameera ikut suaminya ke kota Surabaya paska menikah, suaminya Fathir adalah seorang direktur di perusahaan milik keluarganya. Masih di bidang perhotelan seperti yang Bapaknya geluti sampai masa tuanya sekarang.


Ameera menjalani rumah tangganya tanpa ada satupun permasalahan antara dirinya dengan suaminya. Tetapi kesini-sini Ameera mulai menangkap satu keganjilan di diri suaminya yang berawal pada kecurigaan dan akhirnya terbongkar juga kalau suaminya telah memiliki seorang istri bahkan seorang anak dari seorang sekretarisnya yang di nikahi setelah dirinya.

__ADS_1


Berarti Ameera di hianatinl sudah lebih dari setahun dan mungkin masih di tahun-tahun pertama pernikahannya.


Yang di sayangkan Ameera adalah kenapa Fathir tak berterus terang saat dulu mereka akan menikah? kalau Mas Fathir sudah punya pacar, sehingga tak akan terjadi cerita seperti ini.


Saat semua Ameera pertanyakan pada suaminya, Fathir hanya menjawab tak sanggup menolak keinginan kedua orangtuanya.


Kecewa dan merasa dikhianati tanpa banyak mengeluarkan tuntutan apapun mengingat mertuanya adalah teman Bapaknya, akhirnya Ameera tunduk pada kenyataan mereka berpisah secara baik-baik dan Ameera pulang tanpa diantar Fathir mantan suaminya setelah mereka resmi bercerai.


Tak ada emosi di wajah Ameera, semua tampak datar saja. Karena untuk apa? toh semua telah terjadi, tak bisa di ulang dan semua seperti telah menjadi satu garis takdir dirinya harus menjadi seorang janda di usianya sekarang.


Haruskah Ameera marah pada kedua orangtuanya? menyalahkan, karena telah menjodohkannya dengan Fathir Fadhil Hikmawan?


Semua orangtua berharap yang terbaik bagi semua anaknya, tetapi masa depan tidak ada yang bisa pasti meramalkan akan terjadinya seperti apa, hanya punya pandangan dan perkiraan awal begitu serasinya antara Amira dan Fathir. Seandainya mereka berjodoh dan dijodohkan terus mereka mau dan mereka menjalaninya akan menjadi satu keluarga yang sangat di idam-idamkan kedua belah pihak antara keluarganya Fathir dan keluarganya Ameera.


Fathir yang begitu kalem, tampan dan punya usaha yang begitu mumpuni tak sedikitpun pada awalnya mengundang kecurigaan Ameera.


"Nak, kamu sudah datang ayo masuk." Pak H. Marzuki merengkuh sebelah pundak Ameera dan sebelah lagi di rengkuh Ibunya.


Sebelumnya Ameera mencium punggung tangan Bapaknya dengan tetesan airmata, tanpa sepatah katapun yang terucap.


Ameera di papahnya masuk rumah. Mereka duduk di sofa keluarga dengan perasaannya masing masing-masing.


"Istirahatlah dulu Nak, kamu kelihatan capek banget, habis perjalanan jauh semalaman." Pak H. Marzuki menatap putri kesayangannya saksi perjalanan cintanya dengan istri tercintanya. Kini putrinya kelihatan mendung dan gagal dalam rumahtangganya karena satu penghianatan yang tidak bisa di maafkan.


"Maafkan Ameera Pak, Bu ..., Ameera tak bisa menjadi yang terbaik harapan Ibu sama Bapak."


"Jangan bicara meminta maaf anakku, itu akan menjadi semakin merasa bersalah Bapak sama Ibu, justru Bapak sama Ibumu yang harusnya meminta maaf tak bisa mencarikan teman hidup yang baik buat kamu."

__ADS_1


"Bapak sama Ibu sebagai orangtua tidak salah di mata Ameera, tetapi mungkin nasib dan takdir Ameera saja yang membawa Ameera pada kenyataan yang tak bisa Ameera terima. Ameera tak sanggup kalau harus di madu Bu, Ameera tidak siap dan mungkin tak bisa ikhlas."


"Sudahlah Nak, Ibu mengerti perasaanmu. Tatap masa depanmu mulai sekarang, Ibu sama Bapak janji kepadamu dan juga adikmu, tak akan menjodohkan kalian dengan siapapun lagi. Cukup sampai disini cerita perjodohan walaupun semua diawali dengan niat baik." Ibu Hj. Salamah mengusap airmatanya.


"Bapak tak akan melarang apapun keinginanmu mulai sekarang, selama itu yang terbaik buat kamu, mau meneruskan kuliah ke Mesir silahkan, mau meneruskan mengurus vila di sini silahkan, juga mau mengembangkan pertanian dan agrowisata yang mulai Bapak rintis silahkan."


"Ameera belum bisa memutuskan apapun Pak, Ameera hanya ingin istirahat dan menenangkan diri, merefresh pikiran yang terasa panas setiap hari."


"Lakukan yang terbaik buat diri sendiri, lakukan apapun yang bisa menyenangkan dirimu."


Sopir menyimpan tiga koper pakaian Ameera dan segala perlengkapannya di dekat sofa keluarga. Ameera menatap koper itu dengan perasaan hancur dan perih.


Semua pakaiannya yang di bawa dari sini yang di bawanya kembali. Semua pakaian yang di belinya setelah menikah tak satupun yang di bawanya. Ameera benar-benar ingin melupakan masa lalu rumahtangganya yang seperti mimpi buruk dalam hidupnya.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :


- Meniti Pelangi


- Pesona Aryanti


- Biarkan Aku Memilih


- Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2