
"Bang mau ngapain? aku malu ada keluargamu, kita dalam kamar berdua." Hanna merasa risih sendiri.
"Mereka sibuk dengan urusannya, aku kangen kamu Hanna, kenapa baru sekarang kita bisa begini? padahal kita sudah lama bersama-sama?" Dengan tatapan dan sorot mata begitu membuat Hanna deg-degan.
"A-aku sebenarnya sudah lama menaruh hati pada Abang, tapi aku malu takut hanya perasaanku saja." Hanna mulai jujur.
"Memang jatuh cinta sangat aneh, apalagi kapan waktunya datang kita tidak tahu." Benny tersenyum mengusap pipi Hanna.
"Iya Bang."
"Hanna, boleh aku cium sedikit aja bibirmu sebelum kamu aku antar pulang?" Benny memegang kedua tangan Hanna yang sama-sama duduk di tempat tidur.
"Aku harus jawab apa?" Hanna merasa malu, walaupun dirinya lebih pengalaman karena pernah berumah tangga tapi gagal.
"Heeee ... iya ya, susah juga kalau di pinta."
Benny mendekatkan wajahnya dan mulai menyentuh bibir merah yang selalu di pandangnya saat mereka kerja di satu ruangan.
Hanna tak menolak, malah membalasnya dengan kehangatan seperti menantang Benny untuk lebih lama dan lebih dalam lagi mereka menikmati sentuhan penuh rasa itu.
"Tunggu sayang, aku tutup pintu dulu." Benny melepaskan ciumannya dan menutup pintu lalu menguncinya.
Benny kembali menyergap Hanna dalam pelukan dan ciuman panas, seperti ingin memperlihatkan kemampuan kalau dirinya juga lelaki sejati yang doyan perempuan, seperti sering di ledek Bos mereka Richard.
"Hanna!"
__ADS_1
"Iya Bang."
Benny semakin berani mencium leher Hanna dan menyelusupkan mukanya di dada Hanna, menenggelamkan wajahnya dan berlama-lama di situ.
"Bang, kalau lama-lama di situ aku nggak kuat juga, nanti kita takut kebablasan." Hanna memberi peringatan dan lampu merah. Sekedar peringatan dini kalau mereka salah satunya nggak ada yang ingat pasti akan terjadi.
"Hanna? begini rasanya jatuh cinta itu? aku begitu nggak tahan mau melepaskan semuanya." Benny semakin erat memeluk dan mencium bibir Hanna, dan merambah daerah tutupan lainnya.
"Bang, jangan, jangan! kita belum jadi suami istri, aku nggak mau, aku takut Bang!"
Mereka berpelukan di tempat tidur kamar Benny, Hanna mendorong dada Benny biar sedikit menjauh. Mereka melepaskan pelukan dan Hanna memperbaiki pakaiannya yang tanpa di sadari sudah terbuka bagian depannya.
Benny mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, begitu juga Hanna. Mereka merasa bersalah. Tak berani berpandangan
"Maafkan aku Hanna, aku hampir khilaf." Benny duluan menyadari kesalahannya.
Benny memeluk Hanna dan mereka duduk kembali di tepi tempat tidur.
"Hanna, kita tak boleh begini terus, suatu hari pasti kita kebablasan, aku punya ide bagaimana kalau kita nikah siri dulu? sebelum kita menikah secara resmi, biar kita bisa melakukannya gimana?" Benny mengusap sambil merengkuh bahu Hanna.
"Kenapa harus nikah siri Bang? kenapa kita tidak langsung menikah secara resmi saja, walaupun aku tidak akan menuntut apapun karena aku mencintai Abang."
"Aku bisa dan sanggup Hanna, walau harus nikah langsung juga, tapi kenapa kita tidak siri saja dulu takutnya sering kita bertemu bersama aku merasa tidak tahan seperti barusan, sambil kita mempersiapkan nikah secara resmi."
"Iya ya Bang, nanti aku ngobrol dulu sama Kakakku, kalau Kakakku membolehkan kita nikah siri saja dulu. Tapi aku nggak ngerti seperti apa nikah siri itu?"
__ADS_1
"Hanna, nikah siri adalah prosesi akad nikah yang sudah mengikuti syarat dan aturan dalam agama Islam sehingga pernikahan tersebut sah di mata agama. Namun yang membedakan adalah mereka yang menikah siri tidak mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Urusan Agama. Untuk melakukan nikah siri juga ada syaratnya loh, meskipun memang syaratnya jauh lebih mudah dibanding dengan menikah secara legal. Syarat untuk melakukan nikah siri antara lain adanya wali nikah serta dua orang saksi dalam prosesi ijab qabul."
"Bang, tapi kita nanti nikah seperti biasa kan?" Hanna masih merasa belum yakin.
"Ya ampun Hanna, ya iya lah ini hanya jaga-jaga takut kita seperti tadi lalu kebablasan, kalau sudah nikah kita bebas melakukannya karena sudah sah menurut agama."
"Aku takut Bang."
"Nikah siri memang banyak terjadi di mana-mana Hanna. Alasannya tentu berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi sang calon pengantin. Kalau kamu belum yakin jangan kalau nggak kita konsultasi dulu sama yang tahu soal ini gimana?"
"Iya Bang baiknya seperti itu, karena aku merasa ada yang aku takutkan seandainya kita nanti nikah siri, sambil aku meminta restu Kakakku yang akan jadi wali nikahku nanti."
"Aku tidak akan memaksa kamu Hanna, aku mencintaimu dengan tulus, jadi kalau memang tawaranku kurang berkenan di hatimu jangan kamu lakukan, aku ingin menjalani semua dengan nyaman."
*****
Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya :
❤️Meniti Pelangi
❤️Pesona Aryanti
❤️Biarkan Aku Memilih
❤️Masa Lalu Sang Presdir
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏