Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Mantap berpisah


__ADS_3

"Ameera, duduklah. Bapak mau bicara sekali lagi." ucap Haji Marzuki sambil menatap wajah Ameera.


Ameera duduk di hadapan Bapaknya juga Ibunya di ruang keluarga saat mertuanya sudah pulang dan Fathir sudah masuk kamarnya.


Ameera menatap Bapaknya, biasanya kalau tidak ada perlu-perlu amat Bapaknya tidak akan memanggil dirinya untuk bicara serius mungkin ini menyangkut masalah Mas Fathir yang sekarang lagi ada di rumahnya.


Mungkin juga masalah dirinya, tapi Ameera tidak tahu sebenarnya apa yang akan di bicarakan Bapaknya saat ini.


"Bapak bertanya padamu, apa kamu berhubungan dengan Pak Richard?" ujar Haji Marzuki penuh selidik.


Deg! Ameera tak menyangka kalau Bapaknya sudah menangkap firasat atau mungkin Bapaknya tahu dari Ibunya yang waktu mediasi di teras belakang Fathir sama Ibunya juga dirinya Ameera mengatakan untuk menghentikan perdebatan mengatakan kalau dirinya sudah ada calon. Tapi Ameera tak menyangka Bapaknya akan bicara secepat itu.


"Ya! Ameera berhubungan dengan Pak Richard, kami sepakat sama sama tertarik dan punya tujuan baik kedepannya" jawab Ameera begitu tegas.


Bapaknya menarik nafas panjang sambil melihat Hj Salamah istrinya. Seakan meyakinkan kalau yang mereka obrolkan selama ini benar adanya.


"Berarti Aliyah benar, kalau melihat kamu sering keluar berdua, bertemu berdua dengan alasan ke proyek," ucap Haji Marzuki sambil menatap putrinya dan meneliti muka cantiknya.


"Tapi kami profesional, urusan pekerjaan tak akan terbengkalai, malah memacu kami segera menyelesaikan semua urusan pekerjaan proyek, dan Pak Richard ingin serius melamar Ameera. Apa pendapat Bapak sama Ibu? Jadi sekalian saja Ameera bicara sama Bapak juga Ibu, karena Bapak telah bertanya duluan" tutur Ameera begitu percaya diri.


"Ameera, ada apa? kenapa jadi begini? bicara seolah semuanya sudah usai, padahal masih ada Mas Fathir di sini. Bapak hanya ingin kamu jangan berbicara jauh dulu tentang hubungan dengan siapapun, coba pikirkan dulu lagi baik buruknya kamu pisah dengan Nak Fathir." tutur Haji Marzuki seakan tak senang anaknya berhubungan dengan Richard.


"Bukankah Bapak yang bertanya? Ameera jawab dengan sejujurnya. Ameera memang benar ada hubungan dengan Pak Richard, sedang urusan dengan Mas Fathir sudah jelas Ameera anggap semuanya telah selesai, Ameera tak mau kembali lagi ke masa lalu, cukup sampai disini, semua begitu rumit untuk di jalani." tutur Ameera seakan malas untuk bicara tentang masa lalunya.

__ADS_1


"Ameera, kita harus tahu dulu orang itu, siapa keluarganya, dan yang terpenting bagaimana keyakinannya?"


"Pak, Bu, kenapa saat Pak Richard mau kerjasama di proyek kita seakan nggak ada masalah? tapi saat tahu Ameera ada hubungan sama Pak Richard seakan penuh tanda tanya?"


"Ameera, hal terpenting dalam satu hubungan yang akan menuju ke arah serius yaitu masalah keyakinan, itu mutlak tak bisa di tawar lagi harus satu keyakinan, Dua, apa orang itu jelas asal usulnya? dari mana asalnya mana keturunannya siapa kedua orangtuanya? karena semua akan menjadi jelasnya masa depanmu yang akan di jalani."


Ameera diam, hanya diam mendengar kata-kata Bapaknya bicara selanjutnya.


"Jangan samakan antara bisnis atau usaha dan hubungan pertalian pernikahan semua sangat berbeda, bisnis bisa dengan siapa saja selama itu menguntungkan selama kita masih bisa berpegang pada aturan masih bisa saling percaya saling mendukung tetapi hubungan rumah tangga harus punya pondasi yang jelas apalagi menyangkut siap yang akan menjadi kepala keluarga bagi anakku nanti dan imam yang benar bagi keluarganya." tutur Pak Haji Marzuki panjang lebar.


"Bagi Ameera bisnis sama saja dengan pernikahan, hanya ada poin lain yang menyangkut keyakinan. Harus saling jujur, terbuka dan saling menguntungkan dan saling menyenagkan. Saling memberi dan melindungi bukan mengambil keuntungan dari pernikahan itu untuk kepentingan sendiri! Ameera telah bulat nggak mau rujuk sama Mas Fathir, tapi bukan karena alasan hubungan Ameera dengan Pak Richard, itu gak ada hubungannya, jadi Bapak sama Ibu jangan terlalu berharap semua akan kembali seperti yang Ibu Bapak harapkan."


"Ameera, Bapak tidak bisa menghalangi Nak Fathir untuk tinggal di sini dan berusaha membujuk mu, biarlah dia berusaha sendiri meyakinkanmu. Bapak sudah mendengar pendapatmu, itu dapat Bapak pahami mungkin itu pilihanmu dan semoga itu yang terbaik walaupun perceraian dihalalkan tetapi tetap saja di benci di mata Allah."


"Kenapa Mas Fathir masih mau tinggal di sini? sedangkan berkali-kali Ameera sudah mengatakan tidak akan ada yang namanya rujuk." sanggah Ameera tak begitu senang dengan keberadaan Mas Fathir di tengah-tangah keluarganya.


"Ameera sudah final nggak mau ada mediasi lagi, Ameera tidak mau dipaksa siapapun, apalagi harus rujuk, suatu kebohongan tak akan bisa menutup kebohongan itu sendiri."


"Bapak hanya minta jaga sikapmu selama Nak Fathir ada di sini, kita harus menghargai usaha yang dia lakukan, semua bertujuan baik. Bapaknya Haji Jalaludin juga tidak berharap apa-apa dari mediasi ini, hanya ingin tahu usaha anaknya Nak Fathir sampai di mana? juga memberi pelajaran saja, mereka menerima kalau pihak mereka bersalah, semua menyerahkan kepadamu Ameera."


"Baiklah, Ameera akan berusaha bersikap baik, tapi kalau Mas Fathir nya juga bersikap baik juga pada Ameera." pinta Ameera.


"Bapak juga akan mengawasinya, jangan sampai dia melewati batas yang di perbolehkan, Bapak tak bisa bersikap tegas pada dia karena Bapak akrab sejak dia kecil."

__ADS_1


"Semua tak jadi jaminan menjadi yang lebih baik Pak, kenal dan dekat sejak kecil juga, pada akhirnya hanya kecewa yang dia berikan pada kita." tutur Ameera mengingatkan Bapaknya.


"Tapi orangtua selalu ingin yang terbaik buat anaknya, setidaknya Fathir mengerti agama dan dari keluarga baik-baik, semua tahu aturan dan itu juga pilihan yang diambil masih dalam batas wajar seorang laki-laki, cuman dari pihak kita yang tidak bisa menerima." Haji Marzuki seakan merasa sayang harus kehilangan menantunya.


"Ameera bukan orang yang setuju dengan yang namanya poligami walaupun itu ada dasar hukumnya tetapi Ameera bukan orang yang bisa ikhlas mungkin satu kesalahan juga. Semua bertentangan dengan prinsip pribadi Ameera. Makanya Ameera lebih baik mengundurkan diri secara baik-baik."


"Bapak juga sama tidak setuju dengan yang namanya poligami walau ada dalam aturan agama kita, tapi setiap orang pasti punya pandangannya masing-masing dan berbeda terhadap keputusan yang diambil, Bapak hargai juga keputusanmu itu."


Haji Marzuki lupa kalau Ameera sudah dewasa, sekolah dan kuliah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat, setidaknya anaknya punya prinsip kuat dan bisa bicara tegas di hadapan dirinya.


Ameera yang sangat di sayangnya tadinya berharap yang terbaik dalam rumah tangganya, bisa memiliki seorang suami yang baik, mapan dan punya masa depan untuk bisa meneruskan usahanya kelak juga dalam keimanan tak bisa di ragukan lagi karena Fathir adalah anak sahabatnya yang cukup dikenal dekat, tapi semua tak jadi jaminan harmonis dalam rumahtangganya.


"Tidurlah sudah malam, jangan banyak pikiran." ucap Haji Marzuki mengakhiri pembicaraan malam itu dengan Ameera.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih

__ADS_1


❤️Masa Lalu Sang Presdir


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2