
Sudah Annet duga, Jefry tak terima tapi dirinya sudah memberitahukannya, semakin dilema saja Aneet dalam menghadapai masalahnya sendiri.
Jefry orangnya begitu nekad, tapi Zen juga bukan orang biasa yang punya banyak anak buah juga mata-mata di mana-mana.
Ancaman Jef harus segera Annet sampaikan kepada Zen, takut gertakan Jefri bukan gertakan biasa seandainya Jef gelap mata dan tak terkendali mungkin dirinya juga akan terseret begitu jauh dalam kasus ini.
Semakin runyam saja masalah Annet membuat dirinya malas untuk keluar dari kamar apartemen, hanya termangu berjalan tak ada yang bisa dikerjakannya.
Annet mencoba menelephon Loka yang sejak menikah mereka belum bertemu atau bertelepon sekedar ngobrol.
Nada sambung telephon berdering di ponsel Annet, lama nggak di angkat hingga mati dan putus sendiri. Annet mencoba lagi dan lagi sambil menggerutu sendiri sampai akhirnya dijawab Loka dengan permintaan maaf duluan.
"Halo Annet, maaf aku lama angkat telephonnya." ucap Loka merasa bersalah. Sifatnya masih sama saja selalu merendah.
"Lo emang lelet apa-apa juga, emang lagi ngapain?" jawab Annet seperti biasa nadanya agak songong, tapi itu biasa di dengar Loka. Annet juga biasa bersikap sepertu itu tak menjadikan masalah diantara mereka.
"Oh, eh tadi aku lagu ada di bawah tanggung."
"Lo lagi masak?"
"Bukan, aku lagi ada di bawah Mas Jody."
"Ya ampuuuuun, lo lagi main ya?jadi gue ganggu lo dong?"
"Enggak kok udahan, biasa Mas Jody suka minta tambahan sebelum mandi dan pergi ke kantornya." jawab Loka sangat jujur.
"Lo sudah merasakan enaknya main sekarang ya? sampai ada partai tambahan segala." Annet merasa geli sendiri.
__ADS_1
"Begitulah, seperti makan ternyata, sudah kenyang capek tapi kalau dekat mau lagi mau lagi heee ...." ucap Loka begitu lugu tanpa menutupi bicara apa adanya.
"Annet kamu gimana khabarnya? masih di kost-kostan yang baru itu?"
"Udah lama enggak, sudah pindah mungkin aku juga akan keluar kerja di klab malam The Rich Hotel."
"Kenapa? bukannya kamu begitu senang kerja di sana?" ucap Loka merasa heran, karena Annet begitu menyukai pekerjaan sebagai penyanyi.
"Aku mulai berpikir lain Loka, di pindah kerja emang nggak enak rasanya."
"Bukankah kerja di mana-mana juga sama Annet?"
"Mungkin aku cocoknya di The Rich Hotel yang kemarin Loka."
"Kan temanmu itu Bos Richard nya juga mau menikah besok kamu di undang nggak?"
"Aku kayaknya pergi sama Mas Jody soalnya waktu aku nikah Bos Richard juga datang sama calonnya namanya Ameera, kamu sudah kenal?" ucap Loka begitu polosnya.
"Kenal di mana? orang mana dia cewek bodoh itu?" jawab Loka seenaknya saja menilai orang lain bodoh.
"Tuh tahu, kalau tak tahu mana mungkin kamu bisa bilang bodoh."
"Ah, kamu nggak ngerti, ngomong jadi nggak nyambung, ganti ngobrolnya. Suamimu sudah berangkat?"
"Belum lagi mandi."
"Gimana permainannya memuaskan nggak?"
__ADS_1
"Maksud kamu puas itu apanya?"
"Ya ampuuuuun ... Loka, puas itu apa? gue jadi bingung ngobrol begini sama lo!"
"Sepertinya kamu Annet yang aneh kamu yang tanya kamu yang bingung sendiri."
"Maksud gue waktu mainnya suka lama?"
"Lama lah malah suka aku capek duluan, tapi Mas Jody masih saja kuat aku biarkan dia main sepuasnya sampai lemas sendiri."
Annet tersenyum membayangkan Loka kecapekan melayani suaminya sendiri, sampai Loka biarkan suaminya menyelesaikan sendiri.
"Annet, sudah dulu ya aku mau temani Mas Jody sarapan, tapi kalau kamu masih mau ngobrol kita sambung lagi nanti."
"Oke Loka, nanti aku telephon lagi, tapi cuci dulu tuh bekas suamimu pakai!"
"Heeee ... iya lah, masa nggak di cuci? bekas kita makan saja piring mesti di cuci biar nanti di pakai lagi sudah bersih."
"Mulai pintar kamu!"
"Heeee ... kamu berkata seperti Mas Jody saja Annet. Udah dulu ya, Salamualaikum."
"Waalaikum salaam."
Annet termangu rasanya belum kenyang ngobrol sama Loka, walau banyak nggak nyambungnya tapi rasanya senang saja.
Sejenak melupakan akan masalahnya sendiri, begitu ingin annet ngobrol berlama-lama bersama Loka tapi Loka kini sudah memiliki seorang suami kegiatannya sudah rutin dilakukan seperti layaknya seorang Ibu-Ibu lainnya yang habis waktunya di rumah, setia menunggu suaminya pulang kerja, melayani segala keperluannya, mengurus anak-anak mereka dan pekerjaan seorang ibu tak jauh dari sumur dapur dan kasur, itu yang Annet tidak suka.
__ADS_1
Serasa hidup dalam kungkungan, tak sesuai dengan prinsipnya dan keinginannya yang menganut kebebasan dalam segala hal baik pekerjaan dan penghasilan yang paling utama, Annet menginginkan penghasilan untuk semua kesenangannya, karena terbiasa hidup enak dan nyaman seperti saat masih hidup bersama Richard.