
"Ameera aku kangen banget boleh kita ketemu sekarang?" ucap Richard sedikit manja.
"Eh, bukankah tadi siang kita bertemu, makan siang bareng, juga ngobrolnya sampai hampir sore?"
"Tapi aku mau bertemu sekedar melihat wajah cantik kamu, suara lembut kamu, dan pegangan tangan sama kamu." Richard bicara sambil membayangkan kembali wajah Ameera.
"Kita ngobrolnya di telepon saja dulu ya? Richard, kita memang harus jaga diri dulu, sepertinya ada sedikit warning dari orang tuaku waktu aku pulang tadi sore." Ameera bicara serius.
"Ada apa Ameera?" tanya Richard kaget mendengarnya.
"Nggak terlalu serius cuman aku di tanya saja sama Bapakku karena memang aku juga salah dalam hal ini, salahnya saat tadi siang kita pergi makan meninggalkan Pak Bagas sendiri di vila."
"Salahnya di mana Ameera? Pak Bagas diajak juga bukan?" Richard tak mau kekasihnya di salahkan.
"Richard, secara etika menurut pandangan Bapakku itu satu kesalahan, apalagi kita terang-terangan pergi berdua saja, sepertinya Bapakku mulai ada pandangan lain pada kita Rich."
"Itu tak mengapa Ameera, asalkan kita berdua saling cinta semua pasti bisa kita lewati." Richard membesarkan hati Ameera
"Hanya belum kenal terlalu jauh saja menurut aku Rich, tak seperti Bapakku mengenal Pak Bagas."
"Aku sudah menangkap satu sinyal dari awal kenalan dengan Pak Bagas itu Ameera, aku melihat sorot matanya, saat kamu bicara Pak Bagas selalu memandangmu, pokoknya aku nggak mau siapapun mencintaimu selain aku Ameera!"
"Iya, aku juga jatuh hati sama kamu Rich!" jawab Ameera di ujung telephon sana.
Richard terasa melambung, duduk berdiri, jalan-jalan tiduran dan mondar-mandir nggak bisa tenang, hatinya begitu bergetar dan berbunga mendengar ucapan Ameera, kalau dirinya juga sama-sama jatuh hati.
"Ameera aku bahagia banget, belum pernah aku se-bahagia saat ini, katakan sekali lagi Ameera sayang." Richard bicara begitu mesra seakan Ameera ada di depan matanya.
"Ah Richard, aku malu."
__ADS_1
"Kenapa malu sayang? kan cuman ada kita berdua di sini, apa kamu di dalam kamar? lagian kan kita hanya bicara lewat telepon."
"Iya Rich, aku nggak tahu, kenapa harus jatuh cinta sama kamu?"
"Ameera biar aku yang katakan dan jawab ya! Ameera aku juga sama jatuh hati pada pandangan pertama , kamu adalah inspirasi ku. Aku begitu serius dengan keputusanku, Aku ingin memilikimu segera, sekarang aku orang yang paling bahagia Ameera, aku nggak mau pacaran sama kamu, aku nggak mau lama-lama, kalau memungkinkan semuanya aku akan segera melamarmu." ucap Richard begitu tegas.
"Rich, itu juga harapanku, aku tak bisa menolak untuk tidak jatuh hati sama kamu!" Ameera semakin berani bicara apa karena di telephon?
"Ameera, walau aku belum bisa menyentuhmu, memeluk mencium kamu sebagai ekspresi perasaan sayangku padamu, tapi mendengar suaramu juga aku begitu bahagia dan rasanya ingin menyelesaikan bangunan impian kamu di salah satu sudut agrowisata itu, biar kita sama-sama bangun pagi melihat mentari pagi bersama dan memandang senja sampai matahari tenggelam di kegelapan malam." Richard mendadak menjadi romantis, membuat Amira merasa diatas awan dan hatinya penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran.
"Rich?"
"Apa hemght?"
"Aku mohon mulai besok kita jaga jarak ya!"
"Makasih Rich, kamu memang begitu mengerti."
"Ameera, aku membayangkan kalau nanti kita sudah sah suatu saat kamu ada di tempatku kini, aku nggak bisa bayangkan kebahagiaanku nanti."
"Apa Kamu sudah siap dengan kehadiran orang lain di tempat pribadimu."
"Ameera yang aku inginkan hanya kamu, aku akan membangun suasana baru di tempat hunian ku ini, dan begitu banyak perubahan perombakan total di hotelku agar suatu saat kamu datang ke sini merasa nyaman."
"Semoga itu semua jadi kenyataan Rich"
"Harus Ameera! semua akan aku perjuangkan karena aku pikir kita telah memiliki modal yang sangat besar yaitu kita yang saling mencintai, jadi kita sama-sama punya modal untuk meraih impian kita, pinta apapun padaku Amira aku akan dengan senang hati melakukan apapun dan memberikan apapun selagi aku mampu. Aku akan membangun mushola, aku akan merombak semua hunian ku agar suasana baru kita berdua saja yang menempati suatu saat nanti."
"Kenapa sampai segitunya Rich?
__ADS_1
"Aku ingin mencintaimu dengan sempurna Ameera dan aku akan menyempurnakan nya dengan segala kemampuan ku, ingin membangun masa depan bersamamu, membawamu pada kebahagiaan."
"Richard, kita bukan remaja lagi tapi kalau jatuh cinta adalah hak semua orang, tak pandang usia dan status"
"Justru karena kita sudah dewasa jadi pilihan kita akan matang dan serius walaupun sedikit pertimbangan, kapan aku bisa memelukmu di sini sayang? rasanya aku begitu tak sabar."
"Rich, jangan bicara merayu dan menggodaku seperti itu, semua tak baik Rich, hanya mengundang hasrat yang belum saatnya." jawab Ameera mengingatkan Richard.
"Maaf Ameera, tapi itu kenyataannya, kenapa kamu begitu menarik kenapa kamu begitu cantik? sehingga Aku terperangkap jangan terjerat oleh pesonamu."
"Aaaaw ... Richard jangan terlalu banyak memuji, aku merasa biasa saja kok."
"Bagiku tidak biasa Ameera, tapi luar biasa."
******
Sambil nunggu up Masa Lalu Sang Presdir boleh mampir dan baca karya yang satu ini, jangan lupa like vote dan beri hadiah ya happy reading🙏❤️
Blurb :
Mengisahkan tentang seorang gadis desa bernama Raina Anastasya yang merasa hidupnya dipenuhi kesialan. Dipaksa menikah di usia belasan tahun. Tak boleh mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan perempuan tak perlu terpelajar karena tugas wajibnya hanya 3 yaitu (macak, masak, dan manak). Pergi ke kota orang dengan harapan bisa untuk menghilangkan nasib buruknya. Namun, kenyataannya kesialan itu tetap mengikuti kemana pun kakinya melangkah.
Tak ada yang indah di dalam hidupnya, begitu pun dengan perjalanan cintanya.
Lantas bagaimana Raina berdamai dengan diri sendiri dan keadaan?
Temukan jawabannya di jawabannya di Diary Usang!
__ADS_1