Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Sabar Nak Richard


__ADS_3

"Pak, pokoknya malam ini Aku mohon mau minta tolong tunjukkan Ameera di mana karena masalah sudah terlalu berlarut larut Aku ingin menjelaskan semuanya!" ucap Richard pada keluarga Ameera Haji Marzuki, Ibu Hj Salamah dan juga Aliyah yang duduk di sofa keluarga Ameera.


"Baik Nak Richard besok Bapak mau telepon Nak Ameera dulu bagaimana pendapatnya, mungkin sudah bisa tenang dan mau bicara sama Bapak." jawab Haji Marzuki sambil senyum menatap menantunya yang kelihatannya tak sabaran.


"Aku mau malam ini! kenapa seakan semua tahu tapi menyembunyikan dariku?" ucap Richard emosi.


"Sabar Nak Richard beri Bapak waktu untuk menyampaikan keinginan dari Nak Richard dulu Bapak yakin Ameera bisa mengerti. Sebenarnya sampai saat ini juga Ameera belum pernah mengadu apapun pada Ibu pada Bapak ataupun pada Aliyah tapi suatu waktu pasti semua akan terbuka masalahnya seperti apa hingga Ameera seperti membenci Nak Richard," jawab Pak Haji Marzuki begutu santai.


Richard menatap satu persatu keluarga Ameera yang semua tak berani menatap raut menentang Bapaknya.


"Kenapa Bapak tidak bisa menelepon sekarang? biar Aku sama Benny bisa dengar suaranya dan apa Ameera juga Richie baik baik saja?"


"Baik Nak Richard Kita coba telpon sekarang tapi ingat nanti kalau Ameera mau bicara Bapak kasih kesempatan Nak Richard bicara, tapi kalau Ameera masih menolak biar Bapak saja yang bicara."

__ADS_1


"Silahkan Pak!"


"Aliyah ambilkan ponselnya Bapak di meja kerja."


Aliyah langsung berdiri dan tak lama keluar dengan menyodorkan ponsel pada Bapaknya.


"Ini nomor baru biasanya kalau habis Isya sudah tidak aktif lagi, mungkin capek seharian mengurus Bayi atau sudah ketiduran," gumam Haji Marzuki sambil matanya memilih satu nomor.


Setelah di coba memang sudah tidak aktifkan lagi. Pak Haji Marzuki memperlihatkan nada sambung di layar ponselnya pada Richard.


"Besok Bapak telepon Nak Ameera kalau nggak suruh bertemu Bapak di Yayasan. Akan Bapak sampaikan pesan Nak Richard barusan, tidurlah di sini biar Ameera tahu nanti saat Bapak telpon kalau Nak Richard mau bicara," ucap Haji Marzuki sambil mengangguk.


"Tadi sore Aku melihat Ameera tapi itu juga tidak jelas keluar dari salon besar yang di depan Mall saat Aku sama Benny lagi makan di atas."

__ADS_1


"Iya Kak Ameera memang salon langganannya di situ," sahut Aliyah


"Iya Aku yakin Itu Ameera karena Aku juga merasa kenal dengan mobilnya walaupun plat nomornya tidak jelas!"


"Sebenarnya Ameera beraktivitas biasa cuman karena masalahnya masih marah dan tidak mau bertemu Nak Richard yang dihindari. Mungkin baiknya Nak Richard saat ini memang perlu meluruskan semuanya. Sudahlah ambil hikmah dari semua ini Kita luruskan mulai besok dan Bapak juga tidak mau berlarut-larut masalah ini Bapak juga merasa tidak tenang tetapi di satu sisi Bapak harus menghargai keputusan Nak Ameera sendiri jadi sama-sama bertawakal dalam menghadapi masalah apapun insha Allah semua ada jalan keluarnya. Sebenarnya Nak Ameera mungkin hanya marah jadi Bapak tidak bisa ikut campur silakan pada saatnya nanti selesaikan dengan baik-baik."


"Iya Pak hanya salah paham dan semua berasal dari kesalahanku sendiri namanya di hotel usaha Aku di bidang itu harusnya Ameera lebih mengerti."


"Ada yang melum di pahami satu sama lain diantara kalian mungkin Nak Richard atau juga Nak Ameera nya instrospeksi diri nanti Bapak yang bicara..."


Richard tak bisa marah lagi, dan tak bisa bicara apapun selain mengikuti keinginan Ameera dan apa yang di sampaikan mertuanya sabar, tawakal, dan introspeksi diri.


__ADS_1


*******


Sambil menunggu kelanjutan MASA LALU SANG PRESDIR, Baca juga ya, Pesona Aryanti, Biarkan Aku Memilih, Meniti Pelangi, Cinta Di Atas Perjanjian, Noda Kelam Masa Lalu, By Enis Sudrajat 🙏❤️


__ADS_2