Masa Lalu Sang Presdir

Masa Lalu Sang Presdir
Niat meminang


__ADS_3

"Alhamdulillah, terimakasih Pak Haji juga Bu Haji, aku merasa tak sabar memberitahukan semua khabar ini pada Ameera juga orangtua ku, bolehkah aku pinjam Ameera besok untuk di kenalkan pada orangtuaku?"


"Tidak boleh! orangtuamu yang akan datang kesini, Nak Richard bisa perkenalkan di sini saja." kata-kata Haji Marzuki begitu kedengaran tegas dan jelas.


"Baiklah, Aku akan secepatnya mengabari orangtuaku. Maaf pak Haji permisi dulu mau telephon Ameera, tak sabar rasanya ingin melihat senyumnya." Richard kelihatan seperti baru remaja dan di beri restu orangtuanya mau pacaran. Mukanya tampak lucu dan tak henti-hentinya mengumbar senyum, serasa telah melewati sebuah rintangan dan sebentar lagi semua impiannya akan menjadi kenyataan.


"Jangan di telephon!" sergah Haji Marzuki.


"Lho, kenapa Pak Haji?"


"Nak Richard kan di ruang tamu, sedang Ameera ada di kamarnya, biar Ibu saja yang panggilkan dia buat apa di telephon? boros boros pulsa!"


Richard tertawa, menyadari semuanya. Sambil membayangkan Ameera tersenyum di hadapannya.


Kalau bukan di hadapan orangtuanya sudah pasti Richard akan memeluknya.


"Tak apa Pak Haji, aku punya banyak persediaan pulsa, Aku merasa di ingin berbagi kebahagiaan ini, apapun akan aku berikan buat Ameera."


"Boleh Nak Richard telephon, tapi apa tak mau bertemu langsung dengan Ameera?"


"Wah, mau banget Pak Haji, boleh aku ke kamarnya sekarang? nggak jadi telephon ah ...!"


"Nggak boleh! biar Ibu yang panggilkan Ameera ke sini."


"Eh, iya Pak Haji."


"Itu artinya jangan terlalu berlebihan dalam bersikap kalau masih bisa bertemu kenapa harus telepon? kalau masih bisa ngomong baik-baik kenapa harus adu jotos? Cintailah Ameera dengan sewajarnya, dia manusia biasa yang punya kekurangan dan kelebihan, kamu menyayanginya apalagi kami sebagai orangtuanya, bahagiakan dia karena aku merasa sebagai orangtua belum memberi kebahagiaan pada dia."


Richard diam menyadari semua tindakannya memang berlebihan, tapi dirinya memang memperlakukan Ameera dengan sangat istimewa bahkan Richard begitu kagum dalam segala hal terhadap Ameera. Tak ada yang tidak untuk Ameera, hati dan semua rasa didalam sanubarinya terkuras semua untuk Ameera, Richard begitu menjaganya, jangankan melihat Ameera. bersedih dan terluka, melihat Ameera sedikit murung juga Richard tidak mau.


"Bu tolong panggilkan Ameera ke sini, kalau Ibu yang bicara pasti dia mau keluar." titah Haji Marzuki pada Ibu Haji Salamah.


Ibu Haji Salamah bangkit dan tersenyum berjalan menuju kamar putrinya.


"Ameera sayang ...."


tok tok tok


"Ini Ibu, buka pintunya Nak Ibu mau bicara."


Lama pintu sepi saja tak ada pergerakan, hanya sepi saja.


tok tok tok


"Ameera ...."

__ADS_1


Suara pintu di buka, dan anak kunci di putar begitu kedengaran di depan Ibu Haji Salamah.


Ameera membuka pintu dengan perasaan enggan dengan muka masih begitu di tekuk dan ngambek.


"Keluar ada yang mau bicara padamu sayang."


"Apalagi Bu?"


"Sini keluar, Bapakmu tidak marah, hanya menyayangkan saja kejadian tadi sore, Bapak juga tidak menyalahkan kamu ataupun Nak Richard."


"Tapi kenapa Bapak seakan bicara menyalahkan dan menyudutkan Richard sama aku Bu? apa Bapak nggak senang dengan Richard? Ameera mencintainya Bu."


"Bapakmu hanya menguji kalian sayang, keluarlah ada yang ingin di bicarakan Bapakmu, tentang yang di sampaikan Richard pada Bapak."


"Apa Bu? Ameera nggak ngerti"


"Makanya ayo ke sini."


Ibu Haji Salamah menuntun tangan Ameera di bawa kembali kembali ke ruang tamu di mana Pak Haji Marzuki dan Richard masih ngobrol di situ.


Melihat Ameera datang Richard begitu tak sabar langsung memeluknya, Ameera meronta dan mendorong Richard, Haji Marzuki geleng-geleng kepala, dan Haji Salamah hanya bengong sambil tersenyum.


"Ameera aku sudah bicara sama Bapak, aku akan segera membawa orangtuaku untuk melamarmu." Richard tak melepaskan Ameera, begitu bahagia mengekspresikan kebahagiaannya.


"Richard! ah ... apa-apaan?" sergah Ameera merasa malu di hadapan kedua orangtuanya.


"Bapak nggak habis pikir di depan Bapak sama Ibu kamu begitu berani, tak benar ini semua harus segera di halalkan!"


"Astagfirullah, maafkan saya pak Haji lupa! saking bahagianya, maafkan aku Ameera. Benar itu Pak Haji memang harus segera di halalkan."


"Sudah, sudah! duduklah."


"Ameera, Nak Richard sudah bicara sama Bapak kalau dia mau meminang kamu dan ingin segera menjadikanmu belahan hatinya, Bapak hanya ingin bertanya apa benar kalian saling tertarik, saling sayang? sama-sama punya niat baik untuk membangun rumah tangga?"


Ameera menatap Richard seakan tak percaya seperti apa omongan Richard tadi pada kedua orang tuanya, Ameera merasa tidak yakin.


"Iya Ameera, aku sudah mengatakan niat dan keinginanku, mereka menerima hanya menunggu jawaban darimu saja, kamu juga setuju kan kalau kita akan serius?" ucap Richard begitu dekat di telinga Ameera.


Ameera merasa belum percaya memandang bergiliran pada Bapak, Ibu serta Richard. Semua tampak begitu meyakinkan.


Ameera mengangguk di hadapan Bapaknya, kebahagiaan Richard begitu kelihatan. Mukanya sumringah berbinar, Begitu juga Ameera mukanya merona merah, yang tadinya dirinya merasa kesal di kira Bapaknya ingin membahas soal kejadian tadi sore.


"Pak Haji, tadinya Ameera mengajak aku serius sampai proyek itu selesai, mungkin ingin melihat dulu keseriusanku tapi kenapa semua tidak berjalan saja bersama? itu akan lebih baik buat kami berdua."


"Nggak apa-apa, Bapak merestui kalian tinggal menunggu restu dari orang tua Nak Richard, bawa mereka ke sini biar berkenalan sama Bapak dan Nak Richard bisa memperkenalkan Ameera pada mereka."

__ADS_1


"Besok juga aku akan ke Bandung Pak Haji."


"Ya, boleh aku tunggu kedatangan Nak Richard dengan niat baik bersama orangtuanya, sekarang boleh pulang, maaf kalian belum saatnya berduaan, nanti akan ada saatnya kalian mau ngapa-ngapain juga boleh."


"Iya Pak Haji, saya permisi dulu dan mohon diri. Ameera aku pulang dulu besok akh akan bawa kabar buatmu."


Ameera mengangguk, tersenyum begitu manis karena bahagia, Ingin rasanya Richard yang memeluk Ameera untuk menenangkan hatinya yang tak ada bahagia sebahagia malam ini.


Richard berlalu ke arah pintu diiringi Ameera setelah bersalaman dengan Pak Haji Marzuki dan Ibu Haji Salamah.


"Ameera."


"Hemght ...."


"Aku telephon nanti ya!"


"Heemght ...."


Richard memberi salam dengan enggan, rasanya ingin berduaan saja semalaman dan tiap hari harinya, tak ada kata puas memandang wajahnya Ameera, ngobrol apapun dan segala hal dengan Ameera, dan ujung-ujungnya tak tahan untuk tak menyentuhnya sekedar memegang tangan dan jemarinya.


Memeluk Ameera adalah kebahagiaan buat Richard, menciumnya dengan lembut hanya ingin memperlihatkan rasa sayang dan cintanya yang tak begitu terbatas buat Ameera, saat berdua saat yang begitu di damba Richard setiap waktu, dengan melihat Ameera serasa Richard begitu bersemangat dalam hal apapun.


"Aku pulang dulu, kita berkhayal nanti ya, cepet masuk kamar, aku ingin segera bicara sama kamu."


"Dasar orang aneh! saat ini huga kita lagi bicara kenapa kamu begitu senang bicara di telepon?"


"Karena aku bisa merayu mu sayang, memujimu dan sekaligus aku mengkhayalkan sesuatu yang begitu indah di dirimu."


"Huh!"


"Haaa ...."


Richard berlalu dari pandangan Ameera yang mengantarnya sampai pintu gerbang halaman rumahnya.


*****


Baca juga Karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2